Cristy menaruh harapan besar pada pendidikan vokasi yang ditawarkan Polikant. Menurut Cristy, kampus biru itu memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya mantap melanjutkan studi di sana.
Langgur, suaradamai.com – Calon mahasiswa baru Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), Cristy Let-Let, memilih belajar pariwisata di kampus biru. Cristy punya impian membangun pariwisata di kampung halamannya.
Pemudi asal Ohoi/Desa Danar Ohoiseb, Kabupaten Maluku Tenggara itu, menaruh harapan besar pada pendidikan vokasi yang ditawarkan Polikant.
Menurut Cristy, kampus biru itu memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya mantap melanjutkan studi di sana.
“Memiliki akreditasi baik sekali. Selain itu memiliki peringkat kemahasiswaan yang baik di tingkat nasional. Karena posisinya sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Kepulauan Kei dan meraih akreditasi sangat baik,” ungkap Cristy.
Cristy juga menyebut ketertarikannya pada sistem pembelajaran berbasis praktik sebagai salah satu alasan utama memilih Polikant.
Program lapangan yang menjadi ciri khas pendidikan vokasi ia yakini akan sangat membantu dalam memahami dunia pariwisata, sekaligus meningkatkan kemampuannya.
Lulusan SMA Negeri 1 Tual ini tak sekadar ingin bekerja di sektor pariwisata, tapi juga berambisi menjadi pelaku wisata profesional yang mampu menciptakan lapangan kerja di kampungnya sendiri.
“Ingin menjadi pelaku pariwisata yang profesional dan ingin menyediakan lapangan pekerjaan,” ujar Cristy.
Akreditasi Politeknik Perikanan Negeri Tual
Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) mendapat akreditasi “Baik Sekali” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Akreditasi terhadap kampus biru itu tertuang dalam SK Nomor 771/SK/BAN-PT/Ak/PT/X/2023.
Akreditasi selain merupakan suatu kewajiban bagi perguruan tinggi, akreditasi juga adalah bentuk pengakuan terhadap proses, sistem, dan produk (lulusan) yang dihasilkan oleh suatu lembaga pendidikan.
Dengan kata lain, akreditasi menjadi tolak ukur perguruan tinggi memiliki mutu pendidikan yang baik. Sehingga kompetensi mahasiswa pun sesuai standar pendidikan.
Editor: Labes Remetwa





