Kondisi terbatasnya moda transportasi, tarif yang tinggi, sarana prasarana yang belum memadai kerap menjadi ujian batin dan tantangan tersendiri bagi pengajar yang ditugaskan di daerah terpencil.
Langgur, suaradamai.com – Menjadi seorang guru yang mengabdi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bukanlah sebuah hal yang mudah.
Kondisi terbatasnya moda transportasi, tarif yang tinggi, sarana prasarana yang belum memadai kerap menjadi ujian batin dan tantangan tersendiri bagi pengajar yang ditugaskan di daerah terpencil.
Namun, Eunike Tawurutubun (31), guru SMP SMP N 4 Kei Besar, Ohoi (Desa) Ad, Kecamatan Kei Besar Utara Barat, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku, membuktikan jika kesulitan-kesulitan itu bisa dipatahkan dengan besarnya semangat pengabdian.
Ike sapaan akrabnya, memulai pengabdian sejak Januari 2021 dengan status 80 persen CPNS, hingga pada 2022 statusnya telah 100 persen menjadi aparatur sipil negara (ASN).
Terhitung lima tahun ,pengabdian di daerah terpencil. Akses yang serba terbatas, menuntut para pengajar untuk bisa lebih memutar otak dalam melawan arus keterbatasan.
“Awalnya saya ditempatkan di Ohoi Haar namun lantas dipindahkan ke Ad, tentunya dengan ekspektasi masih dekat dengan ibukota Kecamatan. Tanpa tau lokasi tersebut merupakan daerah terpencil,” ungkapnya, Senin (24/11/2025).
Ike mengisahkan, tantangan untuk sampai di lokasi penugasan Ohoi Ad dari Ibu Kota Langgur, sungguh lumayan sulit.
“Ada dua alternatif untuk bisa sampai ke Ohoi Ad, menggunakan speedboat tapi langsung dengan jalur kapal motor alias laut lepas, namun akses ini hanya tersedia jika cuaca mendukung,” ungkapnya.
Sementara, jika memilih lewat jalur darat, kata dia menggunakan ojek dengan tarif tertinggi capai Rp.400 ribu dan terendah ada di kisaran Rp.150 ribu.
“Kalau pas ada ojek langganan pastinya bertarif murah, jika tidak ada kami pasti akan membayar lebih mahal untuk bisa sampai ke tempat tugas,” cetusnya.
Dengan kondisi yang terjal, jalanan yang rusak juga jarak yang jauh, kerap kendaraan yang di tumpangi mengalami mati mesin atau mogok.
“Saat hendak pulang ke tempat tugas kami pernah menumpangi mobil L300, saat sedang mendaki gunung terjal, mobilnya mogok hampir satu jam,” kisahnya.
Supir mulai berusaha menyalakan mesin, berulang kali sehingga memicu kepulan asap dari dalam. Penumpang yang hanya berjumlah tiga orang, terperangkap di dalam dengan kondisi samping kiri jalan jurang terjal.
“Dalam hati kami hanya berdoa dan berserah pada Tuhan, pas satu jam akhirnya mesin mobil bisa kembali menyala dan kami lolos dari intaian maut,” urainya.
Ike mengatakan, dengan biaya akomodasi yang besar jika mengandalkan gaji saja, mungkin tidak akan cukup.
“Apalagi jika mendadak harus bepergian ke Instansi terkait, dan butuh biaya pribadi, jika dihitung-hitung memang tidak cukup,” terangnya.
Namun ada kebijakan pemerintah memberikan tunjangan terpencil atau tunjangan khusus guru (TKG), hanya saja penyalurannya juga tidak merata.
“Terkadang dalam satu sekolah di daerah 3T ada yang dapat ada juga yang tidak, entah apa kendalanya, padahal ini hak kami,” ujarnya.
Baginya, bertugas di daerah terpencil ini butuh panggilan hati dan keikhlasan membentuk generasi emas, seperti yang diharapkan oleh Presiden RI.
“Kami hanya meminta tunjangan guru terpencil jangan dipersulit,” tandasnya.
Terbatasnya fasilitas, sarana dan prasarana membuat Ike cukup sulit untuk melaksanakan tugas mengajar.
Apalagi jika giliran listrik padam yang bisa memakan waktu dua hingga empat hari.
“Ya terkadang jika listriknya padam, akses internet pun mati karena masih mengandalkan starlink,” ujarnya.
Dia pun harus memutar otak untuk berinovasi, misalnya membuat media dan alat peraga dari barang bekas, sehingga materi yang disampaikan bisa diserap para murid.
“Pasalnya, buku paket terbatas jika harus mencari referensi di internet terkendala listrik, jadi kami harus pandai berinovasi,” ungkapnya.
Dulu jika jaringan internet belum tersedia, guru dan murid kerap menerobos hutan dan kebun warga untuk melaksanakan Assesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
“Ya, Puji Tuhan sekarang cukup dimudahkan dengan akses Starlink y Dulu jika jaringan internet belum tersedia, guru dan murid kerap menerobos hutan dan kebun warga untuk melaksanakan Assesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
“Ya, Puji Tuhan sekarang cukup dimudahkan dengan akses starlink yang sudah tersedia di sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, di momen Hari Guru Nasional ini, hanya satu yang diminta perhatian dari pemangku kebijakan.
“Karena di tengah keterbatasan, siswa-siswi di pelosok ini sangat semangat untuk mendapatkan ilmu, mereka bahkan menempuh jarak berkilo-kilo di tengah minimnya akses jalan untuk dapat bersekolah. Kami juga minta pemerataan jaringan internet yang memadai di tengah sistem digital,” pungkasnya
Editor: Henrik Toatubun





