‎Soal Kekosongan Jabatan Kasi Katolik yang Disorot PMKRI, Kemenag Aru: Kami Sudah Proses

‎Ia lantas meminta organisasi kepemudaan (OKP) seperti PMKRI untuk tidak hanya berteriak di daerah, tetapi  menggunakan jaringan organisasi tingkat nasional untuk melakukan lobi-lobi ke Jakarta.


‎Dobo, suaradamai. com – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Dobo secara serius menyoroti kekosongan jabatan Kepala Seksi (Kasi) atau Penyelenggara Urusan Umat Katolik di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kepulauan Aru.

‎Mereka menilai, Kemenag Aru tidak serius sehingga terjadi ketimpangan sebaran pejabat struktural, khususnya pejabat yang berhubungan dengan kepentingan umat Katolik.

‎PMKRI Cabang Dobo lantas meminta  Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku agar mencopot Kepala Kemenag Aru.

‎”Kami minta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku agar segera copot saja jabatan Kepala Kemenag Kepualauan Aru,” kata Ketua Presidium PMKRI Cabang Dobo, Jeremias Pardjala dalam keterangannya.

‎Sementara itu, kepala Kemenag Aru, Hanafi Rumatiga menjelaskan, kewenangan pembentukan struktur organisasi vertikal sepenuhnya berada di pusat, bukan di tingkat kabupaten.

‎Ia menegaskan, seluruh proses administrasi daerah telah rampung dan kini tertahan di tingkat kementerian pusat.

‎“Kami sudah proses. Dari kabupaten ke provinsi sudah selesai, bahkan di pusat juga sudah terproses. Masalahnya, pembentukan ini melibatkan lintas kementerian, yaitu Kemenpan-RB untuk urusan SDM dan Kementerian Keuangan untuk anggaran,” ujar Rumatiga kepada wartawan Rabu (6/5/2026), mengutip Beritajar.com.

‎Lanjutnya, seluruh dokumen persyaratan nomenklatur telah dikirimkan melalui Pengawas Katolik, Pak Tobi, dan diserahkan langsung kepada Kakanwil Maluku saat momen Pesparani di Tual.

‎Ia lantas meminta organisasi kepemudaan (OKP) seperti PMKRI untuk tidak hanya “berteriak” di daerah, tetapi  menggunakan jaringan organisasi tingkat nasional untuk melakukan tekanan langsung ke Jakarta.

‎“Di daerah ini kita hanya ‘kulit bawang’, tidak punya pengaruh eksekusi. Gunakan jaringan pusat, lakukan audiensi langsung dengan Menteri Agama atau Menpan-RB. Apalagi hubungan pimpinan Gereja (Kardinal) dengan Pak Menteri sangat akrab. Itu jauh lebih efektif daripada blokade di sini yang justru mengganggu pelayanan umat,” ucap Rumatiga.

‎Ia menekankan bahwa tekanan dari pihak eksternal dan masyarakat melalui jalur nasional akan menjadi kunci percepatan SK nomenklatur.

‎Menurutnya, aksi di daerah tidak akan berpengaruh banyak terhadap kebijakan kementerian di pusat yang sedang menggodok ketersediaan SDM dan anggaran secara nasional.


‎

Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Tak Ingin Ada Warga Terkendala Akses Kesehatan, Gubernur Maluku Usulkan Renovasi RSUD Haulussy dan 141 Puskesmas

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Maluku terus memperjuangkan pemerataan akses...

Tanpa Bebani APBD, Pemprov Maluku Gandeng Bank Mandiri dan Bea Cukai Promosikan Potensi Wisata ke Dunia

BALI – Pemerintah Provinsi Maluku terus memperkuat langkah strategis...

DARI KAMPUS UNTUK MALUKU, PEMPROV AJAK LULUSAN UNPATTI HADIRKAN INOVASI DAN PERUBAHAN

AMBON – Pemerintah Provinsi Maluku mengajak para lulusan Universitas...

Vanath Paparkan Tantangan Ekonomi Maluku, Harapkan Masukan Jusuf Kalla

Ambon — Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, memaparkan sejumlah...