SMK Kasih Theresia, Sekolah Kejuruan Pertama di Pulau Kei Besar

Pulau Kei Besar terdiri atas lima kecamatan, salah satunya Kecamatan Kei Besar. Di kecamatan inilah letak SMK Kasih Theresia. Sekolah ini bergerak di bidang pariwisata. SMK Kasih Theresia juga merupakan sekolah kejuruan pertama yang membuka jurusan ekonomi perbankan di Kabupaten Maluku Tenggara.


Langgur, suaradamai.com – Perkembangan dunia pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara semakin baik. Beberapa tahun belakangan, muncul sekolah-sekolah baru. Salah satunya, SMK Kasih Theresia Bombay.

SMK Kasih Theresia terletak di Ohoi (Desa) Bombay, Kecamatan Kei Besar, Pulau Kei Besar. Kehadiran sekolah yang bergerak di bidang pariwisata ini, menjadikannya sebagai SMK pertama di Pulau Kei Besar. SMK Kasih Theresia juga merupakan sekolah kejuruan pertama yang membuka jurusan ekonomi perbankan di Maluku Tenggara.

Sekolah ini didirikan oleh alumni SMA Negeri 1 Maluku Tenggara (Elat), Amon Fautngiljanan. Setelah lulus, Amon bekerja sebagai operator sekolah di sejumlah sekolah di Timika, Papua, hingga sekarang. Sebagai operator Ia punya kesempatan membangun jaringan di tingkat daerah hingga pusat.

Berbekal pengalamannya selama kurang lebih lima tahun sebagai operator sekolah dan berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris dan PGSD, Amon tergerak untuk mendirikan sekolah baru di Kei Besar.

Amon punya alasan masuk akal mengapa Ia harus berjuang mendirikan SMK Kasih Theresia. Pertama, sektor unggulan pembangunan di Malra adalah pariwisata, yang mana Malra masih membutuhkan tenaga-tenaga terampil di bidang tersebut.

Kedua, mengurangi rentang kendali. Sekolah yang terdekat bagi anak-anak Ratschaap Hoar Ngutru di Kei Besar, menurut Amon, adalah SMA Negeri 1 Malra yang terletak di Ohoi Elat. Anak-anak Hoar Ngutru harus merogoh kocek hingga Rp780.000-Rp1.040.000 per bulan hanya untuk biaya transportasi, untuk menempuh jarak sekitar 4-15 km ke ibu kota kecamatan.

Ketiga, mengurangi angka putus sekolah. Menurut Amon, anak-anak Bombay memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan anak-anak Elat. Setiap tahun terjadi tawuran. Karena lokasi SMA Negeri 1 Elat terletak di wilayah adat Ratschaap Hoar Ngutru, sering terjadi pemasangan “sasi” yang berakar dari perkelahian antar siswa.

“Dampak dari itu, sangat banyak, tertinggi bahkan, angka putus sekolah di wilayah kami, yakni Bombay dan sekitarnya,” ungkap Amon kepada Suara Damai melalui telepon, baru-baru ini.

Amon kemudian bekerja keras. Ia bahkan harus menyisihkan sekian rupiah dari gajinya yang kurang dari Rp1.000.000 per bulan, untuk mengurus pendirian sekolah baru. SMK Kasih Theresia dinyatakan resmi berdiri pada tanggal 6 Juli 2021.

Dapat dukungan dari 14 perusahaan/lembaga

Salah satu syarat pendirian SMK adalah ada dukungan dari instansi terkait. Kurang lebih ada 14 perusahaan dan lembaga yang mendukung SMK Kasih Theresia, yakni Asita, Pata Indonesia, BPPD Malra, PHRI, RRI Tual, Bank Mandiri Cabang Langgur, dan Ngurbloat Beach/APDW.

Kemudian Rumah Kreatif BUMN PT. Telkom, Bukit Indah, Exotikei, Dinas Pariwisata Malra, Times Indonesia, PT. Pelni Cabang Tual, dan Paroki Hati Kudus Yesus Bombay.

“Jadi, selain dari pemerintahan, swasta dan gereja juga mendukung. Rata-rata perusahaan/lembaga ini kantor pusatnya di Jakarta,” jelas Amon.

Dua jurusan di SMK Kasih Theresia

SMK Kasih Theresia Bombay memiliki dua jurusan, yaitu Usaha Perjalanan Wisata (UPW) dan Ekonomi Perbankan.

Sesuai namanya, Jurusan Usaha Perjalanan Wisata bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang mampu membuat usaha perjalanan wisata melalui paket-paket wisata.

