Ain Ni Ain Bukan Sekadar Slogan

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dia mengandung nilai-nilai luhur yang berkenan di segala masa dan bagi seluruh dunia.


Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Dinas Paraiwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara pada penghujung tahun 2013, Prof. Aholiab Watloly, S.PAK memberikan makna terhadap filosofis hidup orang kei khususnya falsafah “ain ni ain”.

Watloly menguraikan bahwa ain ni ain berasal dari dua akar kata, yaitu Ain = satu dan Ni = punya. Jadi secara etimologis ain ni ain berarti satu punya satu. Istilah satu punya satu menandakan bahwa (Ain) di sini bukan lagi tunggal tetapi jamak, karena itu mereka sesungguhnya telah menjadi satu keluarga.

Defenisi sosio-kultural dari perspektif indigenous (asli) setempat menunjukkan bahwa: Satu (Ain) yang dimaksud di sini bukan sekadar angka. Tetapi, pribadi yang bernyawa, berhati mulia, dan penuh cinta kasih, yang selalu memuliakan persaudaraan dan hidup kekeluargaan.

Ain sebagai suatu gambaran personal bukanlah musuh kolektivitas tetapi pendukung sejati sebuah hidup kolektif (kekeluargaan). Demikian pula halnya dengan kolektivitas sebagai wujud persaudaraan yang adalah kepunyaan (ni) atau kepemilikan bersama dari para ain (individu), yang bukan hanya menjadi pemangsa atau penguasa yang memeras (represif) dan penekanan (deterministie) bagi para individu (ain) tetapi pelayan, pendamping, pengarah, pemberdaya, dan pembela yang arif serta benar dan adil bagi para individu dalam sebuah otoritas adat dan hukum.

Kolektivitas (kekeluargaan) dan persudaraan yang adatis dan suci (sakral) harus memelihara dan memuliakan kemanusiaan para individu (ain) agar tetap aman dan terjamin kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Para pemimpin komunitas persaudaraan, seperti ohoi, ratschap, dusun orangkai, rat dan para pamong (camat, kepala SKPD, bupati, wali kota) adalah: pengarah, pelayan, pendamping, dan pembela bagi para ain dan saudaranya dalam sebuah cita rasa kekeluargan yang utuh.

Punya (ni) atau kepemilikan yang dimaksud adalah persaudaraan dengan segala perbedaan agama, negeri, pulau atau status sosial, politik, ekonomi, apa pun yang saling terbuka dan menerima dalam membangun sebuah kebersamaan yang utuh sebagai suatu keluarga.

Konsekuensinya, individualitas (ain) dan persaudaraan sebagai milik kepunyaan (ni) para ain, yang tertata secara kolektif dalam bentuk keluarga, berkedudukan secara seimbang dan saling melengkapi bukanlah bingkai atau bungkusan, tetapi sebuah isi batin (suara hati/perintah nurani) sebagai sistem pemikiran, sistem perilaku (tindakan), dan sistem hukum (norma) yang membimbing, menata, dan mengarahkan jalan hidup para individu. Inti persaudaraan dan hidup kekeluargaan adalah solidaritas, empati, dan kerjasama atau gotong royong (maren).

Jadi secara filosofis, ain ni ain diartikan sebagai: satu individu punya satu individu lainnya dalam sebuah pertalian hidup yang erat. Ain = saya (individu) yang satu mempunyai atau memiliki yang ain = satu (individu) lainnya dalam suatu kepunyaan bersama. Sehingga menjadi atau melahirkan satu kepunyaan yang baru yang lebih lengkap dan lebih sempurna, yaitu satu ikatan kekeluargaan.

Kekeluargaan dan persaudaraan orang evav bukanlah benda asing yang datang dari luar atau yang dilahirkan oleh makhluk asing dan dititipkan di bumi evav. Justru, kekeluargaan dan persaudaraam evav itu dilahirkan dari rahim asli para ain yang adalah pendiri, pewaris dan pemilik sejati negeri Kepulauan Kei dengan evavnya.

Konsekuensinya, kepunyaan (persaudaraan dan kekeluargaan evav) itu terkait erat dengan keutuhan eksitensi mereka yang tidak dapat dilepas-pisahkan. Klaim-klaim kepunyaan itu saling mengandaikan sebagai satu rangkaian kepunyaan, ibarat tidak bisa bertepuk sebelah tangan, tetapi dengan kedua tangan, karena klaim kepunyaan saya ain yang satu mengandaikan atau menyiratkan bahwa ain lain juga ada sehingga terbangunlah satu keluarga.

Bila digali lebih mendalam lagi, tulis Watloly, maka akan terlihat betapa kekayaan nilai filosofis dari falsafah leluhur ain ni ain yang menjadi warisan leluhur ini, memiliki nilai maupun tanggung jawab yang bersifat universal. Bila falsafah ini memilih anak negeri evav sebagai bangsa pilihannya maka tentu dapat dilihat dalam sebuah misi kesucian, bahwa pilihan itu menjadi sebuah amanah untuk menjadi berkat bagi sesama secara luas, baik dalam konteks masyarakat Kepulauan Maluku, Indonesia, dan dunia.

Penghayatan seorang anak negeri evav yang baik, jujur, ikhlas, dan mendalam terhadap terhadap sejarah kedatangan para leluhurnya yang berasal dari segala suku di Indonesia, yang kemudian dibentuk/digodok, disemai di dalam rahim falsafah ain ni ain dan dilahirkan secara baru sebagai anak adat evav, memberi sebuah dasar yang kuat bahwa, dari berbagai penjuru dunia mereka dikumpulkan dalam bentuk sebagai generasi baru evav untuk menjadi berkat di berbagai penjuru dunia. Sehingga seolah-olah mereka datang dalam sebuah rahim perguruan hidup ain ni ain sebagai sebuah kurikulum pemanusiaan manusia dalam sebuah misi untuk menjadi untuk menjadi berkat bagi dunia.

Falsafah leluhur itu, lanjut Watloly, akan menjadi transparan (tidak picik), berjiwa damai, serta selalu berlaku manusiawi bagi sesama manusia. Melalui itu ia akan sanggup memaknakan berkat keterpilihannya untuk menjadi pewaris dan pelaku sebuah falsafah leluhur dalam kehidupan lebih luas.

Nilai-nilai keutamaanya (primary value) yang diidealkan oleh falsafah ini, yaitu kekeluargaan, persaudaraan, dan kemuliaan manusia, akan menjadi sebuah misi pengutusan bagi dirinya untuk menjadi sebuah pelaku falsafat ain ni ain bagi dunia yang luas untuk karya perdamaian, persaudaraan bagi bangsa dan masyarakat.

Bahwa kemanusiaan persaudaraan dan kekeluargaan orang evav bukanlah ancaman dan musuh bagi kemanusiaan, persaudaraan dan kekeluargaan sesama lainnya, tetapi selalu akan menjadi mitra sejati bagi sesama saudaranya di berbagai penjuru nusantara dan dunia dalam gerak peradaban dan budayanya yang luas untuk tugas kemaslahatan manusia secara luas dan keselamatan abadi di bumi.

*** Disadur dari Majalah Suara Damai Nomor 11 Tahun II | April 2014

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU