Pasar Murah Ala Disperindag Provinsi Maluku di Tengah Ancaman Covid-19

Pasar murah ini telah digelar sejak 14 hingga 18 Mei lalu.


Ambon, suaradamai.com – Pemerintah Provinsi Maluku – setiap hari besar keagamaan – mempunyai program tahunan yaitu membuka pasar murah.

“Kita punya program tahunan saat hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal. Program itu adalah pasar murah yang dilakukan di satu tempat maupun mobile,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, Elvis Pattiselano, Rabu (20/5/2020).

Tahun ini, kata Elvis, walaupun di tengah kondisi pandemi Covid-19, Disperindag Maluku tetap menggelar pasar murah secara mobile

“Setelah saya lapor ke Pak Sekda (Kasrul Selang) dan juga Gubernur (Murad Ismail) bahwa pasar murah tetap kita laksanakan, tetapi kita ubah polanya, seluruhnya kita mobile,” paparnya.

Elvis katakan, sebelum pelaksanaan pasar murah, Disperindag Maluku telah lakukan koordinasi dengan para kepala desa di 17 desa yang ada di Kecamatan Leihitu dan Salahutu, Maluku Tengah dan 16 desa dan kelurahan di Kota Ambon.

“Sebelum pasar murah dimulai, kita sudah koordinasi dengan RT, Kepala Desa maupun Lurah di 33 desa Muslim,” sebutnya.

Pasar murah ini, menurut Elvis, telah digelar sejak 14 hingga 18 Mei lalu.

“Untuk efektif dan mempercepat, kita bagi dua tim. Satu tim melayani luar Kota Ambon, tepatnya Maluku Tengah 17 desa itu, satu tim melayani Kota Ambon. Kota Ambon itu mulai dari Laha sampai Pohon Mangga, ada 16 titik yang kita datangi,” ungkapnya.

Agar tidak menimbulkan kerumunan dan desak-desakan, maka pasar murah kali ini dibuat dalam bentuk paket.

“Dulu kita datang dengan mobil, siapa mau beli telur silakan, siapa mau beli apa terserah, tetapi sekarang kita buat dalam paket dan dalam paket ini subsidinya jauh lebih besar,” tandasnya.

Elvis menjelaskan, paket tersebut terdiri dari telur 1 rak, gula 2 kg, terigu 2 kg, minyak goreng 2 liter,  dijual ke masyarakat dengan harga Rp 50.000/paket .

Total enam ribu paket yang disiapkan oleh Disperindag dan semuanya habis terjual.

Ada 33 titik, satu titik itu berkisar antara 150 sampai 200 paket. Bagi desa atau kelurahan yang wilayah luas disediakan 250 paket.

“Kita bersyukur, karena selama pasar murah, masyarakat menaati anjuran pemerintah untuk memakai masker dan menjaga jarak.  Dengan waktu 4 hari dengan 33 titik tapi hasilnya kami rasa lebih maksimal dan tidak ada kerumunan. Masyarakat juga sadar setelah diberikan pemahaman. Mereka antri lalu kita  panggil satu per satu maju. Mereka bayar Rp 50.000. Ada yang buat di balai desa diatur kursi 6 jaga jarak, masuk 6 orang maju ambil, keluar baru 6 lagi masuk, jadi baguslah,” paparnya.

Editor: Tarsi Sarkol


Agar tidak menimbulkan kerumunan dan desak-desakan, maka pasar murah kali ini dibuat dalam bentuk paket.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU