Rabu, Oktober 28, 2020

Kerajinan Tangan Warga Ohoiren Perlu Inovasi

Kerajinan tangan lokal mulai mengalami kemunduran karena tidak ada inovasi.

Langgur, suaradamai.com – Industri kreatif seperti kerajinan tangan yang ada di pesisir Kei Kecil Barat Kabupaten Maluku Tenggara harus senantiasa didorong guna menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Salah satunya, kerajinan tangan masyarakat Ohoi Ohoiren.

Kawasan hutan di wilayah Ohoi Ohoiren dan sekitarnya merupakan kawasan yang ditumbuhi banyak tanaman bambu, baik dari segi jumlah maupun jenisnya. Sudah lama tanaman ini dimanfaatkan  masyarakat setempat untuk keperluan kerajinan tangan anyaman berupa ayakan, nyiru, bakul, hingga perkakas rumah tangga.

Selain membuat anyaman dari bambu, masyarakat Ohoiren juga memiliki keahlian menempa besi. Lewat kerajinan ini, pandai besi menghasilkan parang, pisau dan alat pendukung kerja berbahan dasar besi lainnya.

Produksi tempa besi dan anyaman ini merupakan suatu warisan turun temurun yang hingga saat ini masih melekat sebagai sarana mata pencaharian masyarakat Ohoi Ohoiren.

Sayangnya, dengan hanya berbekal pengetahuan kuno di era industri 4.0 saat ini, masyarakat terbentur dengan tuntutan permintaan pasar dan daya minat beli konsumen yang rendah.

Pius Rahayaan, salah satu warga Ohoiren mengaku selama ini terjadi penurunan daya beli. Akibatnya, para pengrajin enggan memproduksi dalam jumlah yang banyak.

“Kami sudah pasarkan kemana-kemana, tapi hasilnya sama saja. Padahal, dengan hasil penjualan ini setidaknya dapat membantu ekonomi keluarga kami, tapi begitulah kondisi tidak bisa bisa menjamin,” tutur Rahayaan.

Kepala Ohoi Ohoiren Apolonaris Yanwarin mengatakan, orientasi masyarakat hanya bertumpu pada bagaimana bisa mendatangkan uang lebih cepat. Tetapi tidak memperhatikan hasil dan kualitas kerajinan tersebut. Akibatnya produk yang dipasarkan, hampir sebagian besar tidak laku dan dibawa kembali ke kampung.

Padahal, katanya, masyarakat di wilayah yang dipimpinnya ini memiliki keahlian dalam hal anyaman dan tempa besi, dan telah dikenal seantero wilayah Kei. Namun, keahlian itu tak mau dikembangkan dengan inovasi-inovasi baru.

“Sulit sekali untuk membimbing masyarakat di sini. Tapi saya akan terus berusaha supaya ada perubahan terhadap hasil kerajinan masyarakat di sini,” katanya.

Menyikapi situasi yang dihadapi, RD. Erik Mara mengatakan, wilayah ini memiliki keunggulan hasil alam yang sangat menjamin peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Namun, keunggulan itu belum dimanfaatkan dengan baik.

Jika masyarakat berinovasi serta dapat memproduksi olahan yang unik dan kreatif, lanjut mata, produk ini bisa diminati tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga mancanegara.

Di sisi lain, katanya, masyarakat masih lemah dalam membangun kekuatan pasar. Dimana, mereka lebih memilih untuk berjalan berkeliling menjajakan barang-barang tersebut.

“Perlu ada terobosan terhadap hasil produksi. Harus mereka (pembeli) yang membeli di sini, bukan kita (pengrajin) yang menjual di sana. Dengan begitu, tidak perlu mengeluarkan biaya perjalanan yang begitu besar,” katanya.

Lanjutnya menegaskan, perkembangan ekonomi dewasa ini menuntut pelaku ekonomi untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang kreatif, masyarakat harus berusaha lebih keras menemukan ide baru yang lebih unik dan berbeda dengan yang lain sehingga dapat bersaing di dunia bisnis.

“Manfaat lain dari perkembangan ekonomi kreatif adalah berubahnya kualitas produk. Namun, perlu adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat terhadap produk yang aman dan berkualitas daripada produk murah yang dapat merusak daya beli konsumen,” jelas Mara.

Masyarakat juga harus memanfaatkan sarana teknologi informasi, seperti media sosial Facebook dan lain sebagainya untuk lebih mudah menjangkau konsumen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan  Perlindungan Anak Kabupaten Malra, Nely Savsavubun mengatakan, para perempuan di Ohoi Ohoiren dan sekitarnya harus bisa berinovasi. Dalam persaingan dunia industri saat ini, maka  gaya produksi lama harus diperbarui.

Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar tercipta inovasi-inovasi baru bidang kerajinan tangan.

“Peningkatan kualitas para perajin selain untuk meningkatkan kualitas produk, juga untuk menyikapi keluhan konsumen,” ujarnya.

Sistem pembaharuan harus dilakukan melalui proses pelatihan diklat kompetensi. Jika tidak ada kompetensi seperti itu, SDM lokal tidak akan siap bersaing.

“Dengan adanya peningkatan kualitas ini diharapkan mampu mendorong inovasi-inovasi dalam kerajinan tangan. Karena dengan inovasi juga akan mampu menekan biaya produksi,” tukas Savsavubun. (gerryngamel/labesremetwa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ARTIKEL TERPOPULER

Pemkot Tual Pulangkan 254 Pelaku Karantina: Terbanyak Mahasiswa

Wali Kota memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menasihati pelaku karantina yang sebagian besar adalah pelajar mahasiswa.

Jalan Trans Pulau Kei Besar Resmi Jadi Proyek Prioritas Nasional

Selamat untuk seluruh masyarakat Maluku Tenggara. Kita tatap Maluku Tenggara yang lebih baik. Langgur/Jakarta, suaradamai.com – Kabar baik bagi...

Tharob: Varietas Bawang Merah Tajuk Lebih Baik dan Cocok di Kei

Bawang merah varietas tajuk yang diproduksi di Kei memiliki ciri yang sama seperti di Nganjuk, Jawa Timur. Langgur, suaradamai.com...

Kerajinan Tangan Warga Ohoiren Perlu Inovasi

Kerajinan tangan lokal mulai mengalami kemunduran karena tidak ada inovasi. Langgur, suaradamai.com – Industri kreatif seperti kerajinan tangan...

KOMENTAR TERBARU