Ambon, suaradamai.com – Pasca perayaan Idul Fitri, seruan persaudaraan kembali mengemuka. Partai Gerindra Provinsi Maluku memanfaatkan momentum Halal Bihalal di Islamic Center Ambon, Selasa (7/4), untuk menegaskan pentingnya harmoni sosial yang tidak berhenti pada simbol, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat.
Kegiatan yang turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, ini diisi dengan pembagian sembako dan santunan kepada warga. Namun, lebih dari sekadar agenda seremonial, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi sosial dan politik di tengah dinamika pembangunan daerah.
Ketua DPD Gerindra Maluku yang juga Gubernur, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa Halal Bihalal harus dimaknai sebagai kerja bersama membangun daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kekuatan relasi sosial di tingkat akar rumput.
“Pembangunan daerah tidak akan berjalan tanpa sinergi politik yang kuat dan dukungan masyarakat yang solid,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Maluku, dengan keragaman suku dan agama, membutuhkan upaya terus-menerus untuk merawat kepercayaan sosial. Dalam konteks itu, nilai-nilai persaudaraan—baik ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, maupun ukhuwah basyariyah—harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar retorika.
Tiga hal menjadi penekanan utama dalam kegiatan ini. Pertama, penguatan peran politik yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Kedua, aksi sosial sebagai bentuk kehadiran langsung di tengah warga. Ketiga, menjaga stabilitas sosial sebagai fondasi utama pembangunan di Maluku.
“Persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan harus menjadi kekuatan nyata yang mendorong kemajuan daerah,” tegas Lewerissa.
Di sisi lain, Ketua Panitia, Saoda Tethol, menyebut kegiatan ini sebagai agenda rutin yang tidak hanya bersifat internal partai, tetapi juga terbuka bagi masyarakat sebagai ruang memperkuat silaturahmi.
Sementara itu, Ketua MUI Maluku, Abdullah Latuapo, dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki hubungan sosial antarwarga.
Namun demikian, tantangan utama tetap pada konsistensi. Bantuan sosial dan seruan persaudaraan kerap hadir dalam momentum keagamaan, tetapi belum selalu berlanjut dalam program jangka panjang yang menyentuh akar persoalan masyarakat.
Di sinilah publik menaruh harapan: agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi pintu masuk bagi kerja-kerja nyata yang berkelanjutan—menghubungkan solidaritas sosial dengan strategi pembangunan yang lebih terarah di Maluku.
