Pada Juli ini, Pemkab Aru akan mengadakan musyawarah adat. Salah satu agendanya adalah sosialisasi tentang kelapa dan budidaya teripang.
Dobo, suaradamai.com – Gagasan Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel untuk masa depan petani adalah pengembangan kelapa, yang ia juluki sebagai pohon emas.
Kaidel tengah mendorong petani di Aru untuk menanam 10 juta pohon kelapa dan bakal dikelola secara berkelanjutan.
Tak hanya petani, Kaidel ternyata juga mendorong sumber ekonomi berkelanjutan bagi nelayan dan masyarakat pesisir, yakni budidaya teripang.
Bupati Kaidel juga melihat peluang emas dari komoditi teripang yang menurutnya selama ini kurang dimaksimalkan.
Ia menargetkan pengembangan budidaya alam teripang sebagai solusi ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Potensi ekonomi teripang ini terbilang besar. Dalam skema budidaya alam yang Kaidel rancang, satu keluarga pesisir ditargetkan bisa memanen setidaknya 20 kilogram teripang per tahun.
Dengan harga pasar mencapai Rp5 juta per kilogram untuk ukuran besar, nilai totalnya bisa menyentuh Rp100 juta per keluarga per tahun.
“Teripang ukuran size besar itu sudah di harga Rp5 jutaan per kilonya. Kalau 20 kilo berarti sekitar Rp100 jutaan. Kalau kita bagi per 12 bulan. Berarti tiap-tiap bulan itu setiap keluarga bisa menghasilkan sekitar Rp8 juta lebih. Kalau kedepan ini berhasil, masyarakat pesisir kita yang tadi miskin ekstrem, menjadi masyarakat yang sejahtera,” ujar Bupati Kaidel.
Kaidel yakin Aru memiliki kondisi geografis yang sangat mendukung budidaya teripang berbasis alam. Terumbu karang, ekosistem pesisir, dan tradisi adat “sasi” menjadi modal penting dalam pengelolaan berkelanjutan.
Meski negara-negara maju seperti Jepang dan China telah berhasil membudidayakan banyak jenis biota laut, teripang masih menjadi pengecualian. Budidaya teripang secara buatan dinilai menurunkan kualitasnya.
“Teripang kenapa tidak bisa dibudidaya, bisa dibudidaya. Cuman, kualitasnya jadi menurun sehingga konsumen itu tidak tertarik dengan teripang budidaya. Karena itu, kita kembali kepada alam, budidaya alam,” ujar Kaidel.
Karena itu, pendekatan budidaya alam kembali dihidupkan. Melalui musyawarah adat yang akan digelar bulan Juli ini, Pemkab Aru bersama masyarakat adat akan menyusun aturan baru dalam penangkapan teripang, termasuk soal waktu panen dan ukuran tangkap.
Tujuannya adalah memastikan regenerasi teripang agar produksi tidak terus menurun seperti sekarang.
“Supaya tahun depan lagi kita atur siklusnya. Supaya besok lagi dipanen terus, dan dipanen, dipanen terus. Ini bisa berkesinambungan. Yang penting kita tetap jaga lingkungan alam kita. Terumbu karang kita jaga, pesisir pantai kita, laut kita, kita jaga. Ini jadi mata rantai ekonomi atau mata rantai produksi nanti kedepan orang Aru pesisir itu akan menikmati laut pesisirnya terus,” jelas Kaidel.
Dulu, menurut Kaidel, Kepulauan Aru bisa memproduksi hingga 100 ton teripang per tahun, terutama jenis teripang gosok. Namun kini, produksi menurun drastis, dan untuk menghasilkan 1 ton saja sangat sulit. Hal ini akibat penangkapan liar tanpa memperhatikan siklus hidup teripang.
Melalui pendekatan baru yang berbasis pada kearifan lokal dan prinsip ekonomi biru, Kaidel berharap teripang bisa menjadi komoditas unggulan yang menyelamatkan ekonomi pesisir.
“Kalau kedepan ini berhasil, masyarakat pesisir kita yang tadi miskin ekstrem, menjadi masyarakat yang sejahtera,” tegas Kaidel.
Editor: Labes Remetwa





