Budidaya teripang di Kota Tual memasuki babak baru. Lewat kemitraan Polikant dan Kelompok Salterai, riset kampus dipadukan dengan praktik lapangan untuk melahirkan inovasi, meningkatkan kualitas lulusan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Langgur, suaradamai.com – Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) dan Kelompok Salterai Teripang Center Kota Tual, Jumat, 3 Juli 2026, bukan sekadar kesepakatan membuka tempat magang bagi mahasiswa. Di balik dokumen yang ditandatangani di ruang kerja Direktur Polikant itu, kedua pihak sedang merancang satu ekosistem budidaya teripang yang menghubungkan kampus, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kerja sama tersebut menempatkan budidaya teripang sebagai titik temu antara tridharma perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat. Kampus menyediakan riset, tenaga ahli, laboratorium, serta mahasiswa. Kelompok Salterai menghadirkan pengalaman lapangan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Keduanya saling melengkapi.
Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Polikant, Dr. Nini M. Renur, mengatakan kolaborasi itu tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga mendukung pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen.
“Kerja sama ini bukan hanya terkait mahasiswa, tetapi juga dosen. Dosen membutuhkan ruang untuk penelitian dan pengabdian, sementara Salterai memang fokus pada budidaya teripang. Jadi kolaborasi ini saling menguatkan,” kata Nini.
Ia menjelaskan, mahasiswa nantinya tidak hanya menjalani magang. Mereka akan mengikuti praktik kerja lapangan sekaligus mempelajari seluruh tahapan budidaya, mulai dari pembenihan hingga pembesaran teripang.
Polikant, kata Nini, juga membuka akses pemanfaatan laboratorium kampus apabila dibutuhkan untuk mendukung pengujian budidaya. Sebaliknya, keberadaan Kelompok Salterai menjadi laboratorium lapangan bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
“Harapan kami bukan hanya Polikant yang membutuhkan Salterai, tetapi Salterai juga mendapatkan pendampingan dan dukungan fasilitas yang kami miliki. Kolaborasi ini harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Implementasi kerja sama akan dimulai pada semester depan melalui program magang dan praktik kerja lapangan mahasiswa, terutama dari Program Studi Teknologi Budidaya Perikanan (TBP) dan Manajemen Rekayasa Budidaya Laut (MRBL).
Namun, target yang ingin dicapai tidak berhenti pada proses pembelajaran. Polikant berharap pengembangan budidaya teripang dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Selama ini, kata Nini, teripang lebih banyak dikenal sebagai biota laut yang tumbuh alami. Padahal, komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi dikembangkan melalui budidaya.
“Kalau ilmu ini berkembang di masyarakat, kami berharap akan lahir kelompok-kelompok budidaya baru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di Kota Tual maupun Kabupaten Maluku Tenggara,” katanya.
Ketua Kelompok Salterai Teripang Center Kota Tual, George Kolyaan, menilai Polikant merupakan mitra yang paling tepat untuk mengembangkan budidaya teripang karena memiliki kompetensi di bidang perikanan.
“Fokus kami budidaya teripang. Karena itu kami memilih bekerja sama dengan Politeknik Perikanan Negeri Tual yang memang memiliki keahlian di bidang tersebut,” ujarnya.
Melalui MoU itu, Kelompok Salterai membuka ruang bagi mahasiswa untuk menjalani praktik kerja maupun magang. Menurut George, keberadaan lokasi praktik di Kota Tual juga menjadi solusi terhadap kebijakan efisiensi anggaran karena mahasiswa tidak perlu lagi mencari lokasi magang di luar daerah.
“Kalau mau belajar budidaya teripang, sekarang tidak perlu jauh-jauh keluar daerah. Di sini sudah ada tempat yang bisa menjadi lokasi belajar sekaligus praktik,” katanya.
Bagi George, kerja sama tersebut bukan hubungan yang benar-benar baru. Sebelumnya, Polikant telah beberapa kali mendampingi kelompoknya melalui berbagai program pengembangan budidaya.
Karena itu, ia berharap kemitraan yang telah dibangun tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis, penelitian, dan pengembangan usaha budidaya teripang.
“Kami tentu masih memiliki banyak kekurangan. Kehadiran kampus melalui pendampingan akan sangat membantu pengembangan budidaya teripang ke depan,” ujarnya.
Sebagai alumni Polikant, George mengaku menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi dapat melahirkan wirausaha. Ia kini mengembangkan usaha budidaya teripang sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Karena itu, ia mengajak generasi muda di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara untuk memilih Polikant sebagai tempat menempuh pendidikan.
“Politeknik Perikanan Negeri Tual sudah terbukti melahirkan lulusan yang mampu bekerja dan bahkan menciptakan lapangan kerja. Saya salah satu contohnya,” kata George.
