Dinas Perikanan Aru Dukung Visi Bupati Kembangkan Budidaya Teripang Berbasis Kearifan Lokal: Sangat Bagus

Visi ini menekankan pendekatan berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pelestarian lingkungan laut.


Dobo, suaradamai.com – Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel memiliki visi strategis untuk memajukan sektor perikanan melalui pengembangan budidaya teripang secara alami dengan mengedepankan kearifan lokal, khususnya metode sasi. 

Sasi sebagai sistem pengelolaan sumber daya laut tradisional telah terbukti efektif dalam menjaga kelestarian teripang, khususnya jenis Holothuria scabra atau teripang pasir yang merupakan komoditas unggulan di wilayah ini. 

Visi ini menekankan pendekatan berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pelestarian lingkungan laut.

Dukungan Penuh Dinas Perikanan Kepulauan Aru

Plt Kepala Dinas Perikanan Kepulauan Aru, Benyamin Batmomolin menyatakan dukungan penuh terhadap visi Bupati. 

Ia menegaskan bahwa nelayan merupakan prioritas utama dalam pembangunan, mengingat luas wilayah lautan yang mendominasi Kepulauan Aru. 

“Sebenarnya kalau berbicara nelayan itu kan harus jadi prioritas ya, untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat, karena di sini kan rata-rata luas lautan lebih banyak dari darat. Lalu aktifitas orang kebanyakan di laut. Oleh karena itu, dari sisi peningkatan nelayan itu kan harus lebih diutamakan,” kata Beni saat diwawancarai Suaradamai.com, Senin, 14 Juli 2025.

Ia menekankan perlunya metode baru dan perubahan pola pikir untuk mengoptimalkan potensi perikanan, termasuk budidaya teripang.

Dinas Perikanan telah melaksanakan berbagai program untuk mendukung nelayan, mulai dari bantuan speed boat, keramba jaring apung, hingga alat tangkap. 

Namun, tantangan utama adalah memastikan bantuan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan nelayan. 

“Karena bantuan perikanan sudah dari dulu, tapi pertanyaannya, kesejahteraan nelayan sampai mana? Peningkatan taraf hidupnya sampai mana?” ungkap Beni.

Budidaya Teripang Berbasis Sasi

Diungkapkan Beni, Budidaya teripang di Kepulauan Aru, khususnya di wilayah Aru Utara hingga Aru Selatan masih mengandalkan metode tradisional seperti sasi. 

Metode ini melibatkan pengelolaan sumber daya laut secara selektif, di mana masyarakat setempat menjaga teripang dengan memberlakukan larangan panen pada waktu tertentu. 

“Sasi adalah kearifan lokal yang sudah turun-temurun. Ini konsep budidaya yang sangat baik dan harus dilestarikan,” kata Beni. 

Ia menambahkan bahwa sasi tidak hanya menjaga kelestarian teripang, tetapi juga mencegah pencurian hasil budidaya.

Selain sasi, Ia juga mendukung gagasan Bupati yang memperkenalkan inovasi berupa restocking, yaitu penebaran kembali bibit teripang untuk mempertahankan populasi di alam. 

“Restocking bagus, sangat bagus dan bahkan itu ya barangkali di Indonesia pertama kali ya untuk teripang. Dari kita harus ada inovasi. Saya pikir inovasi yang bagus, itu di Indonesia barangkali di Aru saja untuk pertama kali restocking teripang. Apresiasi untuk pemikiran inovasi yang cukup tinggi dari bupati kita,” ujar Beni.

Meski budidaya teripang masih bersifat tradisional, Beni menjelaskan bahwa pengembangan intensif dapat meningkatkan produktivitas. 

“Budidaya intensif membutuhkan pengelolaan lingkungan, pakan seimbang, dan kualitas air yang baik. Saat ini, kita masih menggunakan batu dan jaring, tapi ke depan, teknologi modern bisa dipertimbangkan,” jelasnya. 

Teripang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat sangat signifikan, terutama di Aru Tengah yang memiliki tingkat pendidikan cukup tinggi.

Bagaimana Pengembangannya ke Depan?

Budidaya teripang menghadapi sejumlah tantangan seperti fluktuasi harga pasar yang dipengaruhi kondisi global, pencurian hasil budidaya sebelum masa sasi, dan kebutuhan pakan berkualitas. 

Untuk mengatasi hal ini, Dinas Perikanan berupaya mempermudah pemasaran dengan menarik investor yang dapat menawarkan harga lebih baik. 

“Harga teripang di Aru sekitar Rp1,6 juta, sedangkan di Jawa bisa Rp4 juta. Kami ingin harga lokal naik ke Rp2-3 juta dengan mempertimbangkan biaya produksi,” ujar Beni.

Pelestarian lingkungan juga menjadi fokus utama. Penebangan hutan mangrove dan pengambilan pasir sembarangan dapat mengganggu ekosistem teripang. 

“Angkatan Laut juga sudah mulai cukup tegas. Apabila ketahuan itu ada denda yang cukup besar, sehingga secara lokal masyarakat masih sangat menjaga itu. Dan juga terbukti konsep pemanfaatan hutan mangrove di Aru kan masih tinggi. Itu kan sumber nutrea juga nutrisi untuk pengembangan budidaya teripang secara lama,” ungkap Beni.

Beni menegaskan bahwa tugas Dinas Perikanan adalah mensejahterakan masyarakat melalui sektor perikanan dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada.

Ia juga mengajak nelayan untuk menjalani profesi mereka dengan profesionalisme.

“Kan hampir di seluruh dunia ini nelayan kaya. Di China, Jepang, nelayan kaya. Hanya kita disini yang karena kurang mendalami profesi, mendalami pekerjaan, sehingga ya begitulah,” tutur Beni.

Ia menekankan pentingnya ketulusan dan dedikasi agar profesi nelayan dapat menghasilkan kesejahteraan yang nyata.

Peluang dan Tantangan Sasi Teripang hingga Alternatif Kurungan Tancap

Opi Sunaryo, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Kecil Pembudidaya Ikan, Dinas Perikanan Aru mengungkapkan, budidaya teripang masih dilakukan secara tradisional dengan bibit yang diambil langsung dari alam. 

“Teripang ini masih skala tradisional. Tradisional karena bibitnya itu masih berasal dari alam. Nah pembudidaya ini menggunakan metode kurungan tancap. Kurungan tancap ini dipakai waring atau jaring untuk mengelilingi area setelah itu bibit dimasukan bibit alam. Setelah ukurannya cukup dipanen. Nah itu yang sementara terjadi.” terang Opi.

Menurutnya metode ini memungkinkan pembudidaya untuk memanen teripang dalam waktu relatif singkat, sekitar tujuh hingga delapan bulan, dengan panen selektif yang hanya mengambil teripang berukuran ekonomis. 

“Tujuh delapan bulan sudah bisa panen dan itupun panen selektif yang ukuran ekonomis saja yang bisa dijual. Yang belum ukuran ekonomis dibiarkan dulu. Sampai ukuran ekonomisnya bisa dicapai baru dijual,” tuturnya.

Sasi, sebagai praktik konservasi tradisional, memiliki manfaat besar dalam menjaga kelestarian sumber daya alam. 

“Kalau dari sisi konservasi itu bagus dan sangat menjaga kelestarian sumberdaya di alam,” ungkap Opi. 

Namun, sasi memiliki kelemahan dari sisi ekonomi.

“Dari sisi ekonomis sedikit terganggu kenapa karena sasi itu dia butuh waktu, untuk bisa masyarakat kecil mendapatkan dana segar lewat penjualan hasilnya, karena sasi itu kalau kita tidak salah minimalnya dua tahun, tiga tahun, tergantunglah masyarakat desa,” ungkap Opi.

Waktu tunggu yang panjang ini menjadi kendala bagi masyarakat yang membutuhkan pendapatan harian. Selain itu, sasi menghadapi tantangan pengawasan.

 “Sasi ini juga kendalanya banyak kan. TIdak ada pengawasan kan dari desa lain yang tidak terlibat langsung dengan struktur adat desa setempat, mereka kan bisa datang culik apalagi kalau lihat-lihat ukuran ekonomisnya sudah bagus ya. Kadang-kadang dini hari larut malam mereka datang dengan kendaraan mereka curi,” ungkap Opi.

Pencurian ini sering memicu konflik antar masyarakat. “Kalau ketemu sama masyarakat setempat kan bisa jadi benturan, itu juga jadi persoalan,” ungkapnya lagi.

Luasnya area sasi juga menyulitkan pengawasan. 

“Ini dari tingkat kesadaran saja karena area sasi itu kan besar, sangat besar sehingga ketika mereka di desa dan yang mau curi ini ada di laut area itu yang jauh itu, waktu mereka mau kejar, ketika mereka yang curi ini tahu bahwa ketahuan, yah sudah mereka lari dan tidak ketemu,” jelasnya.

Akibatnya ungkap Opi,  beberapa desa seperti Desa Kompane, mulai beralih dari sasi ke budidaya langsung.

“Seperti desa Kompane, awalnya kan mereka pake sasi tapi sekarang mereka tidak pakai sasi lagi, kenapa? Karena mereka sudah lihat dampak dari proses budidaya yang mereka rasakan,” tuturnya.

Sebagai solusi atas tantangan sasi, menurut Opi, budidaya dengan metode kurungan tancap menjadi alternatif yang lebih terkontrol.

 “Oleh karena itu kami mengambil inisiatif untuk jadi pending dulu sasinya tetapi kembangkan budidaya yang ada sehingga fungsi kontrol itu ada pada masing-masing pembudidaya untuk bisa mengawasi masing-masing tambag kurungan masing-masing punya itu. Dengan demikian hasil panen yang diharapkan bisa dapat,” pungkas Opi.

Berbeda dengan sasi yang bersifat umum dan rentan terhadap pencurian, metode kurungan tancap memungkinkan pembudidaya untuk mengelola dan mengawasi area budidaya mereka sendiri.

Metode tersebut juga mendukung panen yang lebih teratur dan cepat. “Nah disitulah ada prinsip-prinsip budidaya yang diterapkan didalam proses budidaya,” jelas Opi. 

Selain itu, ketika sasi dibuka, produksi teripang meningkat signifikan. “Nanti produksi melonjak tinggi saat buka sasi, nah saat buka sasi produksinya melambung disitu apalagi bersamaan, karena dengan sasi sekaligus habis itu produksi teripang naik,” papar Opi.

Membangun Masa Depan Budidaya Teripang Berkelanjutan

Untuk memajukan budidaya teripang di Kepulauan Aru, pemerintah daerah disarankan mengoptimalkan kearifan lokal seperti sasi yang berdurasi paling lama satu tahun, sambil mengintegrasikan inovasi seperti restocking dan budidaya intensif dengan metode kurungan tancap. 

Pemerintah daerah perlu memperkuat pengawasan untuk mencegah pencurian, meningkatkan akses pasar untuk harga yang lebih kompetitif, dan memberikan pelatihan teknologi modern kepada nelayan.

Dengan profesionalisme nelayan dan dukungan Dinas Perikanan, sektor ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Dengan demikian, Kepulauan Aru dapat membangun masa depan perikanan berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan laut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Lampaui Target 2025, Penumpang di PELNI Tembus 5,15 Juta Orang

Kepala Cabang Pelni Tual, Teguh Harisetiadi, menyampaikan bahwa realisasi...

Konflik di Ohoi Ngadi Berakhir, Wawali Tual: Tanpa Rasa Aman Pembangunan Tak Jalan

Tual, suaradamai.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tual bersama para...

Sah! Ini 3 Calon Direktur Polikant Periode 2025-2029

Kabalmay mengatakan, proses tahapan penyaringan ini sesuai dengan mekanisme...

Bupati Kaidel: Panen Raya 2026 Jadi Motivasi Petani Aru Dukung Program Nasional

Bupati Kaidel mengatakan, panen raya ini menjadi momentum untuk...