Sejalan dengan Bupati Kaidel, Akademisi Polikant: Sasi, Solusi Budidaya Teripang Berkelanjutan

Metode sea ranching yang berbasis kearifan lokal sasi sangat cocok diterapkan dalam budidaya teripang.


Tual, suaradamai.com – Pendapat akademisi Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), Pitjont Tomatala, mengenai metode sea ranching sejalan dengan rencana budidaya teripang yang digagas oleh Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bupati Kaidel berencana mengembangkan budidaya teripang secara alami berbasis kearifan lokal sasi. Menurutnya, budidaya teripang berbasis alam menjadi solusi ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Tomatala mengatakan, metode sea ranching yang berbasis kearifan lokal sasi sangat cocok diterapkan dalam budidaya teripang.

Ia menjelaskan bahwa sea ranching adalah metode membudidayakan teripang dengan cara melepas bibitnya secara alami di laut, lalu membiarkannya tumbuh dan berkembang biak selama periode waktu tertentu.

Selama masa itu, kearifan lokal sasi atau larangan adat digunakan sebagai alat untuk memproteksi dan menjaga teripang yang masih dalam proses pertumbuhan.

“Sasi ini kan kearifan lokal yang ada di Maluku dan Papua. Kalau kita sasi, biasanya lebih bersifat sakral. Sehingga orang takut ambil sesuatu yang kita sasi,” jelas Tomatala.

Tomatala menyebutkan bahwa metode ini sangat sesuai dengan karakteristik biologis teripang yang memiliki mobilisasi rendah.

“Teripang ini punya mobilisasi rendah. Tidak bergerak ke mana-mana seperti ikan yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Teripang memang mobilisasinya ada, cuma kecil dan dia lebih banyak standby atau tetap ada di daerah tersebut,” terang Tomatala.

Dengan pendekatan sea ranching berbasis sasi, lanjut Tomatala, budidaya teripang tidak hanya terbatas pada ruang perairan tertentu. Sistem ini juga bisa diterapkan di wilayah laut yang tenang maupun yang bergelombang.

“Jadi budidaya intensif menggunakan wadah budidaya, itu dia terbatas pada perairan tertentu saja. Sedangkan sasi ini bisa lebih, meluas, lebih luas areal atau cakupannya,” jelas Tomatala.

Selain cakupan yang lebih luas, metode ini juga tidak memerlukan biaya besar di tahap awal. Bibit teripang bisa langsung ditebar di alam tanpa perlu menyediakan wadah budidaya dan pakan buatan.

“[Budidaya terkontrol bagus] Tapi memang harus dikontrol pakan dan kualitas airnya. Kalau teripang ini kalau kita budidaya di alam, itu kalau perairannya bagus, tidak perlu kita kasih makan juga. Alam yang menyediakan makanan,” jelas Tomatala.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak dan kondisi lingkungan yang optimal. Praktik penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan racun, bore, atau bom ikan dapat merusak habitat dan memengaruhi pertumbuhan teripang.

“Kalau kita buat sasi, kita berharap tidak ada penangkapan ikan secara destruktif atau merusak sehingga perairan yang di-sasi itu tidak tercemar dengan kegiatan destruktif misalnya racun atau bore dan sebagainya. Sehingga teripang yang kita sasi itu bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik,” jelas Tomatala.

Editor: Labes Remetwa


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

FGD Polikant Dorong Integrasi Sertifikasi Halal dan Keamanan Pangan di Kepulauan Kei

“Supaya masyarakat bisa mawas diri dalam mengonsumsikan bahan pangan...

PT Cakra Mina Perkasa Siap Bangkitkan Sektor Perikanan di Aru, Bupati Ajak Masyarakat Dukung!

"Dengan adanya perusahaan ini, kami berharap dapat meningkatkan perekonomian...

Fossa Imbau 19 Marga di Sumuri Selesaikan Sengketa Tanah Ulayat Secara Adat

Ketua LMA Suku Sumuri, Tadius Fossa, menekankan bahwa SK...

BPPRD Kota Ambon Klarifikasi Seruan Aksi, Tegaskan Pajak MBLB Bukan Retribusi

Ambon, suaradamai.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Badan Pengelolaan...