Mahasiswa TPI Polikant mengembangkan balok pupuk slow release untuk mempercepat terbentuknya rantai makanan di sekitar rumpon. Teknologi itu sedang diuji sebagai upaya meningkatkan agregasi ikan pelagis di perairan Maluku Tenggara.
Langgur, suaradamai.com – Transformasi digital kini bukan lagi milik perusahaan besar. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor perikanan pun mulai didorong untuk memanfaatkan teknologi agar mampu memperluas pasar. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Studi Agrobisnis Perikanan (AGP) melaksanakan Project Based Learning (PBL) bertema Digital Marketing Produk Perikanan UMKM yang dipusatkan di Ohoidertawun, Senin (29/6/2026).
Program ini menjadi langkah baru Prodi AGP dalam menghubungkan proses pembelajaran di kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pemasaran digital, tetapi juga ditugaskan mendampingi langsung pelaku usaha untuk membangun identitas merek, mengelola media sosial, hingga membuka akses penjualan melalui marketplace.
Manajer Proyek PBL Prodi AGP, Robert Teniwut, menjelaskan bahwa tema digital marketing dipilih karena potensi produk perikanan lokal dinilai sangat besar, namun belum sepenuhnya didukung strategi pemasaran berbasis teknologi.
Menurutnya, keberhasilan sebuah usaha saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan menjangkau konsumen melalui ruang digital. Karena itu, PBL dirancang sebagai inovasi yang menggabungkan pembelajaran mahasiswa dengan penguatan daya saing UMKM.
Sebagai mitra utama, Prodi AGP memilih UMKM Sid Sarmad yang dipimpin Ulfa Haer. Usaha tersebut dinilai memiliki produk yang telah dikenal masyarakat Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, serta menunjukkan keberlanjutan dalam kegiatan produksinya.
“Ada satu usaha yang menjadi pilihan kami untuk inovasi ini karena usaha itu sangat populer dan terus berkelanjutan dalam hal produksi di Kota Tual dan Maluku Tenggara. Namanya Sid Sarmad yang diketuai oleh Ibu Ulfa Haer,” ujar Robert Teniwut.
Meski telah memiliki pasar lokal, Robert menilai potensi Sid Sarmad masih bisa berkembang jauh lebih luas apabila memanfaatkan pemasaran digital secara optimal. Selama ini, promosi usaha tersebut belum dilakukan secara maksimal melalui media sosial maupun platform perdagangan elektronik.
“Usaha milik Ibu Ulfa belum dikembangkan lewat media sosial. Maka dengan alasan itu, mahasiswa dan para dosen ingin mengembangkan lewat platform medsos seperti Shopee, membuat konten, dan lain-lain yang akan dikerjakan sendiri oleh mahasiswa-mahasiswa dari Prodi AGP,” katanya.
Melalui proyek ini, mahasiswa akan bertanggung jawab menyusun strategi pemasaran digital secara menyeluruh. Kegiatan meliputi pembuatan konten promosi berupa foto dan video produk, pengelolaan akun media sosial, penyusunan identitas visual usaha, hingga membuka dan mengoptimalkan toko daring melalui marketplace seperti Shopee.
Seluruh rangkaian pekerjaan ditargetkan selesai dalam waktu satu bulan. Modul pembelajaran telah diberikan kepada mahasiswa sebagai panduan pelaksanaan proyek sehingga setiap tahapan dapat dijalankan secara mandiri dengan pendampingan dosen.
Lebih dari sekadar memenuhi capaian pembelajaran, PBL ini menjadi implementasi nyata konsep learning by doing. Mahasiswa memperoleh pengalaman bekerja bersama pelaku usaha, memahami tantangan pemasaran produk perikanan, sekaligus menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat.
Di sisi lain, UMKM Sid Sarmad diharapkan memperoleh manfaat berupa peningkatan kapasitas pemasaran digital, perluasan jangkauan konsumen, serta peluang peningkatan penjualan melalui pemanfaatan teknologi.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM dapat menjadi salah satu strategi mempercepat transformasi digital sektor perikanan. Dengan memanfaatkan kreativitas mahasiswa dan pendampingan akademisi, produk-produk perikanan lokal memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar yang lebih luas, sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di era ekonomi digital.
