Langgur, suaradamai.com — Mengatur salinitas atau kadar garam air menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan budidaya perikanan. Kesalahan menentukan jumlah air yang ditambahkan dapat membuat pembudidaya harus berulang kali melakukan pengukuran. Padahal, ketidaksesuaian salinitas berpotensi menghambat pertumbuhan organisme, memperpanjang masa pemeliharaan, hingga memengaruhi hasil produksi.
Persoalan tersebut mendorong tim dosen dan mahasiswa Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa aplikasi Kalkulator Salinitas berbasis HTML. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pembudidaya menentukan kebutuhan penambahan air secara lebih cepat, praktis, dan terukur.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Pembudidaya UMKM Alstonia Kota Tual Melalui Pengembangan dan Implementasi Aplikasi Kalkulator Salinitas Berbasis HTML untuk Efisiensi Penyesuaian Salinitas Media Budidaya”, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang dibiayai melalui dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Polikant ini dilaksanakan bersama kelompok UMKM Budidaya Alstonia di Kota Tual.
Berawal dari Keluhan Pembudidaya
Ketua tim pengabdian Polikant, Armin, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa inovasi tersebut berawal dari diskusi bersama kelompok pembudidaya untuk mengetahui persoalan yang mereka hadapi di lapangan.
Dalam diskusi itu, kelompok mengungkapkan kesulitan mengatur salinitas karena penyesuaiannya masih dilakukan secara manual.
“Mereka sampaikan bahwa kendalanya agak kerepotan dalam mengatur salinitas air, karena selama ini mereka melakukannya secara manual,” ungkap Armin.
Menurutnya, pembudidaya biasanya menambahkan air, kemudian mengukur salinitas. Jika belum sesuai, proses tersebut diulangi hingga mendapatkan kadar garam yang diinginkan.
Berbekal keilmuan matematika, Armin menilai persoalan tersebut sebenarnya dapat diselesaikan menggunakan rumus matematis. Namun, penggunaan rumus secara manual juga belum cukup praktis.
“Karena memang dasar ilmu kami di matematika, kami berpikir bahwa ini bisa diselesaikan dengan menggunakan rumus matematika. Tapi dengan menggunakan rumus saja agak repot karena harus hitung ulang-ulang di kertas,” jelasnya.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi bersama Irwan Ismail, S.Pd., M.Si., Elen Marta Lutur, S.Pd., M.Pd., dan mahasiswa yang tergabung dalam tim pengabdian.
Hasilnya adalah aplikasi sederhana berbasis web yang dapat menghitung kebutuhan penambahan air berdasarkan parameter yang dimasukkan pengguna.
“Mereka tinggal memasukkan parameter-parameter yang dibutuhkan, misalnya volume dan salinitas air awal. Lalu sistem yang akan menghitung sendiri,” terang Armin.
Aplikasi kemudian memberikan rekomendasi volume air yang diperlukan untuk mencapai salinitas target.
“Kita membuat masalahnya menjadi sederhana. Hanya dengan memasukkan beberapa angka saja, sudah langsung keluar nilainya yang direkomendasikan,” tambahnya.
Melalui pendekatan tersebut, pembudidaya memiliki acuan perhitungan sebelum melakukan penyesuaian air. Hasilnya tetap perlu diperiksa dengan pengukuran salinitas aktual untuk memastikan kesesuaiannya.
Salinitas Tepat, Pertumbuhan Lebih Terjaga
Armin menegaskan bahwa pengaturan salinitas memiliki peranan penting dalam keberhasilan budidaya perikanan, termasuk budidaya anggur laut atau Caulerpa.
“Kalau salinitasnya tidak sesuai dengan salinitas yang ideal, maka pertumbuhannya pasti akan terhambat,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan pembudidaya.
“Pertumbuhan melambat berarti nanti dijual pasti perkembangannya kurang. Kemudian waktu pemeliharaannya bisa lebih lama karena parameter airnya tidak cocok,” jelas Armin.
Karena itu, inovasi kalkulator salinitas diharapkan membantu pembudidaya mengendalikan salah satu parameter penting kualitas air agar kegiatan produksi menjadi lebih efisien.
Roy: Dulu Sudah Menimba Air Berulang Kali, Hasilnya Masih Salah
Ketua UMKM Budidaya Alstonia, Roy Betaubun, mengakui bahwa pengaturan salinitas selama ini menjadi salah satu pekerjaan yang cukup merepotkan kelompoknya.
Kelompok yang berdiri sejak 2023 tersebut mengembangkan sejumlah komoditas budidaya, antara lain teripang, anggur laut, dan ikan.
Menurut Roy, perubahan cuaca, terutama kondisi panas, dapat menyebabkan salinitas meningkat hingga angka 30 atau lebih. Berdasarkan pengalaman kelompok, kisaran 25–28 menjadi acuan salinitas untuk kegiatan budidaya tertentu yang mereka lakukan.
“Kalau lebih dari salinitas itu, dia sudah mulai kurang bagus. Maksudnya, pertumbuhannya kurang bagus,” ungkap Roy.
Untuk menurunkan salinitas, kelompok biasanya menambahkan air tawar secara bertahap. Namun, karena belum mengetahui jumlah yang tepat, proses pengukuran harus dilakukan berkali-kali.
“Kalau yang dulu itu mungkin kami manual, timba-timba, waktu selesai, eh masih salah juga,” tuturnya.
Pengalaman berbeda dirasakan setelah kelompok mencoba aplikasi Kalkulator Salinitas yang diperkenalkan tim Polikant.
“Kami coba tadi di dalam, pas. Jadi kami tidak rugi waktu juga,” kata Roy.
“Kalau yang ini, ya kami dengan takaran yang pas, sudah,” tambahnya.
Roy menyampaikan apresiasi kepada Polikant karena telah menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan kelompoknya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Politeknik Perikanan Negeri Tual, khususnya tim pengabdian yang mau melirik kami, kelompok UMKM dalam bidang budidaya,” ujarnya.
“Karena lewat kegiatan ini, kami bisa belajar banyak tentang bagaimana menghitung salinitas yang baik,” lanjut Roy.
Meski demikian, Roy mengakui kelompoknya masih menghadapi tantangan lain, terutama keterbatasan fasilitas penampungan air, ketergantungan pada pasang surut, akses jalan, dan pemasaran hasil budidaya.
Mahasiswa Polikant Belajar Mengatasi Gugup dan Berbagi Ilmu
Kegiatan pengabdian tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi kelompok pembudidaya, tetapi juga menjadi pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa yang terlibat langsung dalam tim.
Salah seorang mahasiswa semester tiga program studi teknologi kelautan, Emel Yohana Sohilait, mengaku mendapat kesempatan menjadi bagian dari panitia sekaligus tim yang memperkenalkan penggunaan aplikasi Kalkulator Salinitas kepada kelompok mitra.
“Saya dapat mengambil ilmu dari apa yang telah saya dapatkan selama mengabdi sebagai tim dalam aplikasi kalkulator salinitas,” ungkap Emel.
Ia mengakui bahwa tampil menyampaikan materi di hadapan peserta bukan pengalaman yang mudah. Perasaan gugup dan takut sempat muncul ketika harus menjelaskan penggunaan aplikasi.
“Pertama itu pastinya saya nervous, saya gugup dan takut pastinya. Tapi saya berusaha untuk menghadapi rasa takut itu sehingga saya bisa menyelesaikan materi-materi yang tadi saya jelaskan,” tuturnya.
Bagi Emel, keterlibatannya menjadi lebih bermakna karena ilmu yang dipelajari dapat digunakan untuk membantu masyarakat.
Ia merasa senang dapat ikut membantu UMKM agar pekerjaan pengukuran dan penyesuaian salinitas tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cara manual.
Pengalaman tersebut juga mendorongnya mengajak mahasiswa lain untuk tidak menyimpan pengetahuan hanya bagi diri sendiri.
“Kembangkan ilmu yang kalian punya supaya orang lain bisa merasakan apa dampak dari pribadi kalian kepada sesama mereka,” pesan Emel.
Pengalaman serupa disampaikan mahasiswa lainnya, Valencia Pascalina Safsafubun, yang juga terlibat dalam presentasi aplikasi kepada kelompok pembudidaya.
Mahasiswa program studi teknologi kelautan semester tiga yang akrab disama Alen itu, mengaku senang sekaligus gugup karena baru pertama kali menyampaikan materi di hadapan para dosen dan anggota kelompok.
“Perasaan saya yang pertama senang, tapi juga gugup karena ini pertama kali saya membawa materi di depan para dosen dan kelompok,” ungkap Alen.
Meski sempat merasa gugup, ia mengaku bangga karena mampu menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan.
“Saya sangat bangga sama diri saya karena walaupun gugup, tapi saya bisa melaksanakan presentasi,” katanya.
Alen juga melihat potensi manfaat aplikasi tersebut tidak terbatas pada kelompok pembudidaya. Menurutnya, kalkulator salinitas dapat membantu mahasiswa yang membutuhkan perhitungan salinitas dalam kegiatan akademik.
Pengalaman kedua mahasiswa itu memperlihatkan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya menjadi sarana menerapkan ilmu, tetapi juga mengembangkan keberanian, kemampuan komunikasi, serta kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Polikant Buka Peluang Pemanfaatan Lebih Luas
Armin menegaskan bahwa pengembangan aplikasi tidak direncanakan berhenti pada UMKM Alstonia.
Tim berencana mengupayakan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sekaligus mengkaji kemungkinan pengajuan paten sederhana apabila inovasi memenuhi persyaratan yang berlaku.
“Aplikasi ini nanti kita akan daftarkan dulu untuk mendapat HKI, atau kalau bisa mudah-mudahan bisa tembus di paten sederhana,” ungkapnya.
Meski demikian, tujuan utama pengembangan aplikasi tetap untuk mempermudah pekerjaan pembudidaya.
“Habis itu nanti kita bagi. Siapa yang membutuhkan, kita akan kasih. Kita tidak menutup diri,” tegas Armin.
Ia menambahkan bahwa mitra lain yang tertarik memanfaatkan aplikasi dapat membangun komunikasi dengan Polikant.
Melalui kegiatan ini, Polikant memperlihatkan bahwa inovasi yang bermanfaat dapat lahir dari persoalan sederhana yang ditemukan melalui komunikasi langsung dengan masyarakat.
Kolaborasi dosen, mahasiswa, dan kelompok pembudidaya menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan tidak hanya dikembangkan di ruang akademik, tetapi juga diterapkan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha.
Di tengah besarnya potensi kelautan dan perikanan Kepulauan Kei, pendekatan tersebut semakin relevan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi vokasi dalam pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.
Dari rumus matematika menjadi aplikasi digital, dari keluhan pembudidaya menjadi solusi praktis, Polikant menghadirkan inovasi yang sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkarya, dan berbagi manfaat dengan masyarakat.
PENULIS/PEWARTA : ROBERTUS REMETWA
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Politeknik Perikanan Negeri Tual







