Pattimura satu, dua, dan tiga, meludah berjuta asa yang terdiskriminasi.
Suaradamai.com – Reinterpretasi Pattimura, sebuah puisi dari Mariana Lewier (Penyair dan Dosen Sastra di Universitas Pattimura Ambon).
Pattimura-Pattimura muda berjajar
sepanjang abad
berbungkus bayang raga nan kokoh dan sigap
menendang sejarah dengan kakikaki berlaras teknologi
menyibak becek rasio dan genangan empati semu
menyeberangi waduk cyber di labirin tak bertuan
Pattimura-Pattimura muda berdesak
dibungkus fantasi heroistik
merambah euforia kosmopolitan
digayuti aksi dan reaksi kritis inovatif
melampaui segala petuah dan pepatah
Pattimura satu mengulum jejari reformasi
Pattimura dua mengunyah jerit provokasi
Pattimura tiga menelan janji birokrasi
Pattimura satu, dua, dan tiga
meludah berjuta asa yang terdiskriminasi
Pattimura-Pattimura abad millennium
berlomba dalam ajang globalisasi yang hegemonis
nyaris mencetak manusia-manusia hipokrit
yang mengingkari jati diri sendiri
meninggalkan rumah budaya
tempat pijak segala martabat dan derajat
Ke manakah Pattimura-Pattimura sejati
yang mengusung derap pembangunan segala zaman
tanpa harus berpaling dari citra hati
yang menjunjung kebenaran?
Mungkin masih akan kita jumpai
di lorong-lorong kecil nan damai
di pinggir emperen toko mengais nasib
di pelataran gedung bertingkat menadah ilmu
atau bahkan di tiap celah hati kita
yang merindukan kebebasan!
(Refleksi sekilas menyongsong Hari Pattimura 15 Mei)
Editor: Labes Remetwa
Puisi ini pernah dimuat bersama puisi karya Rudi Fofid dan Hanafi Holle, 15 Mei 2008 di Harian Suara Maluku





