Untuk itu, PDIP Maluku kata Benhur akan terus memperjuangkan aspirasi ini agar pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap jasa-jasa A.M. Sangadji yang telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ambon, suaradamai.com – Kekecewaan atas pengangkatan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional saat ini menggema di seluruh pelosok tanah air.
Padahal secara resmi, Presiden Prabowo Subianto telah mengangkat beberapa nama menjadi pahlawan nasional.
Penggelaran kepada para tokoh termasuk Soeharto tersebut digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Sekretaris Militer Presiden menyatakan penetapan pahlawan nasional ditetapkan berdasarkan Keppres No 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Dimana, dalam pengukuhan ini ada 10 tokoh termasuk Soeharto.
Hanya saja banyak yang menganggap pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional itu tidak layak.
Salah satu suara kekecewaan tersebut datang dari Ketua DPD PDI-Perjuangan Maluku, Benhur George Watubun.
Pasalnya, dari Maluku pengusulan nama Abdoel Muthalib Sangadji atau Djago Toea telah didorong dari tahun 2022 lalu, baik dari keluarga maupun masyarakat luas, namun Soeharto ternyata lebih diprioritaskan.
“PDI Perjuangan menolak keras langkah pemerintah yang justru memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh-tokoh lain yang dinilai memiliki catatan kelam dalam sejarah, termasuk mantan Presiden Soeharto,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Menurutnya, sejumlah kader PDI Perjuangan menolak karena punya sejarah kelam, banyak pelanggaran HAM, dan sebagainya.
“Jadi menurut kami, A.M. Sangadji harusnya diprioritaskan, bukan Soeharto,” kesalnya.
Untuk itu, PDI Perjuangan Maluku, akan terus memperjuangkan aspirasi ini agar pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap jasa-jasa A.M. Sangadji yang telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Kami akan memperjuangkan keberpihakan yang adil terhadap perjuangan tokoh-tokoh daerah, khususnya dari Maluku,” pungkasnya.





