Langgur, suaradamai.com — Dua puluh tahun ke depan, Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) tidak ingin sekadar menjadi kampus yang berdiri di tengah besarnya potensi kelautan dan perikanan Kepulauan Kei. Kampus vokasi ini membangun visi yang lebih jauh: menghasilkan sumber daya manusia kompeten, menggerakkan riset dan inovasi, memberi dampak bagi masyarakat, hingga berkembang sebagai pusat unggulan pengembangan kelautan dan perikanan.
Direktur Polikant Dr. Usman Madubun, S.Pi., M.Si. menggambarkan arah itu dengan sebuah metafora: Polikant tidak boleh menjadi “menara gading”. Ia harus menjadi “menara air”—kampus yang ilmu pengetahuan, keahlian, riset dan fasilitasnya memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Kita ingin Polikant punya dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi wilayah sekitarnya, Kepulauan Kei, Provinsi Maluku, bahkan Indonesia. Itu kita lakukan melalui riset, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, sehingga Polikant tidak berdiri sebagai menara gading, tetapi menjadi menara air bagi kita semua,” kata Usman.
Visi tersebut kini mulai diterjemahkan dalam perencanaan jangka panjang melalui penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Roadmap Pengembangan Program Studi Polikant 2025–2045.
Pembahasannya melibatkan unsur internal kampus hingga para pemangku kepentingan di luar Polikant melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen RPJP dan Roadmap Pengembangan Program Studi Polikant 2025–2045, di Hotel Lorbi, kawasan PT SIS, Desa Ngadi, Kota Tual, Senin (6/10/2026).
FGD berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 20.00 WIT, diikuti 39 peserta dan dua narasumber. Peserta berasal dari pimpinan dan Senat Polikant, ketua jurusan dan program studi, pimpinan unit/bagian, tim penyusun RPJP, perwakilan alumni, mitra dunia usaha dan dunia industri, serta Pemerintah Kota Tual dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara.
Bagi Usman, RPJP bukan sekadar dokumen administratif. Ia akan menentukan arah perjalanan Polikant dalam dua dekade mendatang.
“RPJP itu kebutuhan bagi lembaga. Dia menjadi kompas, menjadi pedoman ke arah mana kampus ini akan berlabuh. Jadi, dia mengarahkan kita berlayar untuk sampai ke tujuan yang kita inginkan,” ujarnya.
Rentang perencanaan hingga 2045 dipilih untuk menyelaraskan perjalanan Polikant dengan momentum Indonesia Emas 2045 dan arah pembangunan jangka panjang nasional.
“Kenapa RPJP-nya 20 tahun dan bertepatan dengan 2045? Karena 2045 adalah Indonesia Emas. Kita menyesuaikannya dengan rencana jangka panjang nasional dan berharap RPJP Polikant bisa bersinergi dengan perencanaan nasional maupun Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” kata Usman.
Namun, pertanyaan yang lebih besar bukan sekadar bagaimana menyusun dokumen tersebut.
Polikant ingin menjadi apa pada 2045?
Tiga Wajah Polikant 2045
Usman memproyeksikan sedikitnya tiga perubahan besar.
Pertama, Polikant harus mampu menghasilkan lulusan yang dapat langsung terserap dunia kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
“Kita berharap setelah 20 tahun Polikant bisa menghasilkan lulusan yang, pertama, langsung bekerja dan terserap. Kedua, mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan apabila tidak masuk ke sektor swasta,” ujarnya.
Target tersebut menuntut perubahan dalam proses pendidikan. Kompetensi akademik saja tidak cukup. Lulusan harus memiliki keterampilan praktis, karakter dan soft skill yang membuat mereka mampu beradaptasi di tengah masyarakat maupun dunia kerja.
“Kita harus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada supaya proses pembelajaran menghasilkan lulusan yang punya kompetensi, siap bekerja, dan punya karakter serta soft skill yang bisa diterima di masyarakat dan dunia kerja,” kata Usman.
Target kedua menyangkut kemandirian finansial institusi.
Usman menginginkan pada masa mendatang Polikant mampu memenuhi sedikitnya separuh kebutuhan pembiayaannya melalui kemampuan institusi sendiri, sementara separuh lainnya tetap berasal dari pemerintah.
“Saya ingin Polikant paling tidak 50:50 mampu membiayai dirinya. Lima puluh persen dari kita sendiri dan 50 persen dari pemerintah,” katanya.
Sumbernya bukan dengan membebankan biaya lebih besar kepada mahasiswa.
“Artinya, perolehan kita dari PNBP non-Uang Kuliah Tunggal. Jadi bukan berasal dari mahasiswa, tetapi dari apa yang kita kelola, aset yang kita punya, keahlian yang kita miliki, produk-produk yang kita hasilkan, dan paten yang kita punya. Itu bisa memberikan Polikant PNBP yang cukup besar,” jelasnya.
Target ketiga menyentuh alasan paling mendasar keberadaan Polikant: dampaknya bagi lingkungan tempat kampus itu berdiri.
“Kehadiran Polikant jangan sampai dinilai ada atau tidak ada, tidak punya pengaruh apa-apa. Itu yang ingin saya hindari,” kata Usman.
Karena itu, Polikant harus berkembang menjadi institusi yang dibutuhkan.
“Polikant harus menjadi rujukan, menjadi kebutuhan. Polikant perlu ada, perlu eksis, dan perlu terus didorong serta didukung untuk keberhasilannya di masa depan,” ujarnya.
Fondasi Dibangun dari Sekarang
Visi 2045 tidak dapat dicapai sekaligus.
Bagi Usman, tugas paling penting dalam periode kepemimpinannya saat ini adalah memperkuat fondasi agar perjalanan 20 tahun tersebut mempunyai titik berangkat yang kokoh.
“Periode berikutnya masih di awang-awang, kita belum tahu nanti seperti apa. Tetapi periode sekarang, yang perlu kita lakukan adalah memantapkan kondisi saat ini, memantapkan fondasi dari perencanaan 20 tahun itu,” katanya.
Ia menekankan tiga fondasi: sumber daya manusia, sarana-prasarana, serta kurikulum dan proses pembelajaran.
“Perencanaan 20 tahun akan berjalan kalau kita memantapkan kondisi saat ini. Sumber daya manusia perlu kita tingkatkan sampai kepada standar nasional,” ujarnya.
Penguatan tersebut tidak hanya menyangkut dosen, tetapi juga tenaga kependidikan. Kompetensi akademik harus berjalan bersama kemampuan praktik.
Fondasi berikutnya adalah fasilitas.
“Fasilitas utama dan fasilitas penunjang pembelajaran, laboratorium, TEFA, itu harus memenuhi standar untuk menghasilkan lulusan yang kompeten,” kata Usman.
Kurikulum menjadi fondasi lainnya.
“Materi dan kurikulum yang diajarkan harus in line dengan kebutuhan pasar. Kurikulum juga harus fleksibel sehingga mampu beradaptasi terhadap kondisi yang berlaku,” ujarnya.
Jika ketiga fondasi itu dapat diperkuat pada fase awal, Polikant diharapkan memiliki modal untuk bergerak lebih cepat pada tahapan pembangunan berikutnya.
Kei sebagai Keunggulan, Bukan Keterbatasan
Visi besar tersebut mendapatkan pijakan dari posisi geografis Polikant.
Prof. Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc., mantan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB university, melihat keberadaan Polikant di Kepulauan Kei justru menempatkan perguruan tinggi itu pada posisi strategis.
“Polikant berada pada posisi yang strategis di Kepulauan Kei, dikelilingi potensi sumber daya yang luar biasa. Permasalahannya adalah bagaimana Polikant mengangkat kelebihan dan keunikan itu menjadi modal untuk mengembangkan perguruan tinggi ini,” kata Fredinan.
Modal tersebut, menurutnya, tidak hanya digunakan untuk mengembangkan institusi. Keberadaan kampus harus beririsan langsung dengan upaya masyarakat memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan.
“Dari sisi akademik, fungsinya melalui proses pembelajaran, kurikulum, riset dan penelitian, kemudian diseminasi hasil penelitian melalui pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh kebutuhan masyarakat pesisir di Kepulauan Kei,” ujarnya.
Posisi geografis itu sekaligus memberikan Polikant sesuatu yang tidak mudah diperoleh perguruan tinggi yang berada jauh dari sumber daya kelautan.
“Kita punya potensi di sini. Ini yang tidak dimiliki kampus-kampus yang berada di kota, yang tidak memiliki sumber daya yang menjadi objek untuk digali,” kata Fredinan.
Sumber daya tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus objek pengembangan riset dan inovasi.
“Potensi itu bisa digunakan untuk pengembangan pendidikan dan kurikulum, menjadi tempat mahasiswa berlatih, sekaligus untuk pengembangan riset dan inovasi. Dan sangat dekat langsung dengan proses hilirisasi dengan industri,” ujarnya.
Menurut Fredinan, keunggulan semacam itu tidak banyak dimiliki perguruan tinggi lain.
Kurikulum yang Lahir dari Karakter Kei
Keunggulan geografis tersebut, menurut Fredinan, harus diterjemahkan hingga ke jantung sistem pendidikan Polikant: kurikulum.
“Politeknik sebagai sebuah perguruan tinggi harus membangun sistem pendidikan melalui kurikulum yang memang dibutuhkan oleh stakeholder dan masyarakat,” katanya.
Namun, kurikulum itu tidak harus seragam dengan kampus lain.
Karakter sumber daya Kepulauan Kei justru dapat menjadi pembeda.
“Keunikannya ada di situ karena karakter sumber dayanya merupakan kekhasan Kepulauan Kei. Sehingga kurikulum yang dibangun bisa menjadi kurikulum yang tidak banyak memiliki kesamaan dengan yang lain,” ujarnya.
Pada saat bersamaan, kekhasan lokal tidak boleh membuat Polikant tertinggal dari perubahan global.
Fredinan menempatkan digitalisasi dan teknologi informasi sebagai salah satu tuntutan yang perlu direspons.
“Ada beberapa pendekatan yang menjadi tuntutan megatrend global yang harus dipenuhi. Salah satunya pengembangan digitalisasi dan IT. Teknologi sudah harus masuk ke dalam kurikulum dan digunakan sebagai perangkat dalam pengelolaan sumber daya perikanan,” katanya.
Targetnya: Excellent Center
Fredinan melihat 2045 sebagai titik puncak dari proses bertahap yang harus dimulai sekarang.
“Harapannya, Polikant menjadi lembaga sumber untuk pengembangan sektor kelautan dan perikanan, baik dari sektor pendidikan dan kurikulum maupun pengembangan riset dan inovasi di wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, target tersebut tidak mudah dicapai.
“Tidak mudah Polikant mencapai ke arah situ pada 2045. Ada mekanisme yang harus disiapkan dalam jangka pendek dan jangka menengah secara sistematis, dengan puncaknya pada 2045 ketika Polikant menjadi excellent center untuk pengembangan kelautan dan perikanan di wilayah timur,” kata Fredinan.
Jalan menuju titik tersebut setidaknya membutuhkan pembenahan kurikulum, manajemen, SDM, jejaring, penelitian dan pengembangan, hingga sarana-prasarana.
“Sistem kurikulum harus berbasis pada kebutuhan dan karakter sumber daya yang ada di sekitarnya. Keunikannya digali. Kemudian pembenahan sistem manajemen, peningkatan skill SDM, memperbanyak kerja sama, network, jaringan, penelitian dan pengembangan, serta membuka diri,” ujarnya.
Penguatan sarana-prasarana dan dukungan mitra juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan itu.
“Polikant dituntut menggandeng mitra-mitra untuk memperkuat sistem anggaran yang mendukung program-program yang didesain dalam jangka pendek, menengah sampai jangka panjang,” katanya.
Harapannya, setiap fase pembangunan menghasilkan peningkatan sehingga pada 2045 visi tersebut dapat direalisasikan.
Polikant sebagai Jembatan Antarsektor
Tetapi transformasi Polikant tidak berlangsung dalam ruang kosong.
Pengelolaan kawasan pesisir berhadapan dengan persoalan yang melintasi batas kewenangan sektor. Perikanan, lingkungan, transportasi dan pariwisata dapat bertemu pada wilayah yang sama, sementara sistem program dan anggaran pemerintah berjalan menurut urusan masing-masing.
Fredinan melihat kondisi tersebut sebagai salah satu kendala dalam membangun kemitraan.
“Permasalahan atau kendala terbesar dari kemitraan adalah sistem. Administrasi dan sistem anggaran-keuangan tidak luwes, tidak fleksibel untuk melakukan kerja sama dengan pihak lain, termasuk dengan Polikant,” katanya.
Padahal, persoalan pesisir tidak dapat diselesaikan satu lembaga sendirian.
“Ketika berbicara pesisir dan laut, tidak ada satu lembaga atau satu sektor yang bisa menyelesaikan semua permasalahan di wilayah pesisir,” ujarnya.
Di tengah sekat tersebut, Fredinan melihat perguruan tinggi dapat memainkan peran sebagai penghubung.
“Di sinilah perlunya perguruan tinggi seperti Polikant untuk menjembatani lintas sektor di daerah pesisir,” katanya.
Kerja sama Polikant dengan sejumlah instansi dapat menjadi jembatan atas keterbatasan sistem sektoral tersebut.
Pemerintah, Kampus dan Industri
Jembatan itu tidak berhenti pada pemerintah.
Dunia industri, menurut Fredinan, harus masuk dalam sistem kerja sama.
“Industri adalah salah satu sektor yang mau tidak mau harus involve, harus masuk ke dalam sistem. Ini menjadi bagian dari kerja sama yang disebut triple helix: perguruan tinggi, pemerintah dan industri,” ujarnya.
Dalam konsep tersebut, masing-masing mempunyai posisi berbeda tetapi saling berkaitan.
“Industri menjadi user SDM yang diciptakan Polikant dan juga memanfaatkan langsung sumber daya alam. Pemerintah daerah bertanggung jawab mengendalikan dan mengawasi supaya tidak terjadi degradasi atau kerusakan. Saintifiknya didukung oleh Polikant,” jelas Fredinan.
Jika tiga unsur itu bekerja secara sinergis, ia melihat peluang besar bagi pengelolaan sumber daya Kepulauan Kei.
“Kalau tiga sektor ini bekerja menjadi satu program yang tersusun secara sinergis dan terintegrasi, kawasan Kepulauan Kei akan lebih optimal untuk dikelola. Semua sektor mendapatkan manfaat dari sumber daya yang sama,” katanya.
Dari Kampus ke Masyarakat
Konsep “menara air” yang disampaikan Usman menemukan bentuk konkretnya dalam hubungan Polikant dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Polikant membuka ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Tual dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara.
“Supaya menjadi menara air, Polikant perlu membuka diri, perlu berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk dengan pemerintah kedua daerah. Kami sangat membuka diri,” kata Usman.
Salah satunya dilakukan dengan menghubungkan perencanaan kampus dengan arah pembangunan daerah.
“Dalam penyelesaian Renstra, termasuk RPJP, kita akan mengadopsi RPJP dan RPJM kedua daerah sebagai dasar untuk melihat kondisi eksternal di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual,” ujarnya.
Kerja sama juga diarahkan pada riset serta peningkatan kapasitas masyarakat.
“Kami membuka diri kepada pemerintah kedua daerah untuk berkolaborasi dalam riset-riset yang kami lakukan. Kami juga membuka diri untuk peningkatan kapasitas nelayan, pengolah, ibu-ibu pengolah dan UKM supaya bersama-sama kita meningkatkan kapasitas mereka,” katanya.
Polikant memiliki perangkat yang dapat digunakan untuk mendukung arah tersebut.
Melalui Lembaga Sertifikasi Profesi dan tempat uji kompetensi, masyarakat dapat memperoleh penguatan sekaligus sertifikasi kompetensi. TEFA yang dimiliki kampus juga dapat digunakan untuk kegiatan pelatihan.
“Kami punya TEFA. Silakan pemerintah daerah membawa kelompok-kelompok masyarakat kepada kami. Kita latih mereka sesuai kebutuhan. Misalnya untuk budidaya, kita latih mereka budidaya ikan, dan seterusnya,” ujar Usman.
Dengan model itu, Polikant tidak hanya menghasilkan lulusan setiap tahun. Pengetahuan, tenaga ahli dan fasilitas yang dimiliki kampus dapat bergerak keluar dan meningkatkan kapasitas masyarakat.
Di situlah metafora “menara air” menemukan bentuknya: ilmu tidak berhenti di ruang kuliah dan laboratorium.
Jalan Panjang Menuju Pusat Unggulan
Tahun 2045 masih hampir dua dekade di depan.
Ada SDM yang harus diperkuat, fasilitas yang harus memenuhi standar, kurikulum yang perlu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan kekhasan Kepulauan Kei, riset dan inovasi yang mesti diperluas, serta jaringan pemerintah dan industri yang harus dibangun.
Di atas semua itu terdapat tantangan yang lebih besar: mengubah keunggulan geografis Polikant di tengah Kepulauan Kei menjadi keunggulan akademik, riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.
RPJP 2025–2045 kemudian menjadi lebih dari sekadar dokumen tentang di mana Polikant ingin berada dua dekade mendatang. Ia menjadi peta jalan untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: seberapa besar manfaat sebuah perguruan tinggi perikanan ketika berdiri di tengah wilayah kepulauan yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan?
Semoga akhirnya pada 2045: Polikant menjadi excellent center pengembangan kelautan dan perikanan di wilayah timur Indonesia.
Di sisi lain, Polikant menjadi bermakna kehadirannya dalam masyarakat.
Karena pada akhirnya, besarnya sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari apa yang berkembang di dalam kampus, tetapi juga dari apa yang mengalir keluar darinya: SDM, pengetahuan, teknologi, riset, inovasi dan manfaat bagi masyarakat.
Dari sebuah “menara air” di Kepulauan Kei, menuju pusat unggulan pada 2045.
EDITOR: ROBERT REMETWA
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Politeknik Perikanan Negeri Tual







