Keluarga korban telah memilih untuk memberikan maaf kepada Maksi Nauw.
Bintuni, suaradamai.com – Maksi Nauw (54), seorang warga Kabupaten Teluk Bintuni, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat adat Tujuh Suku atas pernyataannya yang dianggap menyinggung dan menyakiti perasaan masyarakat asli.
Ucapan tersebut ia akui diungkapkan saat dirinya berada di bawah pengaruh minuman keras.
“Saya minta maaf untuk keluarga Tujuh Suku. Mungkin karena saya keadaan mabuk, alkohol, jadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya buat keluarga tujuh suku,” ujar Maksi, Jumat (19/9/2025).
Ia juga berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya dan mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persatuan.
“Saya berjanji bahwa tidak terulang lagi lakukan hal ini buat keluarga besar tujuh suku. Tong sama-sama baku jaga, tong keluarga ini semua baku jaga sama-sama,” ujar Maksi.
Menanggapi hal ini, Novianus Merenefa, pemuda Tujuh Suku, memberikan peringatan agar seluruh anak asli Tujuh Suku dan masyarakat Papua lainnya di Teluk Bintuni tidak terlibat dalam perilaku merugikan, seperti mabuk yang dapat mengancam persatuan.
“Peringatan keras untuk anak asli tujuh suku juga. Tidak boleh mabuk papua lainnya juga. Yang tujuh suku dari Moskona, Irarutu sampai Sumuri juga, tidak ada mabuk mengancam sesama kita orang papua yang ada di Bintuni. Kita punya teman Nusantara juga sama demikian,” ujar Merenefa.
“Kita di sini cari aman. Kita baku sayang. Kita semua yang tinggal di Bintuni harus baku sayang. Jaga kebersamaan di Bintuni,” tambah Merenefa.
Tokoh pemuda lainnya dari Tujuh Suku, Yehuda Ortua alias Pace Mosel, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menghargai hak-hak anak asli Tujuh Suku sebagai pemilik tanah dan penjaga adat di wilayah tersebut.
“Kami anak tujuh suku adalah pemilik negeri. Kami yang punya tanah. Kami kaki baabu. Jadi kami mohon kepada OAP lainnya, datang tinggal, diam. Tidak boleh intimidasi kami anak tujuh suku,” ujar Ortua.
Meski demikian, atas dasar keinginan untuk menjaga kedamaian dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, Ortua menyampaikan bahwa keluarga korban telah memilih untuk memberikan maaf kepada Maksi Nauw.
“Atas nama keluarga korban, kami memaafkan. Kami memohon untuk kita semua anak tujuh suku kita maafkan. Kita tidak boleh simpan dendam, kita [tidak boleh] mabuk baru kita lakukan hal yang tidak baik terhadap OAP lain dan nusantara. Sekarang kita hidup bergandengan tangan. Kita sama-sama membangun Bintuni bersama,” ujar Ortua.
Ia pun mengajak para pemuda yang ada di Teluk Bintuni untuk mendukung visi-misi Bupati dan Wakil Bupati dalam membangun Tanah Sisar Matiti.
“Harapan Bupati adalah Bintuni maju, Bintuni smart dan inovatif. Jadi teman-teman pemuda kita ikutilah moto (visi) Bapak Bupati,” ujar Ortua.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni





