Di Kepulauan Aru, hampir semua orang bekerja keras. Petani pergi ke kebun sejak pagi. Nelayan turun melaut saat orang lain masih tidur. Kelapa dipanjat, teripang diselam, keringat jatuh setiap hari.
Tapi satu pertanyaan selalu muncul:
Kenapa kita tetap dibayar murah?
Selama ini banyak orang marah pada tengkulak. Ada yang menyalahkan pedagang besar. Ada juga yang bilang pasar tidak adil. Perasaan itu wajar. Tetapi ada satu hal penting yang jarang kita sadari.
Pasar tidak membeli “kelapa” atau “teripang” saja.
Pasar membeli kualitas, kebersihan, ukuran yang sama, dan jumlah yang pasti.
Kalau kelapa dijual campur-campur—ada yang tua, ada yang muda, ada yang kecil, ada yang besar—pembeli akan berani bayar murah.
Kalau teripang tidak dikeringkan dengan baik, kadar air tinggi, atau ukurannya tidak seragam, harganya pasti ditekan.
Bukan karena pasar jahat. Tetapi karena barang kita belum memenuhi standar.
Bayangkan begini. Kalau kita pergi beli beras, tentu kita pilih yang bersih dan tidak bercampur batu. Kalau ada dua penjual, satu bersih dan satu kotor, kita pasti pilih yang bersih walau sedikit lebih mahal. Begitu juga pembeli di luar daerah. Mereka memilih yang rapi, bersih, dan konsisten.
Masalah kita bukan kurang kerja keras. Masalah kita adalah cara kerja yang belum berubah.
Selama ini kita bekerja untuk “jual cepat”.
Padahal yang dibutuhkan adalah bekerja untuk “penuhi standar”.
Artinya apa?
– Kelapa dipilih yang benar-benar tua dan seragam.
– Teripang dikeringkan dengan cara yang benar.
– Hasil dipisahkan berdasarkan ukuran dan mutu.
– Produksi dijaga supaya jumlahnya stabil, tidak hari ini banyak, besok kosong.
Kalau mutu naik, harga ikut naik. Kalau cara kerja tetap sama, harga juga akan tetap rendah.
Inilah kenyataan yang harus kita terima dengan jujur. Harga murah bukan karena kita orang Aru. Bukan karena kita rakyat kecil. Tapi karena produksi kita belum kuat.
Kalau kita mau berubah cara kerja, belajar standar industri, dan mau disiplin dalam menjaga mutu, maka posisi kita akan berubah. Pembeli akan mencari kita, bukan kita yang selalu berharap.
Sudah waktunya kita berhenti hanya marah.
Sudah waktunya kita mulai belajar dan memperbaiki cara produksi.
Karena pada akhirnya,
Produksi menentukan harga.



