Sasi adat di Kompane telah diwariskan secara turun temurun dan memberikan dampak yang signifikan bagi penduduk setempat.
Dobo, suaradamai.com – Kepala Desa Kompane Samsul Bahri Hatala, mendukung penuh visi strategis Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, untuk memajukan sektor perikanan melalui pengembangan budidaya teripang secara alami dengan menggunakan kearifan lokal berbasis sasi adat.
Tradisi sasi menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam, seperti teripang agar tetap lestari.
Menurut Hatala, sasi adat di Kompane telah diwariskan secara turun temurun dari generasi pendahulu hingga generasi sekarang ini.
“Dari katong (kita) pung (punya) leluhur sampai hari ini masih menggunakan sasi, karena masih sakral. Sehingga orang tua di sana selalu ajar supaya sasi ini turun temurun dan dilestarikan,” ungkap Hatala saat ditemui Suaradamai.com di Tiara Coffe House Dobo, Kamis (11/9/2025).
Ia mengatakan bahwa selain menjaga kearifan lokal, sasi juga bertujuan untuk menjaga eksistensi Kompane sebagai salah satu desa penghasil teripang terbanyak di Aru.
“Di Aru, teripang paling banyak juga kan di Kompane. Yah selain juga di desa-desa tetangga seperti Kabalsiang, Benjuring, hingga Batuley,” ucap Hatala.
Di Kompane, sasi adat sendiri diberlakukan dalam jangka waktu tiga tahun “sampe teripang su (sudah) besar-besar, baru diambil,” imbuhnya.
Sementara itu soal panen, Hatala menjelaskan, jika musim panen tiba, seorang pembudidaya bisa memanen paling banyak 1000-2000 ekor/hari.
Hasil panen tersebut langsung diborong pembeli dari dalam maupun luar desa.
“Ada pembeli lokal satu orang bisa 3-4 ton. Ada juga pembeli dari luar membeli 15-20 ton selama masa panen per tiga tahun itu,” ungkapnya.
Sementara soal harga bergantung kepada pembeli yang menawarkan harga, tentunya dengan persaingan harga masing-masing.
“Misalnya bos mana yang harga bagus, masyarakat bawa ke situ,” terangnya.
Metode sasi, kata Hatala, sudah menyatu dengan masyarakat Kompane, sehingga kasus pencurian yang sering dikhawatirkan, sangat minim terjadi.
“Pernah ada, tapi seng (tidak) sampe bakalai (berkelahi). Setelah Katong tau, pemerintah desa duduk musyawarah dan pecahkan masalah. Dan mereka bayar denda adat saja. Karena yang ambil sendiri adalah masyarakat desa. Jadi kembali ke denda adat,” jelas Hatala.
Sementara itu jika sasi dilakukan selama tiga tahun, apakah masyarakat bisa hidup? Kata Hatala, masyarakat Kompane juga tidak terganggu, sebab mereka juga memilki pencaharian yang lain.
“Soal tutup sasi total, aman saja di Kompane. Karena ada hasil lain. Timur barat pembeli ikan datang terus. Masyarakat juga ada yang mencari lobster, bulan 10/11 orang menyelam siput, udang lobster, tapi kalau ikan jalan terus. Juga rumput laut cuman terganggu hama,” terangnya.
Untuk saat ini, Kompane masih membuka sasi setelah panen beberapa waktu lalu.
“Lagi musim timur, [angin] kencang, jadi akses cari bibit jauh. Sementara buka dulu biar ambil bibit. Setelah tambak penuh baru tua-tua adat duduk baru tutup sasi lagi,” jelasnya.
Meskipun kaya akan teripang dan masyarakat pun sudah ahli dalam hal budidaya, masyarakat Kompane sering kali menghadapi sejumlah persoalan saat berbudidaya teripang. Yakni fasilitas pertambakan.
“Ada yang mau bikin tapi terkendala bahan ini, waring yang mahal, tali, paku, dan sebagainya,” ucap Hatala.
Sehingga ia berharap, jika program bupati ini terealisasi, pemerintah dapat membantu para pembudidaya di Kompane.
“Masyarakat sering datang mengadu, bilang Pak Kades tolong cek ke Dinas Perikanan lagi ada bantuan atau tidak, supaya bantu katong,” ucap Hatala menirukan permintaan masyarakat.
Sejauh ini, Hatala mengapresiasi pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perikanan yang sudah pernah membantu sejumlah masyarakat Kompane.
“Pernah mengajukan bantuan ke Dinas Perikanan pada tahun 2023 dan akhirnya diberi bantuan pada 2024. Ada 10 kepala keluarga (KK) yang menerima bantuan untuk budidaya,” ungkap Hatala.
“Beta sangat berterima kasih karena sudah kurangi beban masyarakat,” tambahnya lagi.
Ia berharap, program strategis dari bupati ini segera terealisasi untuk kesejahteraan masyarakat Aru, juga terlebih khusus di Kompane.
“Kalau bisa program ini jalan dan pemerintah tolong liat masyarakat Kompane. Masyarakat budidaya yang membutuhkan bantuan Pemda, karena banyak mau bikin tambak tapi terkendala waring, tali, paku, dan bibit teripang yang dijual mahal,” pungkasnya.
Harapannya, dengan budidaya teripang berbasis sasi ini dapat memperkenalkan Aru yang kaya akan teripang, bukan hanya di tingkat daerah, tapi juga nasional, bahkan dunia.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru





