Belum pernah terjadi sebelumnya di Langgur. Lebih dari 200 personel Saryat Kolser turun ke jalan, menghidupkan kembali semangat adat Kei dan menyatukan umat Katolik, Protestan, hingga Muslim dalam satu irama persaudaraan. Dari dentuman tifa hingga dukungan Rp173 juta, inilah momen ketika adat benar-benar menembus batas.
Langgur, suaradamai.com — Dentuman tifa, nyanyian adat, dan langkah serempak lebih dari 200 personel saryat dari Ohoi Kolser mengguncang jalan-jalan Ohoi Langgur, Kamis (9/4/2026). Atraksi adat kolosal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Langgur itu bukan sekadar penggalangan dana, tetapi menjadi simbol kuat hidupnya kembali semangat adat Kei yang menyatukan masyarakat lintas agama dan lintas generasi.
Rombongan saryat hadir dalam rangka mendukung Dedikasi Gereja serta Perayaan 100 Tahun Goa Maria Imakulata Kolser yang akan dilaksanakan pada 8 Desember 2026 dan Dedikasi Gereja pada 30 Desember 2026. Dengan mengenakan atribut adat dan menampilkan kekompakan luar biasa, rombongan mengelilingi Ohoi Langgur untuk menerima sumbangan sukarela dari kelompok maupun warga masyarakat.
Sejak pagi, suasana haru sudah terasa ketika rombongan lebih dahulu memanjatkan doa di Goa Maria Imakulata Kolser sebelum bergerak menuju titik penjemputan di depan STIA Langgur. Kehadiran mereka disambut penuh penghormatan oleh perangkat adat, tokoh masyarakat, dan Dewan Gereja Stasi Langgur.
Tua Adat Ohoi Kolser, Liberatus Lesomar, dalam penyampaian adatnya menegaskan bahwa hubungan antara Langgur dan Kolser bukan hubungan biasa, melainkan warisan leluhur yang harus terus dijaga.
“Kami perempuan dan laki-laki Kolser datang hari ini meminta pertolongan kepada Langgur. Leluhur telah meletakkan dasar bahwa cahaya yang menyala di Langgur turut menerangi Kolser. Karena itu kami datang membawa kesulitan kami untuk Langgur membantu kami,” ungkapnya penuh haru.
Pernyataan itu disambut hangat oleh Orangkai Ohoi Langgur, Hironimus Dumatubun, yang menegaskan bahwa hubungan persaudaraan antara kedua ohoi telah terjalin jauh sebelum hadirnya batas-batas modern maupun perbedaan agama.
“Sejak zaman leluhur, perempuan Langgur kawin di Kolser dan perempuan Kolser kawin di Langgur. Hubungan itu sudah ada jauh sebelum agama hadir. Karena itu kesusahan Kolser juga menjadi kesusahan Langgur. Kita saling bersandar satu sama lain,” ujarnya.
Atraksi saryat kolosal tersebut langsung menarik perhatian masyarakat. Warga dari berbagai lingkungan keluar menyambut rombongan dengan antusias. Tidak hanya umat Katolik, umat Protestan, Islam dan Hindu juga ikut memberikan dukungan, baik secara pribadi maupun melalui kelompok masyarakat.
Fenomena itu mendapat apresiasi besar dari berbagai elemen masyarakat Kei. Salah satunya disampaikan oleh Noke Rahakbauw dari Gereja Protestan Maluku unit setempat.
“Kami bangga karena ini pertama kali terjadi di Kei. Nilai adat dan kebersamaan sangat tinggi. Ini membangkitkan kembali semangat generasi muda terhadap adat. Kedepan harus seperti ini, bukan hanya Kolser, tetapi ohoi-ohoi lain juga,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa adat Kei sejatinya merupakan perekat persaudaraan masyarakat Kei tanpa memandang agama.
“Agama baru ada, adat lebih dulu hadir. Kita orang Kei ini satu turunan. Karena itu adat harus terus dijaga,” tambahnya.
Di sela kegiatan makan siang bersama di Balai Ohoi Langgur, Hironimus Dumatubun kembali menekankan bahwa kegiatan saryat bukan sekadar urusan gereja, melainkan momentum penting untuk menghidupkan identitas budaya Kei.
“Acara ini harus dipelihara oleh seluruh generasi Kei di mana pun. Adat Kei itu kekuatan kita, jati diri kita. Ini bukan hanya dukungan untuk gereja, tetapi juga menghidupkan kembali hubungan adat dan kekeluargaan,” tegasnya.
Menurutnya, salah satu nilai paling menonjol dalam kegiatan tersebut adalah filosofi Kei “ain ni tartar ain”, yang berarti saling menopang dalam suka maupun duka.
“Saya terharu karena ini baru pertama terjadi di Langgur. Yang luar biasa, bukan hanya umat Katolik yang terlibat, tetapi Protestan, Muslim dan Hindu juga ikut mendukung. Adat benar-benar menembus batas,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan hingga pukul 18.00 WIT, rombongan berhasil mengunjungi 16 lingkungan di Ohoi Langgur. Sambutan masyarakat begitu luar biasa. Selain dana, warga juga memberikan bantuan material untuk mendukung pelaksanaan perayaan besar tersebut.
Puncaknya, sekitar pukul 20.00 WIT, rombongan kembali tiba di Goa Maria Imakulata Kolser untuk menutup seluruh rangkaian saryat dengan doa syukur bersama. Dalam suasana penuh sukacita, panitia kemudian mengumumkan hasil penggalangan dana yang mencapai Rp.173.345.000, mas adat sebanyak 17 buah dan 100 sak semen dalam bentuk DO.
Angka tersebut bukan hanya menunjukkan besarnya dukungan masyarakat, tetapi juga menjadi bukti bahwa adat Kei masih hidup kuat di tengah masyarakat. Saryat Kolser di Langgur akhirnya menjadi lebih dari sekadar tradisi — ia menjelma menjadi simbol persaudaraan, gotong royong, dan persatuan lintas umat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
