Puluhan anak asli Papua dari Teluk Bintuni resmi diberangkatkan menempuh pendidikan lewat program afirmasi, dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah.
Bintuni, suaradamai.com – Sebanyak 26 pelajar Orang Asli Papua (OAP) asal Kabupaten Teluk Bintuni diberangkatkan mengikuti program afirmasi pendidikan.
Jumlah tersebut terdiri dari 18 peserta jenjang perguruan tinggi dan 8 peserta jenjang menengah atas.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Teluk Bintuni Henry Kapuangan, usai Rapat Paripurna Pembahasan dan Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025, di Bintuni, Kamis (23/7/2026).
Henry menjelaskan, melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK), pihaknya memberangkatkan 18 mahasiswa OAP untuk menempuh studi sarjana (S1) di berbagai perguruan tinggi. Seluruh peserta merupakan OAP tanpa campuran suku lain.
“Kita pastikan semua afirmasi ini orang asli Papua, tidak ada campuran,” kata Henry.
Dikbudpora Teluk Bintuni, kata Henry, menanggung biaya transportasi dari Bintuni ke tempat studi. Sementara biaya perkuliahan dan biaya hidup seluruhnya ditanggung pemerintah pusat.
Jurusan yang diambil mahasiswa bervariasi, di antaranya pendidikan, ekonomi, dan teknik sipil.
Sementara untuk program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM), Dikbudpora Teluk Bintuni memberangkatkan 8 pelajar setingkat SMA/SMK dari kalangan OAP dan tujuh suku Teluk Bintuni.
Sama dengan program ADiK, Pemkab Teluk Bintuni hanya menanggung biaya transportasi. Sementara biaya sekolah dan biaya hidup ditanggung pemerintah pusat.
Henry menyampaikan pihaknya belum menerima petunjuk teknis (juknis) terkait penempatan kerja peserta afirmasi pendidikan tinggi usai lulus, karena program tersebut sepenuhnya dikelola oleh kementerian.
Ia berharap para peserta afirmasi pendidikan tinggi memanfaatkan kesempatan studi dengan baik agar siap bekerja saat kembali ke Teluk Bintuni.
“Kita berharap bahwa selama menempuh studi ini dipergunakan kesempatan dengan baik, belajar dengan baik, supaya ketika kembali ke Bintuni itu tenaga siap pakai,” ujar Henry.
Editor: Labes Remetwa
