Duh! Ada Pemerasan di Citilink, Penumpang Minta Tanggung Jawab Maskapai

“Kami meminta klarifikasi resmi dari maskapai, kembalikan biaya bagasi, dan melakukan investigasi internal menyeluruh terhadap oknum pegawai yang terlibat dalam penerimaan uang di luar sistem resmi,” pungkasnya.


Langgur, Suaradamai.com – Praktik dugaan pemerasan mengemuka di salah satu maskapi penerbangan Domestik Citilink milik Garuda Indonesia.

Kali ini menimpa Henderika Bernad dan Wage Rudolf Raubun penumpang Citilink yang hendak berangkat dari Jakarta tujuan Langgur (Maluku Tenggara) melalui Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang.

Kronologi bermula pada Rabu 12 November 2025,  pukul 23.30 WIB, Henderika  melakukan check-in dan mencetak boarding pass untuk dua tiket dalam satu kode booking, masing-masing atas nama dirinya dan Rudolf.

“Karena keterlambatan transportasi menuju bandara, penumpang kami tidak sempat boarding. Namun sebelum keberangkatan, kami telah menyerahkan dua KTP kepada petugas Citilink, dan seluruh bagasi dengan total 30 kilogram diterima serta ditag atas nama Wage Rudolf,” ungkapnya, Kamis (13/11/2025).

Menurutnya, citilink telah menerima bagasi atas nama penumpang yang tidak ikut terbang, yang sejatinya melanggar prosedur keamanan penerbangan internasional.

Namun, lanjutnya setelah pesawat hendak berangkat, petugas Citilink tiba-tiba memberi tahu bahwa jatah bagasi atas nama kami dianggap hangus, dan kami diminta membayar kelebihan 15 kilogram.

“Karena waktu keberangkatan sudah sangat mepet, pembayaran belum sempat dilakukan,” kata dia.

Sesampainya di Bandara Pattimura Ambon, pihak Citilink menahan seluruh bagasi sebesar 30 kilogram dan mengancam tidak akan menyerahkannya jika biaya tambahan tidak segera dibayarkan.

“Dalam kondisi terdesak karena semua barang pribadi ada di koper, kami akhirnya membayar biaya tersebut Rp. 2. 775. 000 dengan terpaksa agar bagasinya bisa diambil,” jelasnya.

Namun, anehnya pembayaran justru diminta melalui rekening pribadi salah satu pegawai Citilink, bukan melalui sistem resmi perusahaan atau kasir bandara.

“Setelah mendarat di Ambon, kami diancam tidak boleh ambil koper kalau tidak bayar. Akhirnya saya terpaksa transfer ke rekening pribadi pegawai Citilink,” ungkapnya.

Selain dugaan pemerasan dan pelanggaran prosedur, dirinya juga menyoroti minimnya sosialisasi dan transparansi Citilink terkait aturan bagasi dan hak penumpang.

Menurutnya, Citilink tidak pernah menjelaskan secara jelas bahwa jatah bagasi penumpang yang tidak jadi berangkat otomatis hangus baik saat pembelian tiket, check-in, maupun sebelum keberangkatan.

“Kalau memang aturannya seperti itu, seharusnya disampaikan dengan jelas sejak awal. Bukan baru diberitahu ketika penumpang sudah di pesawat atau bahkan setelah mendarat. Cara seperti ini jelas tidak manusiawi dan merugikan penumpang,” kesalnya.

Kejadian ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan prosedur internal, lemahnya pengawasan, dan potensi penyalahgunaan wewenang dalam operasional Citilink.

Sebagai bagian dari grup Garuda Indonesia, Citilink seharusnya menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, dan etika pelayanan publik.

“Kami meminta klarifikasi resmi dari maskapai, kembalikan biaya bagasi, dan melakukan investigasi internal menyeluruh terhadap oknum pegawai yang terlibat dalam penerimaan uang di luar sistem resmi,” pungkasnya.


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Patriot Energi Dorong Kemandirian Pangan Desa Irloy Lewat Diskusi Pertanian Organik

Selain itu, meskipun masyarakat Desa Irloy, Kecamatan Aru Tengah...

Pemuda Algadang Inisiasi Nobar Video Sagu, Bedah Potensi Lokal Aru Bareng Patriot Energi

“Sagu adalah jati diri orang Aru. Karena itu penting...

Klub Diminta Segera Lengkapi Berkas, Pendaftaran Sebyar Cup 2026 Ditutup 8 April

“Kami berharap klub-klub yang sudah mengambil formulir dapat segera...

ENBAL: JEJAK PANJANG DARI AMERIKA SELATAN, MALUKU, BALI, HINGGA KEI

Selama ini, enbal sering dianggap sebagai warisan turun-temurun masyarakat...