Buka Festival Asmat Pokman 35, Wabup Asmat Soroti Konsep dan Kritik Kebudayaan

Menurut Safanpo, kebudayaan terbagi menjadi tigal hal, yakni world view, meaning system, dan normatif value.


Langgur, suradamai.com – Wakil Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo membuka Festival Asmat Pokman 35. Acara pembukaan dilaksanakan di Lapangan Yos Sudarso, Jumat (3/10/2022). Dalam sambutannya, ia meminta masyarakat Asmat untuk tidak alergi terhadap kritik kebudayaan.

“Tidak pernah ada perubahan kebudayaan, tanpa adanya kritik kebudayaan. Karena itu kita orang Asmat tidak boleh alergi terhadap kritik. Tidak pernah ada kritik yang menghancurkan, yang memporak-porandakan. Di lain sisi, tidak pernah ada perubahan tanpa kritik,” ujar Safanpo.

Menurut Safanpo, kebudayaan terbagi menjadi tigal hal, yakni world view, meaning system, dan normatif value. World View merupakan cara pandang manusia tehadap alam, terhadap dunia, terhadap lingkungan, baik alam fisik, alam sosial, alam spritual.

“Yang kedua, Kebudayaan hadir dalam bentuk meaning system. Sistem makna. Sistem makna itu hadir dalam bentuk simbol dan tanda. Tanda atau simbol itu, yang semacam ukiran itu. Simbol, tanda itu merupakan perwujudan dari cara pemaknaan manusia terhadap alam fisiknya, sosial, dan spirtus atau dunia roh. Ukiran ini menghubungkan pemahaman orang, sikap orang terhadap alam sekitarnya, terhadap alam roh dan sebagainya,” jelas Wabup.

Selanjutnya, kata dia, normatif value atau sistem nilai mengatur supaya kehidupan manusia dengan alam, dengan manusia sekitar kita, dengan manusia lain, dengan dunia roh yang dihayati selaras dan harmoni. Dibentuklah apa yang disebut normatif value. Nilai nilai norma, yang mengatur tata perilaku manusia terhadap manusia lain, terhadap lingkungannya dan bagaimana hubungannya dengan dunia roh, dunia spritual yang kita hayati itu.

“Inilah konsep kebudayaan yang kita terima hingga hari ini. Tetapi dalam banyak hal kebudayaan tidak boleh statis, kebudayaan itu harus bertumbuh dan berkembang,” ujar Safanpo.

Menurutnya, sikap tradisionalisme adalah sikap yang menolak segala macam perubahan. Sesuatu yang statis dan tidak berkembang pada akhirnya ditinggal oleh manusia.

“Kebudayaan itu sebuah konstruksi sosial, dibangun oleh leluhur dulu. Dia boleh berubah, kalau kondisi menginginkan perubahan. Inilah yang harus kita hayati, harus kita maknai,” pungkas Wabup.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU