Kangguru, Maskot FPMK ke-6 yang Dipertanyakan Keberadaannya di Kei

Sejumlah pihak mempertanyakan keberadaan hewan kangguru di Pulau Kei Besar. Meski demikian, telah ada cukup bukti yang menunjukkan eksistensi dan perbedaan kangguru Kei dengan hewan sejenisnya di wilayah lain.


Langgur, suaradamai.com – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Pemkab Malra) menggunakan hewan kangguru sebagai maskot pada Festival Pesona Meti Kei (FPMK) ke-6 tahun 2022.

Penggunaan maskot hewan berkantong ini ternyata menimbulkan pertanyaan dari sejumlah pihak. Keraguan akan keberadaan, populasi, dan asal-muasal penyebaran kangguru di Kei ramai dibahas di media sosial.

Netizen mempertanyakan apakah hewan kangguru benar-benar ada di Pulau Kei Besar. Salah satunya dari akun Facebook Paiet Rejaan. Pada postingannya ia menuliskan “FPMK thn 2022 dgn Maskot KANGGURU. Kawan2 dinas pariwisata tolong jelaskan: HISTORISNYA APA? HABITATNYA DIMN? #AnehBinAjaib.”

Tulisan ini diposting pada Sabtu 24 September pukul 07.20 WIT, ditanggapi 37 orang dan mendapat 122 komentar per Minggu 25 September pukul 01.00 WIT.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Panitia FPMK ke-6 Budhi Toffi menegaskan bahwa populasi kangguru benar-benar ada di Kei. Kangguru atau dalam bahasa Kei disebut “Aha”, merupakan salah satu hewan endemik Kei yang dapat ditemukan di wilayah konservasi gunung Dab dan kawasan lindung di Kei Besar Selatan.

“Banyak orang mengatakan kangguru identik dengan Australia. Itu benar. Tapi kalau di Australia, jika orang menyebut kangguru tanah, orang akan bilang itu ada di Kei, di Kei Besar,” kata Toffi dalam keterangan pers di Langgur.

Hal ini dibenarkan oleh mantan Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tual Yopi Jamlean. Ia menerangkan, alasan area seputar Gunung Dab, sekitar 1.900 ha, yang dijadikan sebagai kawasan konservasi juga dalam rangka melindungi hewan kangguru di kawasan tersebut.

“Untuk ke kawasan, mudah dijangkau dari Bombay, Watsin, Reyamru, dan Yamtimur,” tambah Jamlean.

KSDA Tual sendiri telah menelusuri populasi kangguru, melakukan sosialisasi tentang perlindungan mamalia berkantong itu kepada masyarakat sekitar kawasan, hingga terakhir, bersama masyarakat melepas-liarkan satu hewan kangguru pada Juli 2020 lalu.

Pertanyaan apakah hewan ini merupakan endemik Kei juga dijawab oleh Yopi Jamlean. Kepada Suaradamai.com melalui telepon, Jamlean menjelaskan bahwa, saat menjabat Kepala Resort KSDA Tual, pihaknya telah mengirim sampel kangguru Kei Besar ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melakukan penelitian. Hasilnya belum keluar, namun ia cukup yakin hewan ini merupakan endemik Kei.

Jamlean punya alasan. Pertama, kangguru di Kei berukuran lebih kecil dibandingkan dengan wilayah lain. Selain itu, letak dan ukuran kantong kangguru Kei juga berbeda. Kantong kangguru Kei terletak lebih tinggi atau di bagian atas perut, sedangkan di wilayah lain letaknya lebih rendah dekat kelamin. Kemudian ukuran kantong kangguru Kei juga lebih kecil.

Meski begitu, penjelasan ini juga dipertanyakan lebih lanjut, tentang apakah hewan kangguru ini kebetulan dibawa dari wilayah Kepulauan Aru ke Kei. Jamlean menegaskan bahwa perbedaan alam Kepulauan Aru dan Kepulauan Kei dapat menjadi alasan kelangsungan hidup kangguru di Kei. Sehingga belum tentu kangguru dari Aru dapat bertahan hidup di Kei. Selain itu, ciri-ciri kangguru di Aru juga berbeda dengan yang di Kei Besar.

“Sangat diragukan kalau dibawa dari daerah lain lalu dilepas dan berkembangbiak sendiri,” jelas Jamlean.

Selain itu, menurut Jamlean, kangguru di Kei Besar pernah ditemukan dalam jumlah banyak. Bahkan berdasarkan cerita masyarakat sekitar kawasan Gunung Dab, kangguru pernah dianggap sebagai hama. Kangguru merupakan hewan herbivora atau pemakan tumbuhan.

Meski begitu, kini populasi Kangguru di Kei Besar sudah terancam.

Alasan digunakan sebagai maskot FPMK

Penggunaan kangguru sebagai maskot FPMK juga dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat bahwa kangguru tanah ini masuk dalam daftar satwa yang dilindungi.

Salah satu anggota panitia FPMK Jerry Notanubun menambahkan, maskot Kangguru pernah digunakan dalam sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) beberapa waktu lalu.

“Kita juga konsen terhadap konservasi alam. Jadi perlu kita jaga (kangguru) itu,” tegas Notanubun.

Sementara itu, Ketua Panitia FPMK ke-6 Budhi Toffi menambahkan, penggunaan maskot untuk FPMK tidak mesti menggunakan hewan-hewan laut. Tetapi, hewan lain yang dilindungi juga perlu diangkat untuk menjadi perhatian semua orang.

“Kalau Papua atau Aru punya cendrawasih, kita punya burung skuk. Cendrawasih hitam. Bisa saja tahun depan angkat burung skuk sebagai maskot,” ujar Toffi.

Untuk diketahui, FPMK sebelumnya menggunakan Tabob atau penyu belimbing sebagai maskot.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU