Jeritan Pelaku Usaha di Tengah Pandemi Corona

Harga barang cukup stabil, pembeli kurang, pendapatan turun.


“Parah, sunyi, sepi sekali. Semenjak masuknya (dampak) virus corona di Kota Tual ini sangat sepi sekali, pendapatan menurun,” keluh Warni, pemilik RM. Maharani di Pasar Masrum Tual.

Dampak wabah virus corona di Indonesia juga sangat terasa di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, Kepulauan Kei. Para pelaku usaha mulai kehilangan pembeli, akibatnya pendapatan menurun.

Pilar Timur/Suara Damai melakukan pengamatan selama dua hari, Selasa (21/4/2020) dan Rabu (22/4/2020), terhadap pelaku usaha di Tual dan Langgur.

Mereka di antaranya pemilik rumah makan, pedagang barang medis, pedagang tekstil, pedagang sembako, pedagang ikan, pedagang sayur, pedagang buah, penjual daging ayam, pedagang perhiasan, pedagang air isi ulang, tukang jahit, hingga buruh bongkar muat, ojek, dan supir truk.

Rumyaan, pemilik Rumah Makan (RM) Lamongan dekat pintu keluar Pelabuhan Tual menuturkan bahwa warungnya sepi pasca pemerintah memberhentikan sementara akses kapal penumpang.

“Semenjak virus ini pengaruhnya paling sepi sekali, penghasilan pun menurun bahkan tidak cukup untuk mengembalikan modal. Pokoknya sangat sepih sekali,” ujarnya.

Tidak jauh dari RM. Lamongan, RM. Maharani juga mengalami kondisi yang sama. Pemiliknya, Warni, menyebutkan sebelum adanya virus corona usahanya seringkali dikunjungi para pelaku perjalanan yang datang maupun bepergian dengan kapal.

“Orang-orang (pelaku perjalanan) mungkin takut virus ini jadi tidak mau makan. Biasanya sebelum berangkat itu mereka singgah makan dulu, begitu pula penumpang yang turun dari kapal,” tuturnya.

Berbeda dengan Zheki, pemilik Apotik Helwa di Pasar Masrum Tual. Zheki meraup sedikit keuntungan dari penjualan masker. Masker yang awalnya dijual dengan harga dua sampai tiga ribu rupiah per lembar, hari ini meningkat drastis hingga Rp 10 ribu sampai 15 ribu per lembar. Sementara itu, penjualan obat-obatan masih normal.

Sella, pemilik toko pakaian juga mengalami penurunan pendapatan. Ia mengaku, sebelum mewabahnya virus corona, pendapatan per hari berkisar antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta. Saat ini pendapatannya menurun di kisaran Rp 2 juta per hari.

Nasib yang memprihatinkan juga datang dari para pedagang sayur, salah satunya, Renab Mastail. Menurutnya banyak kali dirinya harus menanggung sejumlah kerugian akibat dagangannya tidak laku, apalagi di tengah maraknya virus corona saat ini.

“Kasihan sunyi, sepih sekali. Pembeli berkurang. Tapi syukur sudah dua hari ini pembeli mulai kelihatan karena mau puasa,” ungkapnya.

Ketersediaan pasokan dan harga daging ayam di Pasar Tual masih stabil. Begitu pula pembeli yang berbelanja seperti biasanya. Hal itu dikatakan Tomi Ko, penjual daging ayam di Pasar Masrum Tual.

Bersebelahan dengan Tomi, Sabok Rumadan, pedagang Ikan, juga menyampaikan kelurahannya. Katanya “orang seng (tidak) belanja, sepi sekali.”

“Kadang katong buang, orang seng belanja akhirnya busuk. Jadi sebelumnya katong pung (pendapatan kami) di atas Rp 600 ribu turun sampai Rp 150-200 ribu/hari,” tambahnya.

Di tempat terpisah Santi (40) pedagang buah yang berjualan di dekat terminal ATM BRI Tual, mengatakan saat ini pembeli kembali normal karena mulai ada kesibukan di bulan puasa.

Akibat larangan mengumpulkan banyak orang, seperti hajatan pernikahan, daya beli emas di pasar juga menurun. Sandy, pedagang emas di Pasar Tual mengaku harga emas masih normal namun pembeli yang berkurang.

“Sebelum corona itu aman-aman saja, tapi setelah corona ini paling setengah mati. Katong ojek tapi tetap isolasi diri sebelum maupun sesudah kontak dengan penumpang,” kata Upang (35), tukang ojek pangkalan Pasar Langgur.

Isolasi diri yang dimaksudkan Upang adalah mencuci tangan tiap sebelum dan setelah bepergian, selalu menggunakan masker, dan tetap menggunakan sarung tangan serta menjaga kontak dengan penumpang.

Kondisi penurunan pendapatan juga melanda Rio (pedagang air isi ulang) dan Mimi (penjahit pakaian) di Langgur, Wany Suat (buruh bongkar muat) dan Cein Maswatu (sopir truk) di Tual.

“Selama kejadian penyakit (corona) ini katong punya penghasilan menurun sekali. Sebelumnya katong angkut muatan ke luar kota itu kurang lebih lima ret per hari. Sekarang mau cari Rp 300 ribu untuk isi minyak saja paling sulit sekali,” bebernya sedikit mengeluh.

Daftar Harga Barang

Bawang merah Rp 50-60 ribu/kg, bawang putih Rp 48-55 ribu/kg, bawang bombay Rp 140 ribu/kg, wortel Rp 40-50 ribu/kg, kentang Rp 25-30 ribu/kg, kol kepala Rp 25-30 ribu/kg, kemiri Rp 50 ribu/kg, buncis Rp 25-30 ribu/kg, chili besar Rp 80-120 ribu/kg, chili kecil Rp 60-100 ribu/kg, chili ambon Rp 40 ribu/kg, tomat Rp 55 ribu/kg, kunyit Rp 25-35 ribu/kg, jahe Rp 100 ribu/kg, kacang Rp 70 ribu/kg, kenari Rp 100 ribu/kg, kayu manis 150 ribu/kg, bengkoang Rp 35-40 ribu/kg, halia Rp 80 ribu/kg, jeruk Rp 20 ribu/kg, lengkuas Rp 15 ribu/kg, labu siam Rp 13 ribu/kg, telur puyu Rp 50 ribu/rak, telur ayam Rp 58 ribu/rak, kacang hijau Rp 25 ribu/kg, kacang tanah Rp 32 ribu/kg, kopi biji Rp 35-37 ribu/kg, garam kasar Rp 15 ribu/kg, garam halus Rp 30 ribu/pak, gula Rp 20-22 ribu/kg, gulaku Rp 23 ribu/kg, gula merah Rp 10 ribu/kg, terigu Rp 9-10 ribu/kg atau 195 ribu/karung, mentega Rp 15 ribu/kg, beras hitam Rp 25 ribu/kg, beras merah Rp 13 ribu/kg, beras bulog Rp 10 ribu/kg atau Rp 500 ribu/karung, beras karung kuning Rp 190-200/karung, jagung biji+halus Rp 10 ribu/kg, kelapa parut 4-5 ribu/buah, minyak goreng valensia 65 ribu/jeriken, dan bimoli 75 ribu/jeriken.

*Tim Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU