Bagaimana tidak, Permintaan terhadap coconut milk atau santan kelapa melonjak tajam akibat didorong oleh perubahan pola konsumsi pangan di berbagai negara, seperti China dan Eropa yang mulai beralih dari susu hewani ke alternatif nabati.
Dobo, suaradamai.com – Kelapa, komoditas buah tropis yang selama ini dipandang biasa saja, baru-baru ini kini menjadi primadona baru di pasar internasional.
Menteri Pertanian Dorong Hilirisasi Kelapa
Bagaimana tidak, Permintaan terhadap coconut milk atau santan kelapa melonjak tajam akibat didorong oleh perubahan pola konsumsi pangan di berbagai negara, seperti China dan Eropa yang mulai beralih dari susu hewani ke alternatif nabati.
Melihat tren itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia tak tinggal diam dan enggan jadi penonton saja.
Apalagi sebagai produsen kelapa, Indonesia harus memanfaatkan permintaan pasar dunia terhadap kokonat, terutama dalam bentuk coconut milk.
“Ada fenomena menarik adalah coconut, kelapa. Kelapa kita itu harganya lagi bagus. Karena ada pergeseran konsumsi pangan di China dan negara-negara lainnya, termasuk negara-negara Eropa, itu ke coconut milk,” ujar Amran di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (7/8/2025).
Oleh karena itu, pemerintah mendorong hilirisasi kelapa untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor.
Apalagi secara harga pun terjadi lonjakan harga kelapa, lantaran adanya pergeseran pola konsumsi pangan di berbagai negara.
Baru-baru ini Kabupaten Halmahera Utara di Maluku Utara menunjukkan keberhasilannya dalam hilirisasi Kelapa yang diekspor secara langsung ke Tiongkok.
Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa di Kabupaten Kepulauan Aru
Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel memiliki gagasan Ekonomi Hijau dengan pengembangan 10 juta pohon kelapa yang lagi tren dengan nama pohon emas.
Bupati Kaidel mengatakan, bicara tentang kelapa artinya berbicara tentang petani, sumber daya manusia, dan sumber daya alam.
Kepulauan Aru kata Kaidel sudah terkenal pertaniannya, terutama kelapa sejak zaman kolonial Belanda.
Dimana abad 18-19 sudah terjadi industri kelapa yang dilakukan VOC Belanda.
Peninggalan ini masih ada, namun Kaidel mengakui bahwa belum dilanjutkan dan diperhatikan dengan baik oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru secara khusus.
“Ini yang ke depan kita Kabupaten Kepulauan Aru melihat potensi itu kita mau kembangkan apa yang sudah pernah ada di Kabupaten Kepulauan Aru,” ucap Kaidel saat diwawancarai Suaradamai.com di ruang kerjanya, Jumat (23/5/2025).
Apalagi sejalan dengan visi misinya tentang membangun dari sektor darat, yakni sistem ekonomi hijau.
“Ini yang target kita ke depan, kita fokus bagaimana pembenahan perkebunan kelapa di Aru ke depan. Jadi target kita lima tahun ke depan itu harus bangkit 10 juta pohon kelapa yang mana ini dikembangkan oleh petani atau masyarakat adat kita di pesisir,” ungkap Kaidel.
Targetnya, 10 juta pohon kelapa ini akan menarik investor masuk ke daerah dan akan ada hilirisasi kelapa di Kabupaten Kepulauan Aru.
“Karena dengan 10 juta pohon kelapa, kita kisaran panen, dan ada kepastian panen, satu musim panen dalam tiga bulan itu di kisaran 360.000 ton, itu target kita,” terang Kaidel.
Dengan demikian, Pemkab Aru akan siap dalam hal penyiapan bahan baku sehingga menjadi ketahanan pangan dan pembukaan lapangan kerja baru, serta akan terus berkisenambungan.
Sehingga bukan hanya ekonomi biru yang diperhatikan, tapi juga ekonomi hijau. Mengingat sebagian besar masyarakat Aru bergantung pada eksploitasi laut.
“Kalau kita eksploitasi laut pesisir, dan tidak memperhatikan sisi darat, satu waktu akan terjadi pengangguran dan terjadi kemiskinan ekstrem di Kapupaten Kepulauan Aru. Kita lihat sekarang sudah terjadi, dan itu kalau tidak secara bijak kita tangani. Kita sebagai kepala daerah tidak melihat potensi-potensi itu ke depan untuk memulai sesuatu terobosan baru bagi masyarakat, besok-besok masyarakat Kepulauan Aru tidak ada topangan hidup,” jelasnya.
Sehingga dengan budidaya dan perkebunan, maka kata Kaidel ada kepastian penghasilan dari masyarakat-masyarakat yang ada di desa.
Untuk mewujudkan mimpi besar ini jelas Kaidel “Jadi semua stekholder, semua desa kabupaten, dinas teknis, kita sekarang sudah gerakan, dengan dana desa ini kebetulan ada satu menu di situ tentang ketahanan pangan, ini kita lagi review seluruh dana desa mulai tahun ini. Dana desa ini kita review supaya ada program ini kita masukan secara bertahap selama lima tahun,”.
Sehingga fokus Dinas Pertanian dalam beberapa waktu ini akan fokus bicara kelapa.
Masyarakat desa adat akan dimulai dengan kegiatan rutin untuk membuat bibit kelapa dari hasil panen dan akan ditutupi dengan dana sharing untuk kelanjutan hidup petani.
Kaidel menargetkan setiap keluarga menanam 10-20 pohon kelapa per harinya.
“Jadi kalau kita target dengan populasi kita ada sekitar 25.000 kepala keluarga hari ini, berarti ada sekitar 250.000 pohon kelapa yang setiap hari tumbuh. Itu target kita,” terang Kaidel.
Kemudian lanjutnya, akan dibuat akta notaris ahli waris lantaran kelapa merupakan tanaman umur panjang, sehingga akan dinikmati oleh para petani hingga anak cucunya.
Kaidel mengatakan, jika bahan baku kelapa sudah tersedia di Aru, maka hilirisasi akan muncul.
“Kita sudah bisa produksi kelapa dengan hari ini di sini sendiri. Besok lima tahun ke depan harga kelapa itu yang tadi cuma di harga lokal kopra itu Rp.20.000an. Dengan ini kopra bisa dua kali lipat harganya. Kita tidak lagi ongkos pengiriman, ongkos produksi di Surabaya, transportasi mahal. Makanya kita sudah langsung kepada produksi,” ucap Kaidel dengan optimisme.
Apalagi kata Kaidel, potensi kelapa ini sangat diminati dunia hingga disebut pohon emas.
Dimana kelapa ini diproduksi mulai dari kulit, sabuk, tempurung, daging, bahkan ampas dagingpun dijadikan tepung.
Sehingga permintaan dunia terutama seperti China kini menargetkan Indonesia sebagai negara yang harus dieksplor tentang perkebunan kelapa.
“Permintaan terus melonjak tinggi. Sampai sekarang terjadi kelangkaan kelapa di pasar Indonesia. Santan kelapa jadi langka, ini akibat dari permintaan kelapa buah yang sangat besar.“ kata Kaidel.
Kaidel melihat ini sebagai kesempatan terbaik bagi Kepulauan Aru, meskipun produksi kelapa ini tidak instan, sehingga harus dimulai dari sekarang.
“Kalau kita tidak mulai dari sekarang, maka lima tahun ke depan kita akan makin ketinggalan. Makanya Aru memulai sekarang, supaya lima tahun ke depan Aru siap tampil ke depan sebagai daerah yang siap untuk memproduksi dan terjadi swasembada kelapa di kabupaten ini” pungkasnya.
Desa Selibata-bata Gaskan Pengembangan Pohon Kelapa
Desa Selibata-bata di Kecamatan Aru Tengah menangkap visi Bupati Kaidel dan mulai gencar menanam kelapa.
Mengutip laman Facebook Kepala Desa (Kades) Selibata-bata, Dedi Boy Rugun belum lama ini, pemerintah desa menyalurkan Rp.45.000.000 dari dana desa untuk pengadaan bibit kelapa.
Kerennya, bibit tersebut dibeli dari masyarakat setempat, dan ditanam di kebun milik sendiri.
“Rp.45.000.000. Dari dana desa di salurkan bagi masyarakat untuk membayar bibit kelapa dari masyarakat desa dan menanam di kebun milik mereka sendiri sebagai hak waris / hak milik tetap. 30 Pulu bibit per KK. dengan harga 5000/buah Khusus untuk masyarakat lokal yang menetap di desa sebagai pekebun aktif. tahun anggaran 2025.” tulis Rugun dalam unggahan beberapa foto yang memperlihatkan sejumlah masyarakat sedang menanam kelapa.
Menanam kelapa, kata Rugun bermanfaat untuk masa depan keluarga masing-masing.
“Hijaukan lahan masing masing dengan tanaman umur panjang untuk masa depan keluarga sendiri,” tulis Rugun.
Tak hanya itu, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Selibata-bata juga mulai aktif membeli buah kelapa dari masyarakat.
BUMDes yang diberi nama Pintu Gardim Dim membeli kelapa tanpa kulit dengan harga Rp. 2.500/buah dan menyesuaikan dengan ketebalan isinya.
Masyarakat bisa menghubungi kontak 082319775096 dan 082131121763 untuk proses penjualan.
Sementara itu, Kades Rugun mengatakan, dengan melihat mayoritas masyarakat Selibat-bata sebagai pekebun, program Bupati Kaidel ini sangat cocok diterapkan.
“Jadi memang program pak bupati di sini semua masyarakat senang dan penuh antusias,” ucap Rugun saat dihubungi Suaradamai.com, Selasa (14/10/2025).
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru





