HUT Provinsi ke-77 DPRD Maluku Gelar Paripurna Istimewa

Dalam refleksi HUT, Maluku merupakan salah satu provinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka.


Ambon,suaradamai.com – Puncak peryaan HUT Provinsi Maluku ke-77, DPRD melaksanakan rapat paripurna istimewa.

Rapat dipimpin langsung  Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury dan dihadiri langsung oleh Gubernur Maluku, Murad Ismail, Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Orno beserta isteri serta OPD dan undangan di ruang Paripurna, Jumat(19/8).

Peringati HUT Provinsi Maluku ke 77 tahun menurut Wattimury masih terasa hangatnya perayaan Republik Indonesia yang baru dirayakan dalam semangat kemerdekaan.

Dalam refleksi HUT, Maluku merupakan salah satu provinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka.

Daerah ini dinyatakan sebagai provinsi bersama tujuh daerah lainnya, yaitu Kalimantan, Sunda Kecil, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera, hanya dua hari setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun, secara resmi pembentukan Maluku sebagai provinsi baru terjadi 12 tahun kemudian berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 22 tahun 1957 yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1958. Hal ini terjadi karena pada masa-masa awal kemerdekaan, Belanda masih terus berusaha untuk menguasai daerah Maluku.

Ketika itu, roda pemerintahan Maluku tidak sempat berjalan karena gangguan Belanda. Bahkan pembentukannya sebagai provinsi pada tanggal 19 Agustus 1945, terpaksa dilaksanakan di Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia sekaligus menjadi tempat kedudukan pemerintah Provinsi Maluku di bawah pimpinan Gubernur Mr J Latuharhary.

Dalam perkembangannya, Provinsi Maluku kemudian dimekarkan menjadi dua provinsi, yatu Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara pada era reformasi. Pada tanggal 4 Oktober 1999, Presiden BJ Habibie menandatangani persetujuan pemerintah terkait dengan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Baru, dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Hari jadi Provinsi Maluku diperingati setiap tanggal 19 Agustus berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Maluku Nomor 13 tahun 2005. Dengan motto “Siwalima” yang berarti milik bersama, daerah ini ingin memupuk persatuan dan kesatuan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Gubernur Maluku, Murad Ismail dalam sambutannya mengatakan jika sepantasnya kita menghormati para pahlawan yang telah mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan.

Pengorbanan pahlawan memiliki nilai keteladanan yang tidak bisa dilupakan. Karena itu mesti diisi dengan kerja keras.

Dikatakan, sejarah berdirinya Indonesia dan diikuti dengan lahirnya Provinsi Maluku sudah melalui estafet ujian yang cukup berat.

“Alhamdulillah, kita berhasil melampauanya, kemerdekaan bangsa ini tidak merupakan pembagian atau hadiah, tetapi rebut dengan yang sangat berat, melalui peran rakyat dengan bergriliyah dan diplomasi, sehingga Indonesia tampil dengan sebuah bangsa yang merdeka,”ujar Gubernur.

Dimana dalam tampilan nyong Ambon mewakili Maluku, sebagai salah satu yang mewakili Maluku dari delapan provinsi yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ditanggal 19 Agustus 1945 ditetapkan sebagai hari lahirnya Provinsi Maluku.

Namun diera Pandemi Covid-19 tercatat dunia dan Indonesia termasuk Maluku mengalami krisis ekonomi dari berbagai sektor.

“Di HUT Provinsi ke-77 , saya berpesan, pertama dalam menghadapi krisis dan resesi, kita harus mengedepankan pola kerja sama antar satkeholder, sehingga semuar unsur wajib melakukan tugas dan fungsi secara efisiensi dan efektif agar kedepannya adanya semngat tolong menolong dan saling menghormati,” pesannya.

Tapi lanjur Gubernur, Komunikasi dan kaloborasi akan menjadi kunci dari kesuksesan satuan kerja.

Dimana tema HUT Provinsi Maluku ke-77″Baku Gandeng Maluku Bisa” itu artinya mengingatkan Maluku masih ada warisan yang dilahirkan para pendahulu yakni, Pela Gandung, Masohi, Aini Ain, Kail Waiel, Kalwedo, Kila Nela dan Manela.

Semua ungkapan ini kata Gubernur, telah menamkan hidup semangat kebersamaan dan persaudaraan, sejati di Maluku.

Dilanjutkan Wattimury, memperingati HUT Maluku mempunyai nilai yang hakiki . Maluku masih tetap berdiri, Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia.

” Mengapa orang Maluku dibuat tidak adil dengan menduduki daerah termiskin dengan pendidikan yang merosot. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengangkat Maluku dengan banyaknya potensi yang akan dikelola. Karena itu, pembangunan mesti terus digalakkan di semua sektor dengan dukungan semua pihak. Karena itu DPRD Maluku mendukung pemerintah daerah dalam mengelola potensi daerah demi kepentingan Maluku yang sejahtera dan adil,” jelas Wattimury


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU

error: Konten dilindungi!