Rehab tersebut juga bertujuan menjawab permintaan para pedagang yang menginginkan pasar mudah diakses oleh pembeli.
Bintuni, suaradamai.com – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, berencana merehab kembali Pasar Rakyat Manimeri pada APBD Perubahan 2025.
Pasalnya, pasar yang diresmikan pada 2021 lalu itu telah mengalami kerusakan ringan pada sejumlah bagian, diantaranya toilet, plafon pasar ikan, dan saluran drainase.
Selain itu, perbaikan pasar tersebut juga bertujuan menjawab permintaan para pedagang yang menginginkan pagar depan atau papan nama pasar dibongkar. Para pedagang mau agar pasar lebih luas dan mudah diakses oleh pembeli.
Pasar Rakyat Manimeri, menurut sejumlah pedagang, terlalu tertutup sehingga pembeli jarang masuk. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka memilih berjualan di pinggir jalan raya, dekat pasar.
“Perlu ada renovasi ringan, sehingga untuk menjawab kebutuhan. Pasar itu kan dibangun dengan uang rakyat. Oleh karena itu, rencana, kalau bisa di tahun 2025 ini lewat anggaran perubahan, kita berusaha untuk dapat melaksanakan itu (rehab),” ujar Kepala Disperindagkop dan UKM Teluk Bintuni Ongen Pattikawa, Kamis (24/4/2025).
Rehab yang dimaksud dilakukan pada sejumlah fasilitas yang rusak. Termasuk membongkar pagar atau papan nama pasar.
Pattikawa menambahkan, pada APBD Induk 2025, kegiatan renovasi pasar belum dianggarkan lantaran ada efisiensi anggaran. Namun, ia akan mengusulkan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Bupati untuk mengakomodir rehab ringan pada APBD Perubahan 2025.
Pattikawa punya kerinduan agar pasar tersebut segera ramai. Karena itu, selain merehab pasar, Disperindagkop dan UKM Teluk Bintuni juga akan kembali melakukan pendekatan dengan para pedagang yang berjualan di pinggir jalan, sekitar area pasar.
“Saya akan mengajak mereka setelah kami merenovasi ringan pasar SP IV ini. Dengan harapan mereka bisa masuk,” ujar Pattikawa.
Adapun sejumlah kios yang digunakan oleh para pedagang di pinggir jalan itu dibangun secara swadaya. Karena itu, sebelum membongkar kios-kios tersebut, Disperindagkop bakal memberikan kompensasi.
“Tidak serta-merta kita bongkar. Tetapi mereka juga harus diberikan biaya karena mereka bangun dengan biaya sendiri. Dinas Perindagkop juga memikirkan hal itu,” tambah Pattikawa.
Tidak sampai di situ. Pattikawa juga punya strategi berikut untuk meramaikan pasar. Ia mengatakan, setelah pedagang kembali ke dalam, pihaknya tidak langsung memungut biaya retribusi.
“Jangan dulu. Kita memberikan kesempatan bagi kita punya mama-mama Papua. Silakan masuk ke dalam, berjualan, supaya kebutuhan, masyarakat di Distrik Manimeri mereka bisa datang untuk berbelanja,” ujar Pattikawa.
Editor: Labes Remetwa





