Menjadi Tuan di Rumah Sendiri, Catatan dari Gardakau Songsong Arus Investasi di Benjina

“Kita tidak menolak investasi. Kita justru menyambutnya dengan mempersiapkan diri, tapi dengan syarat: manusia Gardakau harus dimuliakan, alamnya dilestarikan sebagaimana leluhur sudah berusaha keras menjaganya bukan sekadar dipakai lalu dilupakan. Jadi jelas ya tujuan utama dari fasilitasi yaitu mempersiapkan desa agar menjadi subjek dari investasi yang berkeadilan lingkungan & berkeadilan sosial”


Dobo, suaradamai.com – Riuh rendah suara warga memecah kesunyian Desa Gardakau baru-baru ini.

Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa.

Sebanyak 50 warga mulai dari kaum bapak, mama-mama dan pemuda (belum termasuk anak-anak) berkumpul dalam sebuah ruang inklusif.

Mereka sedang menggambar masa depan di atas kertas plano, di tengah desas-desus kembalinya raksasa investasi ke Benjina.

Fasilitator lapangan dari Patriot Energi berkolaborasi dengan Rumah Sastra Arafura (RSA) dan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia hadir bukan untuk memprovokasi melainkan untuk memantik kesadaran: Bagaimana Gardakau tidak lagi hanya menjadi penonton di pinggir lapangan saat sumber dayanya dikeruk?

Diskusi dimulai dengan sederhana: “Seperti apa Katong Pung Kampung Impian?” dalam Bahasa Indonesia berarti Seperti Apa Kampung Impian Kita?

Secara serentak, kelompok-kelompok kecil mulai membedah kebutuhan dasar yang selama ini masih menjadi kemewahan.

Air bersih, listrik yang stabil, fasilitas kesehatan sdengan tenaga medis yang mumpuni, MCK yang layak, hingga sekolah dengan guru yang menetap.

Mimpi warga Gardakau tidaklah muluk; mereka hanya merindukan hak-hak dasar manusiawi yang seharusnya sudah tegak sejak lama.

Namun, ketika diskusi bergeser memetakan peluang dan ancaman hadirnya investor di Benjina, suasana berubah menjadi reflektif.

Luka lama terpantik. Warga berkisah tentang sejarah kelam masa jaya Jayanti Group hingga PBR di masa lalu.

“Dulu perusahaan besar ada di depan muka kampung, tapi Gardakau tetap begini saja,” celetuk salah satu warga.

Kenangan pahit tentang bagaimana desa hanya dijadikan objek ekonomi tanpa ada peningkatan taraf hidup yang signifikan menjadi pengingat keras.

Mereka sadar bahwa kehadiran investasi besar tidak secara otomatis menghapus kemiskinan jika desa tidak siap secara posisi tawar.

Elisabeth Nainggolan selaku koordinator wilayah Patriot Energi Kepulauan Aru mengungkapkan bahwa “Kita tidak menolak investasi. Kita justru menyambutnya dengan mempersiapkan diri, tapi dengan syarat: manusia Gardakau harus dimuliakan, alamnya dilestarikan sebagaimana leluhur sudah berusaha keras menjaganya bukan sekadar dipakai lalu dilupakan. Jadi jelas ya tujuan utama dari fasilitasi yaitu mempersiapkan desa agar menjadi subjek dari investasi yang berkeadilan lingkungan & berkeadilan sosial”

Patriot Energi dan DFW mendorong warga untuk membedah potensi up-scaling desa.

Diskusi berlanjut pada sesi penguatan kapasitas mengenai hak-hak pekerja, standar keselamatan kerja (K3), hingga kewajiban Corporate Social Responsibility (CSR) yang harus dikontribusikan perusahaan bagi desa.

“Bercerita tentang pengalaman-pengalaman baik dan juga tidak baik, kita coba menganalisisnya bersama bagaimana agar pengalaman itu menjadi pembelajaran kedepannya. Ada juga hak-hak normatif –upah, jaminan kesehatan & keselamatan kerja, CSR dsb– yang harus dipenuhi sebagai kewajiban perusahan” ungkap fasilitator dari DFW Indonesia saat memaparkan materi regulasi ketenagakerjaan.

Diskusi diakhiri dengan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities,Threats) yang mendalam.

Warga memetakan sendiri apa yang mereka miliki dan apa yang harus diperbaiki. Mereka mengidentifikasi tantangan internal seperti kapasitas SDM, namun juga melihat peluang besar untuk menjadi penyedia rantai pasok bagi perusahaan nantinya.

Pertemuan di Gardakau hari itu adalah sebuah pernyataan sikap.

Bahwa ketika investor benar-benar menginjakkan kaki kembali di Benjina, warga Gardakau sudah berdiri tegak.

Mereka bukan lagi objek yang pasrah, melainkan pelaku ekonomi yang siap bernegosiasi, mengawasi, dan memastikan bahwa setiap tetes keringat, doa leluhur serta jengkal tanah mereka berbuah kesejahteraan yang nyata bagi anak cucu.


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Pilih Kampus yang Membawa Anak Anda Lebih Cepat Bekerja

Di tengah persaingan kerja yang semakin kompetitif, keputusan memilih...

Iman yang Hidup dan Komunitas yang Bersatu

Renungan Minggu Paskah II (12 April 2026)Minggu Paskah II...

Muscab PKB Kota Ambon Dibuka, Targetkan Enam Kursi pada Pemilu 2029

Ambon, suaradamai.com - Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa...

34 Pasangan Ikuti Nikah Massal di Jemaat GPKAI Berdomus Tuhiba, Dukcapil Hadir Layani Pencatatan Sipil

Melalui layanan jemput bola di lokasi acara, Dukcapil Teluk...