Petani Rumput Laut Pulau Hoat Dukung Program “Seaweed Estate”

“Bukan baru sekarang Hoat ingin jadi kampung rumput laut, tetapi sudah sejak 13 tahun lalu,” jelas Ohoiwutun.


Langgur, suaradamai.com – Petani rumput laut pulau Hoat menyatakan kesiapan menghadapi program (Seaweed Estate) Kampung Rumput Laut yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Antonius Maurits Ohoiwutun salah satu petani rumput laut menjelaskan, bentuk kesiapan petani Hoat dalam menghadapi program tersebut adalah ketersedian lahan budidaya dan keakitifan warga.

“Bukan baru sekarang Hoat ingin jadi kampung rumput laut, tetapi sudah sejak 13 tahun lalu,” jelas Ohoiwutun.

Selain itu, petani rumput laut yang lain, Helen Jamlean mengatakan, Hoat siap mendukung program tersebut namun menolak tenaga kerja dari luar apabila pemerintah menjadikan Hoat sebagai salah satu kampung rumput laut.

“Kalau Debut, dan kampung kampung tetangga tidak masalah, tetapi jangan orang luar,” jelas Helena.

Lebih lanjut Helena menjelaskan, apabila ada pengusaha yang ingin bekerja sama dengan memudahkan petani rumput laut Hoat, pihaknya akan bersedia menerima.

“Kalau ada pedagang yang baik, dengan memberikan harga yang bagus, kami siap bekerja sama,” ujar Helena.

Ia berharap pemerintah dapat menetapkan harga dasar rumput laut sehingga tidak terjadi penurunan hingga lima ribu rupiah per kilogram.

“Pak Bupati, kami harap ada harga tetap. Sehingga bisa menjadi motifasi untuk kami. Rumput laut ini hidup kami,” pungkasnya.

Diketahui, sebanyak 27 Kepala Keluarga (KK) yang berdomisili di pulau Hoat. Enam KK berasal dari Dian pulau. Dua KK berasal dari Rumadian dan sisanya berasal dari Debut.

Editor: Petter Letsoin


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU