Legislator Soroti Lima Tahun RSUD Karel Sadsuitubun Tak Punya Rencana Bisnis Anggaran

Sejak ditetapkan sebagai BLUD dan mulai beroperasi tahun 2016 hingga kini, RSUD Karel Sadsuitubun belum memiliki Rencana Bisnis Anggaran (RBA).


Langgur, suaradamai.com – Sejak tahun 2015, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara telah menetapkan RSUD Karel Sadsuitubun Langgur sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (sekarang OPD), yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD).

Namun sejak ditetapkan dan mulai berporasi tahun 2016 hingga kini, RSUD tersebut belum memiliki Rencana Bisnis Anggaran (RBA). RBA adalah dokumen rencana anggaran tahunan BLUD, yang disusun dan disajikan sebagai bahan penyusunan rencana kerja dan anggaran OPD.

RBA meliputi ringkasan pendapatan, belanja, dan pembiayaan; rincian anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan; perkiraan harga; besaran presentase ambang batas; dan perkiraan maju atau forward estimate.

Permintaan RBA ini disampaikan berkali-kali oleh Komisi II, lebih khusus anggota Komisi II Benedict Fadly Rejaan. Dalam rapat pertanggungjawaban anggaran Dinas Kesehatan dan RSUD Karel Sadsuitubun tahun 2020, Senin (19/7/2021), Fadly menanyakan lagi RBA tersebut.

Dalam rapat tersebut, barulah Sekretaris RSUD Karel Sadsuitubun Rudi Safsafubun terbuka. Menurut Rudi, mereka tidak bermaksud untuk tidak menghargai para dewan, tetapi memang RBA milik RSUD belum ada sejak ditetapkan sebagai BLUD.

“Saya harus katakan dengan jujur, bahwa sumber daya manusia kita di rumah sakit untuk membuat RBA ini masih minim. Termasuk saya sendiri belum ada bayangan untuk membuat RBA ini,” ungkap Rudi yang bergabung dengan rumah sakit pada tahun 2017 itu.

Ia menambahkan, pihaknya sementara mengusahakan untuk membuat RBA tersebut. Untuk pembuatan RBA ini, lanjut Rudi, memerlukan narasumber dari luar, kemudian membentuk tim agar sama-sama merancang Rencana Bisnis Anggaran RSUD Karel Sadsuitubun.

Mengetahui kondisi tersebut, Fadly berkesimpulan bahwa Pemerintah Daerah memang abai dengan hal-hal yang bersifat jangka panjang. Pemda juga, menurut Fadly, belum menganggap DPRD sebagai mitra yang sesungguhnya.

“Misalnya (pembuatan) Riparda Pariwisata, RT/RW. Semua hal jangka panjang, teman-teman mengabaikan itu. Itu yang kemudian saya lihat bahwa kenapa kita tidak jalan baik-baik, karena kita pakai otak kita saja (kurang kerja sama),” ujar Fadly.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU