Di balik pesona Pulau Bair yang memikat wisatawan, tersimpan kekayaan bawah laut yang mulai membutuhkan perhatian serius. Melalui restorasi terumbu karang bersama turis mancanegara dalam Sail to Indonesia 2026, Kota Tual mengirim pesan bahwa masa depan pariwisata Kepulauan Kei tidak hanya ditentukan oleh keindahan yang terlihat di permukaan, tetapi juga oleh kehidupan yang tumbuh di dasar laut.
Langgur, Suaradamai.com – Keindahan gugusan Pulau Bair selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata bahari di Kepulauan Kei. Tebing karst, air laut yang jernih, dan panorama pulau-pulau kecil menjadikannya destinasi favorit wisatawan. Namun, di balik pesona yang tampak di permukaan, tersimpan pekerjaan besar yang kerap luput dari perhatian: menjaga ekosistem bawah laut agar tetap hidup dan mampu menopang masa depan pariwisata.
Kesadaran itulah yang mendorong Dinas Pariwisata Kota Tual bersama Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) menggelar kegiatan restorasi terumbu karang di kawasan Pulau Bair pada 18 Juli 2026. Kegiatan yang melibatkan Tim Polikant Diving Center tersebut menjadi bagian dari rangkaian Sail to Indonesia 2026, sebuah reli kapal layar internasional yang menempatkan Kota Tual sebagai pelabuhan tujuan kapal pesiar (yacht) asing sekaligus Entry Point (titik masuk) dan Official Host Destination di kawasan Kepulauan Kei.
Berbeda dari kegiatan seremonial semata, restorasi ini menghadirkan partisipasi langsung wisatawan mancanegara. Sejumlah turis dari berbagai negara ikut menyelam dan melakukan transplantasi anakan terumbu karang bersama para penyelam Polikant. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya ingin menikmati keindahan alam, tetapi juga terlibat dalam upaya pelestariannya.
Penanaman anakan terumbu karang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 17.00 WIT. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan.
“Dari sekian banyak turis ada beberapa turis dari Amerika dan Australia ikut terlibat dalam transplantasi karang”, ungkap Jusron Rahayaan, Pimpinan Diving Center Polikant kepada media ini di Laboratorium Austik dan Navigasi (22/07/2026).
Keterlibatan wisatawan asing dalam kegiatan konservasi menjadi pesan penting bahwa ekowisata tidak lagi sekadar menjual destinasi, melainkan juga mengajak setiap pengunjung menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan. Konsep ini semakin banyak diterapkan di berbagai destinasi wisata bahari dunia karena dinilai mampu meningkatkan kepedulian terhadap ekosistem laut sekaligus memperkuat citra destinasi yang berkelanjutan.
Meski waktu persiapan kegiatan relatif singkat, Rahayaan tetap optimistis tingkat keberhasilan transplantasi karang akan tinggi. Optimisme tersebut didasarkan pada penggunaan anakan karang yang berasal dari kawasan sekitar lokasi restorasi sehingga memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik terhadap kondisi lingkungan setempat.
“Walaupun dalam beberapa kasus, waktu yang pendek dan perlakuan yang singkat, kadang-kadang agak berat terhadap meningkatkan persentase potensi kehidupan anakan karang. Tetapi karena anakan karang kita ambil dari daerah sekitar itu sehingga adaptasi dan aklimatisasi anakan karang itu kita harap lebih cepat dan adaptif”, terangnya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan pariwisata bahari tidak dapat diukur hanya dari keindahan pantai yang terlihat di permukaan. Kekayaan bawah laut justru merupakan daya tarik utama yang menentukan kepuasan wisatawan, khususnya penyelam dan pencinta wisata bahari.
Karena itu, restorasi terumbu karang dipandang sebagai investasi jangka panjang. Terumbu karang yang sehat tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan biota laut, tetapi juga menjadi fondasi bagi keberlanjutan sektor pariwisata yang mengandalkan keindahan alam sebagai daya tarik utama.
“Membangun pariwisata bahari di keulauan kei harus bernuansa lingkungan. Kita tidak bisa hanya menjual keindahan yang tampak mata, tapi yang tidak tampak mata seperti bawah air itu justru kita abaikan. Padahal sudah jauh dari kata indah, mungkin sudah rusak. Jadi tanggung jawab kita bersama adalah menjaga, memelihara dan merekonstruksi kembali untuk menjadi baik kedepan”, ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelestarian lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat utama bagi pengembangan destinasi wisata bahari. Tanpa ekosistem yang sehat, citra Kepulauan Kei sebagai surga bawah laut akan sulit dipertahankan di tengah semakin ketatnya persaingan destinasi wisata bahari di Indonesia maupun kawasan Asia-Pasifik.
Rahayaan meyakini masa depan pariwisata Kota Tual akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga ekosistem pesisir, pulau-pulau kecil, dan kawasan bawah laut secara berkelanjutan.
“Sebenarnya kalau kita lihat dari antusiasme para turis, dampaknya akan muncul ke pariwisata Kota Tual yang sesungguhnya kedepan akan lebih baik apabila ekosistem bahari itu, baik di pesisir pantai, di pesisir pulau kecil itu kita jaga. Karena kalau turis datang kemudian yang mereka harapkan tidak tampak; karena kita beranggapan kita adalah surga yang tersembunyi, terus kemudian bayangan surga itu sendiri tidak tampak, mereka tidak akan datang lagi,” tandasnya.
Restorasi terumbu karang di Pulau Bair menjadi lebih dari sekadar kegiatan penanaman anakan karang. Kegiatan ini merupakan ikhtiar membangun fondasi pariwisata bahari yang berkelanjutan, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga kekayaan bawah laut agar tetap lestari bagi generasi mendatang. Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap pariwisata berbasis konservasi, langkah yang dilakukan Kota Tual bersama Polikant menunjukkan bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan ekonomi dan identitas Kepulauan Kei.