Sementara, untuk jurusan yang kedua, menurut Amon, hanya ada satu alasan mengapa harus membuka jurusan ini, yaitu Maluku Tenggara belum memiliki sekolah yang membuka jurusan ekonomi perbankan.

“Jadi biarkan kami yang pertama,” ujar lulusan Universitas Cendrawasih itu.

SMK Kasih Theresia sudah memiliki lahan untuk pembangunan sekolah, namun belum ada gedung. Saat ini, mereka menggunakan bangunan SD Naskat Bombay atas izin Gereja Katolik Keuskupan Amboina, Kepala Sekolah, dan Penjabat Kepala Ohoi Bombay.

Untuk saat ini, para siswa belajar menggunakan sistem pergantian, anak-anak SD di pagi hari, dan siang untuk siswa SMK.

Kurikulum: 75 persen praktek, 25 persen teori

SMK Kasih Theresia memprioritaskan pelajaran jurusan, ketimbang pelajaran umum. Mereka menerapkan sistem “75 persen praktek dan 25 persen teori” dalam kurikulumnya.

Selain itu, setelah melakukan analisa mendalam, Amon menyimpulkan bahwa dunia kerja membutuhkan tiga hal, yang pertama adalah kemampuan berbicara di depan umum, kemampuan mengoperasikan komputer, dan kemampuan berbahasa asing.

“Kalau kegiatan ekstrakulikuler sekolah lain adalah pramuka, olahraga, dan lain-lain. Kami, tiga hal itu. Ini kami masukkan dalam kurikulum sehingga setiap hari Sabtu, semua siswa wajib mengikuti tiga kegiatan tersebut,” jelas Amon.

Tidak sebatas itu, SMK Kasih Theresia juga akan menyediakan TUK, Tempat Ujian Kompetensi. Jadi selain menilai siswa berdasarkan keahliannya di jurusan, mereka juga menilai tiga kompetensi tersebut.

“Jadi ketika siswa lulus, mereka tidak hanya dapat ijazah, tetapi juga sertifikat kompetensi SMK, bahasa Inggris, Komputer, dan Public Speaking. Satu ijazah tambah empat sertifikat, saya pikir, cukup bagi lulusan untuk mencari pekerjaan,” papar Amon.

Amon menambahkan, pihaknya bahkan akan mendatangkan penguji dari Bali untuk menguji kemampuan berbahasa Inggris, dalam rangka mendapat sertifikat TOEFL atau IELTS.

Empat dosen dari Australia, lanjut Amon, sudah siap mendukung program ini.

“Tujuannya cuma satu, ketika lulusan tidak mau kerja dan mau lanjut kuliah, maka sertifikat TOEFL dan IELTS ini menjadi kunci bagi mereka untuk mengakses beasiswa di dalam maupun luar negeri,” ungkap Amon.

Jamin dunia kerja yang cari lulusan SMK Pariwisata

Amon optimis, lulusan SMK Kasih Theresia tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan, menurut dia, dunia kerja yang akan mencari lulusan sekolah tersebut.

Hal ini bisa terwujud, lanjut Amon, jika para siswa berproses dengan baik di SMK Kasih Theresia. Kemudian orangtua mendukung dalam segala hal, termasuk mendorong anak ke sekolah, membantu pihak sekolah, dan hal lain dalam mengembangkan kapasitas siswa.

“Saya jamin siswa ketika selesai itu, pekerjaan yang cari dia. Bukan dia yang cari pekerjaan. Karena straegi ini sudah diatur secara matang berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman,” ujar Amon.

Pengalaman yang Amon maksud adalah niat berusaha yang tinggi. Ia bersama sejumlah teman yang juga akan menjadi tenaga pengajar di SMK Kasih Theresia, pernah mendapat beasiswa untuk ke perguruan tinggi.

“Kami ini sudah sebagai bukti bahwa, tanpa uang tetapi kita punya kemampuan, pemerintah pasti bantu kita,” jelas Amon.

Untuk diketahui, pada tahun ajaran 2021/2022 ini, SMK Kasih Theresia sudah memiliki sekitar 25 sampai 30 siswa angkatan pertama dan tenaga pengajar sebanyak 22 orang.

“Kita memang tinggal di kampung, tapi kita tidak kampungan. Dulu itu kami anak-anak kampung sekolah di kota. Akan ada saat anak-anak kota datang cari pendidikan di kampung. Karena di sana ada sesuatu yang beda. Jadi kami beda dengan sekolah lain. Kalau kami tampil sama saja untuk apa sekolah ini dibuka? Kami bawa nuansa yang beda,” ujar Amon menutup pembicaraan.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU