Pasar Rakyat Manimeri Sepi, Hanya Dihuni Lima Pedagang

Pasar Rakyat Manimeri sempat ramai setelah diresmikan oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan pada 2021 lalu. Namun, kondisi itu hanya bertahan 1-2 bulan.


Bintuni, suaradamai.com – Pasar Rakyat Manimeri di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, tampak sepi. Terhitung hanya lima pedagang yang beraktivitas di pasar yang diresmikan pada 2021 lalu itu.

Pantauan suaradamai.com, lima pedagang dan pelaku usaha yang menghuni pasar tersebut terdiri atas pedagang kuliner, tukang pangkas rambut, tukang service hp, dan penjual bibit pertanian.

Salah satu pedagang, Mustofa (40), mengatakan Pasar Rakyat Manimeri sempat ramai setelah diresmikan oleh Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Namun, kondisi itu hanya berlangsung 1-2 bulan.

“Yang ini sempat penuh, itu orang jualan sayur, ayam potong,” kata Mustofa sambil menunjuk salah satu bangunan.

“Los baju (pakaian) belum diisi, dengan yang bangungan bertingkat [juga belum]. Pokoknya yang tingkat-tingkat itu belum pernah diisi,” tutur Mustofa yang sudah 10 tahun berdagang di situ.

Mustofa menambahkan, dalam perjalanan, satu per satu pedagang mulai keluar. Ia tidak tahu apa yang menjadi penyebab para pedagang tidak berjualan di dalam pasar.

Yang pasti, ia tetap berjualan di situ meski pembeli yang datang belum banyak.

“Kalau untuk pembeli ya ada. Ada sih. Lumayan lah,” ujar Mustofa menjelaskan daya beli di Pasar Rakyat Manimeri saat ini.

Pedagang lain, Rois Gunawan (36), menyebut para pedagang yang keluar bisa jadi disebabkan karena kondisi pasar yang masih sering tergenang air ketika hujan.

Kondisi itu membuat pembeli tidak nyaman dan enggan masuk ke pasar.

“Waktu peresmian itu mulai rame. Tapi cuman bertahan satu bulan kalau tara salah. Habis satu per satu sudah mulai ke mata jalan, tara mau tinggal di sini karena air tergenang begini to,” ujar Rois.

Baik Mustofa dan Rois berharap, pemerintah bisa menciptakan kondisi yang sehat di pasar sehingga pasar bisa ramai.

Sementara itu, Siti Muna Rumatumia, penjual pinang, juga sudah 10 tahun berjualan di Pasar Rakyat Manimeri dan sekitarnya. Saat ini, ia berdagang di pinggir jalan, tidak jauh dari pasar. Sebelumnya ia sempat berjualan pinang di dalam pasar tersebut.

Siti mengaku, selama berdagang di dalam, dagangannya kurang laris. Tidak seperti di pinggir jalan saat ini.

“Di dalam tidak laku. Barang semua kering. Sayur lah, semua. Di luar kan pedagang sayur banyak di luar. Jadi kita punya barang kering (tidak laku di dalam pasar),” tutur Ibu empat anak itu.

Siti mengaku siap masuk kembali apabila pemerintah memperbaiki kondisi pasar.

“Di pasar sebelah sana itu kalau hujan, banjir. Tidak ada orang yang masuk di dalam sudah. Itu kalau rehab boleh. [Kita minta] dibongkar [pagar] di depan. Kalau tidak dibongkar, kita tara bisa masuk, orang-orang semua tara bisa masuk,” ujar Siti.

Editor: Labes Remetwa


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Lampaui Target 2025, Penumpang di PELNI Tembus 5,15 Juta Orang

Kepala Cabang Pelni Tual, Teguh Harisetiadi, menyampaikan bahwa realisasi...

Konflik di Ohoi Ngadi Berakhir, Wawali Tual: Tanpa Rasa Aman Pembangunan Tak Jalan

Tual, suaradamai.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tual bersama para...

Sah! Ini 3 Calon Direktur Polikant Periode 2025-2029

Kabalmay mengatakan, proses tahapan penyaringan ini sesuai dengan mekanisme...

Bupati Kaidel: Panen Raya 2026 Jadi Motivasi Petani Aru Dukung Program Nasional

Bupati Kaidel mengatakan, panen raya ini menjadi momentum untuk...