Pemkab Aru dalam waktu dekat akan menggelar musyawarah adat bersama para kepala desa, tokoh adat, kepala marga, gereja, dan masyarakat dari 117 desa guna membahas perlindungan lingkungan hidup secara menyeluruh.
Dobo, suaradamai.com – Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Siloam Daerah PP Aru berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dalam kegiatan “Aksi Hijau Berkelanjutan” melalui penanaman ratusan pohon di kawasan pesisir Pantai Wangel, Marbali hingga belakang Wamar.
Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Wisata Taman Kota Dobo yang dalam proses revitalisasi belum lama ini.
Ketua AMGPM Cabang Siloam, Piston Karatem mengatakan, aksi ini lahir dari kesadaran pemuda gereja terhadap kondisi lingkungan di Kabupaten Kepulauan Aru yang semakin memprihatinkan.
Ia menegaskan, meskipun dengan keterbatasan anggaran dan fasilitas, AMGPM tetap berupaya menghadirkan aksi nyata melalui penanaman pohon dan mangrove secara berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Aksi ini guna menghijaukan kembali sejumlah kawasan pesisir yang terdampak abrasi.
“Kami sadar apa yang kami lakukan mungkin kecil dan sederhana, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa pemuda juga punya tanggung jawab menjaga lingkungan,” ujar Karatem.
Sementara itu, Bupati Timotius Kaidel menegaskan bahwa aksi penghijauan tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi gerakan bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Menurutnya, budaya menjaga lingkungan harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda agar menjadi karakter yang terus diwariskan.
Bupati Kaidel mengingatkan bahwa masyarakat Aru sejak dulu hidup bergantung pada kekayaan alam, sehingga kelestariannya wajib dijaga demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Menjaga alam adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar. Kalau kita hidup bergantung pada alam tetapi tidak menjaga alam, lalu apa yang kita harapkan di masa depan,” tegas Kaidel.
Bupati juga menyoroti persoalan pengambilan pasir, batu, dan terumbu karang yang selama ini berdampak pada kerusakan lingkungan pesisir.
Pemerintah daerah, kata Bupati Kaidel terus mendorong konsep pembangunan ramah lingkungan dengan penggunaan material alternatif yang tidak merusak alam.
“Kita harus tetap membangun, tetapi jangan dengan alasan pembangunan lalu merusak lingkungan. Sekarang konsep membangun harus murah, cepat, kuat dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, Pemkab Aru dalam waktu dekat akan menggelar musyawarah adat bersama para kepala desa, tokoh adat, kepala marga, gereja, dan masyarakat dari 117 desa guna membahas perlindungan lingkungan hidup secara menyeluruh.
Sehingga ada keseimbangan antara manusia dan alam. Sebab kata Bupati Kaidel, Kalau alam dijaga baik, maka alam juga akan menjaga kehidupan manusia.
