Tanam Cabe Serempak di Aru, Samangun: Kolaborasi Tekan Harga Kendalikan Inflasi

Konsumsi cabe di Aru tergolong rendah, hanya 0,014 kg per kapita per minggu atau sekitar 0,728 kg per tahun, jauh di bawah rata-rata daerah seperti Jawa yang mencapai 2,6 kg per minggu.


Dobo, suaradamai.com – Gerakan tanam cabe serempak se-Provinsi Maluku baru-baru ini digelar oleh Dinas Pertanian Provinsi Maluku, termasuk di Kabupaten Kepulauan Aru.

Kegiatan tahunan ini melibatkan pimpinan daerah se-Maluku untuk bersama-sama menekan harga komoditas cabe dan mengendalikan inflasi.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Aru, Reki Samangun, dalam wawancara di ruang kerjanya baru-baru ini menjelaskan, “Kita tau sendiri bahwa komoditas cabe ini adalah penyumbang inflasi tertinggi. Nah melalui gerakan tanam cabe ini melibatkan tani se-provinsi Maluku supaya bisa berkerjasama.”

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, melibatkan penyuluh, OPD terkait inflasi, petani, pihak bank untuk KUR, Badan Pusat Statistik, hingga Forkopimda.

“Kenapa mereka bisa hadir? Karena memang namanya gerakan,” ujarnya

Samangun memaparkan, menurut data yang juga dipaparkan Bupati Kepulauan Aru, produksi cabe di Kepulauan Aru tahun 2024 hanya mencapai 26,12 ton, setara dengan 1 hektar lahan.

Namun, kebutuhan konsumsi cabe di Aru diperkirakan 72,28 ton per tahun, sehingga terjadi kekurangan sekitar 46,68 ton.

“Nah ini jadi challenging, jadi tantangan buat kita, supaya kekurangan 46,68 ton ini harus kita kejar target baik itu. Kita nantinya mengintervensi dalam bentuk program salah satunya gerakan tanam ini,” ungkapnya.

Konsumsi cabe di Aru tergolong rendah, hanya 0,014 kg per kapita per minggu atau sekitar 0,728 kg per tahun, jauh di bawah rata-rata daerah seperti Jawa yang mencapai 2,6 kg per minggu.

Untuk menutupi kekurangan pasokan, Aru masih mengandalkan pasokan dari daerah lain seperti Sulawesi hingga Timika, yang menyebabkan harga cabe melonjak.

“Jadi beta pikir tantangan juga untuk Dinas Pertanian, yang penting kita bisa bagaimana target kekurangan dari minus 46,68 ton itu kita gencar supaya nilainya bisa turun, tapi kalo harganya turun sekali ke Rp.50.000 pasti petani tidak mau tanam cabe lagi karena gak ada untung disitu,” imbuh Samangun.

Gerakan tanam cabe ini difokuskan pada petani lokal dan kelompok tani binaan, seperti di Desa Durjela, yang mengelola lahan 3 hektar dengan 2 hektar sudah ditanami sekitar 9.000 anakan cabe, dan 4.000 di antaranya siap panen.

“Jadi kemarin itu bukan cuma kita tanam tapi kita panen juga,” jelasnya.

Jenis cabe yang ditanam adalah varietas hibrida, yang memiliki produksi lebih tinggi dibandingkan cabe lokal yang umum ditanam di kampung-kampung.

“Tapi kalau di kampung-kampung itu biasa cabe cenderung kecil-kecil, nah dia satu sisi produksinya itu tidak terlalu banyak. Namun keuntungannya adalah dia tidak rentan dan kuat terhadap penyakit,” tambahnya.

Namun, tantangan masih ada, mulai dari keterbatasan bibit cabe hibrida, ketersediaan kios, hingga keterampilan petani yang belum merata dalam menerapkan budidaya yang baik.

Faktor iklim juga turut memengaruhi produktivitas. “Saya pikir sebenarnya persoalan-persoalan ini persoalan yang umum ya, di petani mana juga pasti. Tinggal bagaimana petani-petani di Aru ini kita bisa beradaptasi terhadap kondisi,” ujar Samangun.

Sentra produksi cabe di Aru saat ini terfokus di Pulau Wamar, di mana banyak petani imigran memiliki keahlian turun-temurun. Namun, lahan di pulau ini berisiko dialihfungsikan di masa depan.

Untuk itu, Samangun menekankan pentingnya memaksimalkan potensi desa-desa lain seperti Marfenfen melalui program yang masif hingga ke tingkat kecamatan.

Ia juga mengusulkan pemanfaatan Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar 20% untuk mendukung pertanian.

“Makanya ini harus butuh kolaborasi,” tegasnya.

Dinas Pertanian kata Samangun sebagai leading sector, berkomitmen mendukung kesejahteraan petani melalui program seperti gerakan tanam cabe ini, sekaligus membuka akses keuangan seperti KUR untuk memajukan sektor hortikultura di Kepulauan Aru.

Dengan kolaborasi yang kuat, Samangun optimistis produksi cabe dapat ditingkatkan, harga lebih terkendali, dan kesejahteraan petani terus meningkat.


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Inovasi Yogurt Anggur Laut dan VCO Hasil PBL Bioteknologi Perikanan Polikant di Ngilngof

“Terutama untuk Desa Ngilngof sebagai tempat wisata. Ketika wisatawan...

Lampaui Target 2025, Penumpang di PELNI Tembus 5,15 Juta Orang

Kepala Cabang Pelni Tual, Teguh Harisetiadi, menyampaikan bahwa realisasi...

Konflik di Ohoi Ngadi Berakhir, Wawali Tual: Tanpa Rasa Aman Pembangunan Tak Jalan

Tual, suaradamai.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tual bersama para...

Sah! Ini 3 Calon Direktur Polikant Periode 2025-2029

Kabalmay mengatakan, proses tahapan penyaringan ini sesuai dengan mekanisme...