Dulu ikan asap hanya bertahan dua hingga tiga hari. Kini, berkat inovasi drum pengasapan dari PKM Polikant, produk UMKM Ngurfruan mampu bertahan hingga tiga bulan dalam penyimpanan dingin, membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai jual.
Langgur, suaradamai.com – Asap tipis mengepul dari sebuah drum pengasapan di Lokasi Wisata Ngurbloat, Desa Ngilngof, Kabupaten Maluku Tenggara, Kamis, 2 Juli 2026. Bukan sekadar proses mengolah ikan, melainkan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk UMKM melalui inovasi teknologi yang diperkenalkan Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant).
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu menyasar Kelompok UMKM Ngurfruan, pelaku usaha olahan ikan di Desa Ngilngof. Tim PKM yang diketuai Angel Amahorseja, S.Pi., M.Si., bersama anggota Ismail Marasabessy, S.Pi., M.Si., tidak hanya memberikan pelatihan teknik pengasapan ikan, tetapi juga membekali peserta dengan materi sanitasi, perizinan usaha, pengemasan, hingga pengelolaan buku kas.
“Mengapa kita memilih UMKM Ngurfruan ini karena salah satu olahannya adalah ikan bakar,” kata Ketua Tim PKM, Angel Amahorseja.
Selain pelatihan, tim menyerahkan sejumlah peralatan produksi berupa drum pengasapan ikan, alat pengemas vakum, lemari pendingin, dan etalase kaca. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas produk yang dihasilkan kelompok.
Pelatihan itu membuahkan hasil. Peserta berhasil memproduksi ikan asap dengan metode baru yang kemudian diberi nama Ikan Asap Ngurbloat.
Menurut Angel, inovasi pengasapan tersebut memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki metode pengasapan tradisional. Jika ikan asar pada umumnya hanya mampu bertahan dua hingga tiga hari, produk hasil inovasi ini dapat bertahan sekitar satu minggu pada suhu ruang. Masa simpannya bahkan mencapai dua hingga tiga bulan apabila disimpan di dalam lemari pendingin.
“Kami sangat berharap dengan adanya kegiatan ini kelompok Ngurfruan dapat menjadikan ikan asap menjadi lebih terkenal dan meningkatkan pendapatan kelompok,” ujarnya.
Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual, Dr. Usman Madubun, menyerahkan bantuan peralatan kepada Katarina Resubun mewakili Kelompok Ngurfruan. Penyerahan itu disaksikan anggota kelompok dan tim penyelenggara kegiatan.
Usman mengatakan pelatihan saja tidak cukup. Karena itu, Polikant melengkapinya dengan dukungan sarana produksi agar ilmu yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan dalam kegiatan usaha.
“Ini adalah salah satu bentuk dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu pelatihan; dan untuk menjembatani pelatihan ini kita menyerahkan beberapa bantuan dengan harapan bahwa setelah kelompok memperoleh pengetahuan terkait dengan pengasapan ikan dan pemasarannya, maka kita berharap pertama adalah pengetahuan diserap dengan baik, kedua, peralatan ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh kelompok supaya meningkat omsetnya, dan yang ketiga, ini akan berkelanjutan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran,” kata Usman.
Melalui program pengabdian ini, Polikant berharap teknologi pengasapan yang lebih modern dapat membantu UMKM menghasilkan produk yang lebih berkualitas, memiliki daya simpan lebih panjang, serta mampu menembus pasar yang lebih luas. Dengan begitu, ikan asap tidak hanya menjadi produk olahan tradisional, tetapi juga komoditas bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha di Kabupaten Maluku Tenggara.
Naskah ini sudah mengikuti ciri khas Tempo: pembuka yang deskriptif, fokus pada fakta dan dampak, kutipan ditempatkan sebagai penguat informasi, serta penutup yang menegaskan makna program tanpa berlebihan.
