Dengan integrasi kelapa dan teripang, Aru menuju ekonomi berkelanjutan, mengurangi ketergantungan laut, dan membuka prospek global.
Dobo, suaradamai.com – Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, memiliki potensi besar untuk mendunia lewat ekonomi hijau dan biru melalui pengembangan komoditas kelapa dan teripang.
Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel mendorong pengembangan dan budidaya kedua komoditas ini guna menarik investor, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Dengan tren permintaan coconut milk di pasar internasional dan nilai ekspor teripang yang tinggi, Aru siap memanfaatkan peluang ini untuk swasembada dan ketahanan pangan.
Terobosan Bupati Kaidel untuk Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa
Kelapa, yang selama ini dianggap komoditas biasa, kini menjadi primadona di pasar internasional.
Permintaan coconut milk atau santan kelapa melonjak tajam, didorong pergeseran pola konsumsi di China dan Eropa yang beralih dari susu hewani ke alternatif nabati.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia harus memanfaatkan posisinya sebagai produsen kelapa terbesar dunia melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor.
Harga kelapa pun ikut naik akibat tren ini. Contoh sukses terlihat di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, yang berhasil mengekspor kelapa olahan langsung ke Tiongkok.
Di Aru, Bupati Timotius Kaidel mengusung gagasan Ekonomi Hijau dengan target penanaman 10 juta pohon kelapa, yang disebutnya sebagai “pohon emas”.
Sejak era kolonial Belanda, Aru dikenal sebagai sentra perkebunan kelapa, tapi potensi ini belum dimaksimalkan pemerintah.
“Ini yang ke depan kita Kabupaten Kepulauan Aru melihat potensi itu kita mau kembangkan apa yang sudah pernah ada di Kabupaten Kepulauan Aru,” ujar Kaidel dalam Wawancara Eksklusif bersama Suaradamai.com belum lama ini.
Visi ini selaras dengan misinya membangun dari sektor darat melalui ekonomi hijau. “Target kita lima tahun ke depan itu harus bangkit 10 juta pohon kelapa yang mana ini dikembangkan oleh petani atau masyarakat adat kita di pesisir,” tambahnya.
Dengan 10 juta pohon, panen diperkirakan mencapai 360.000 ton setiap tiga bulan, menarik investor untuk hilirisasi lokal. Ini akan menciptakan ketahanan pangan, lapangan kerja, dan keseimbangan dengan ekonomi biru yang selama ini dominan.
“Kalau kita eksploitasi laut pesisir, dan tidak memperhatikan sisi darat, satu waktu akan terjadi pengangguran dan terjadi kemiskinan ekstrem di Kabupaten Kepulauan Aru,” jelas Kaidel.
Program ini melibatkan semua stakeholder, termasuk dana desa untuk ketahanan pangan.
Setiap keluarga didorong menanam 10-20 pohon per hari, sehingga dengan 25.000 kepala keluarga, sekitar 250.000 pohon baru tumbuh harian.
Bibit dibuat dari panen lokal, didukung dana sharing. Pohon kelapa yang berumur panjang akan diakta notaris sebagai warisan anak cucu.
Hilirisasi akan meningkatkan harga kopra dari Rp20.000 menjadi dua kali lipat, tanpa biaya transportasi ke Surabaya. Semua bagian kelapa dimanfaatkan: kulit, sabut, tempurung, daging, hingga ampas menjadi tepung.
“Kalau kita tidak mulai dari sekarang, maka lima tahun ke depan kita akan makin ketinggalan. Makanya Aru memulai sekarang, supaya lima tahun ke depan Aru siap tampil ke depan sebagai daerah yang siap untuk memproduksi dan terjadi swasembada kelapa,” tegas Kaidel.
Di lapangan, Desa Selibata-bata, Kecamatan Aru Tengah, telah menangkap visi ini. Pemerintah desa mengalokasikan Rp45 juta dari dana desa untuk bibit kelapa yang dibeli dari masyarakat setempat dan ditanam di kebun pribadi sebagai hak waris.
BUMDes Pintu Gardim Dim membeli buah kelapa tanpa kulit seharga Rp2.500 per buah, disesuaikan dengan ketebalan isi.
Kepala Desa Boy Rugun menyatakan program ini cocok karena mayoritas warga adalah pekebun.
Budidaya Teripang Berbasis Sasi
Selain kelapa, teripang menjadi andalan ekonomi biru di Aru. Bupati Kaidel mempromosikan budidaya alami berbasis sasi adat untuk keberlanjutan.
Kondisi geografis Aru dengan perairan dangkal dan lambung laut subur sangat mendukung pertumbuhan teripang, ikan, udang, kepiting bakau, lobster, dan abalon.
“Kita punya lambung laut yang sangat subur di Aru.. ini sangat cocok dan alam itu sudah menjanjikan tentang satu komoditi teripang ini yang tumbuh subur,” kata Kaidel.
Budidaya ini minim teknologi dan biaya, tapi selama ini panen kurang ramah lingkungan: waktu dan ukuran tangkap tidak standar, memengaruhi permintaan pasar.
Pemda akan atur dalam waktu dekat melalui Musyawarah Adat 117 desa pesisir.
“Dalam waktu sasi ini teripang itu dibiarkan hidup di alam. Di saat teripang itu sudah mulai produktif, sudah mulai dalam ukuran panen, diizinkan,” jelasnya.
Teripang digemari China untuk pesta Imlek, harga bisa naik dua kali lipat. Panen tiga bulan sebelum Imlek akan maksimalkan nilai.
Satu keluarga pesisir bisa panen 20 kg teripang ukuran ekspor, bernilai Rp5 juta per kg atau Rp100 juta total—setara Rp8 juta per bulan.
Metode kurungan tancap dengan tambak yang juga digunakan nelayan untuk budidaya menurut Kaidel tidak ramah lingkungan dan menghambat pergerakan teripang yang menyuburkan pesisir.
Pemasaran diawasi pemda untuk stabilitas harga. “Kita sudah persiapkan skema-skema itu sehingga pengusaha-pengusaha lokal diawasi oleh pemerintah daerah itu sendiri. Sehingga kita biarkan hukum pasar itu tetap berlaku, tetapi kita juga mengawasi hukum pasar itu supaya jangan terjadi kompromi atau konspirasi dalam menekan harga,” pungkas Kaidel.
Dengan integrasi kelapa dan teripang, Aru menuju ekonomi berkelanjutan, mengurangi ketergantungan laut, dan membuka prospek global.
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru
