Minggu, Juli 12, 2020

Update Covid

Perkembangan terkini virus corona di Provinsi Maluku

Beranda Lingkungan Problematika Sampah dan Pariwisata di Kepulauan Kei

Problematika Sampah dan Pariwisata di Kepulauan Kei

Leading sector pembangunan Maluku Tenggara dan Kota Tual adalah perikanan dan pariwisata, tetapi masalah sampah belum tertangani.

Suaradamai.com – Di destinasi wisata Bunaken, ketika sampah tidak terkelola dengan baik, telah mengakibatkan terjadinya penurunan kunjungan wisatawan asing ke daerah tersebut. Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manado menyatakan dalam 7 tahun terakhir telah terjadi penurunan kunjungan wisatawan sebesar 65% (liputan6.com, 23 Januari 2016).

Sebagaimana ditulis Majalah Suara Damai tahun 2015, seorang turis asal Kanada, Sarah, mengatakan bahwa dia sebenarnya rindu untuk kembali ke Kei setelah terpesona melihat keidahan alamnya. Namun karena masalah sampah, dia nyatakan tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Kondisi kebersihan di Kepulauan Kei semenjak dikunjungi Sarah, pun masih sama seperti saat ini. Berikut beberapa fakta tentang problematika sampah yang ditemui di Pasar Langgur, Pasar Tual, dan empat destinasi wisata.

Di Pasar Langgur, enam dari sembilan pedagang mengaku membuang sampah tidak pada tempatnya (tidak termasuk pengunjung), pedagang membuang sampah di atas aspal di area parkir depan tempat penjualan ikan; ada bak penampung yang berhari-hari tidak diambil sampahnya sehingga sampah berserakan dan menimbulkan bau tak sedap, bahkan muncul belatung; Kantor Pasar Langgur termasuk dalam wilayah yang kotor.

Kondisi yang tak terurus juga ditemui di tempat wisata seperti Pantai Ohoidertawun Atas dan Bawah, Pantai Ohoililir dan Ngurbloat (Pasir Panjang). Terdapat hamparan sampah plastik dan rumput laut di sepanjang pantai – sampah di Ohoidertawun lebih banyak – yang mengganggu kenyamanan wisatawan. Sampah plastik menghilangkan kesan keasrian lingkungan, sementara rumput laut menimbulkan bau tak sedap.

Ironisnya, salah satu pengelola tempat wisata di Ohoidertawun mengaku baru akan membersihkan lokasi wisata karena ada kunjungan kepala daerah beberapa hari yang akan datang.

Kondisi yang paling mencengangkan adalah banjir di Pasar Tual akibat tumpukan sampah yang menyumbat selokan pada Kamis, (2/1/20) lalu. Pemerintah saat itu terkesan tidak punya rencana mengantisipasi banjir pada musim hujan. Akibatnya, ada korban materi.

Situasi di Pasar Langgur, Pasar Tual, dan empat destinasi wisata di Malra membuktikan bahwa sampah memang bukan perkara mudah. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah hingga elemen masyarakat.

Penanganan sampah yang belum tersistem akan berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata di Kepulauan Kei. Sampah yang tidak terkelola dengan baik di kawasan wisata dapat mengganggu kenyamanan wisatawan dalam berwisata (Kurihara dalam Khalik, 2014). Kenyamanan menjadi kondisi sangat penting dalam industri pariwisata, selain keamanan (Kovari & Zimanyi, 2011).

Berhadapan dengan kondisi sampah di Kepulauan Kei, siapa yang bertanggungjawab? Bagaimana cara penanganan sampah yang tersistem?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ARTIKEL TERPOPULER

Pemkot Tual Pulangkan 254 Pelaku Karantina: Terbanyak Mahasiswa

Wali Kota memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menasihati pelaku karantina yang sebagian besar adalah pelajar mahasiswa.

Pengukuhan Rat Merohoinean Berlangsung “Maryadat”

Sebelum prosesi pengukuhan, tetua adat melakukan ritual pembersihan dan penyucian dalam tiga ritual berbeda.

Tahun 2021, Warga Ohoi Wermaf Miliki Rumah Layak Huni

Pemerintah Ohoi (Desa) Wermaf tidak tanggung-tanggung mengalokasikan anggaran jumbo untuk rehab rumah warga. Elat,...

Tinjau Tes CPNS, Bupati Malra: Cerdas Tapi Harus Teliti

“Cerdas tapi harus teliti dan kosentrasi dengan soal-soal yang ada. Sandarkanlah diri pada Tuhan,” ujar Bupati Malra M. Thaher Hanubun.

KOMENTAR TERBARU

error: Konten dilindungi !!