“Yelim”, Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kei

Oleh: RD. A. Y. Hans Rettob, Msc

Secara etimologis kata “Yelim” berasal dari dua kata yakni Ye dan Lim. Ye artinya kaki, sedangkan Lim berarti tangan. Jadi Yelim berarti kaki yang melangkah dengan menghantar seluruh diri manusia dan tangan yang membawa/menyerahkan sumbangan kepada orang yang menghadapi kesulitan.

Yelim merupakan sebuah kearifan tradisional/lokal masyarakat adat Kei yang telah ada sejak dahulu kala yang dibuat oleh para leluhur.

Istilah yelim terjalin dalam relasi kekerabatan; Ain Ni Ain (hubungan persaudaraan antar sesama), Ain Lik Batang Ain (saling menjaga satu dengan yang lain), Ain Liik Tukun Ain (saling menuntun satu dengan yang lain), Naa Lidar Leer Hamar (kerja siang dan malam), sus senang (susah senang) Ur War (bersaudara), Yaa war (adik dan kaka) Ub faam (secara harafiah berarti buyung atau tempayan yang biasanya untuk mengisi air), Yam (bapa), Riin rahan (secara teknis menunjuk pada pembagian, walau dalam satu rumah lebih pada tempat tidur dan seterusnya), Rahan dek kafoar (hubungan antara marga yang satu dengan marga yang lain), Beb Laar (aliran darah), inilah sistem kekerabatan masyarakat adat kei mengenai yelim.

Nilai yang mendasari relasi kekerabatan tadi diungkapkan oleh tua-tua (ub nus) dalam bertutur dengan menjelaskan hubungan atau relasi kekerabatan yang terjadi melalui yelim tersebut. Ungkapan UMAT I MINAN NE HARTA I BULIR, yang berarti manusia lebih berharga daripada harta.

Bagi masyarakat adat Kei, harta itu tidak kalah penting melainkan kehadiran personal dimana keluarga satu dengan yang lainnya bertemu saling memberi dan menerima apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan, juga melalui perayaan saling memberikan dukungan dan semangat persaudaraan/ AIN NI AIN yang masih sangatlah kuat.

Ikatan kekerabatan dijalin kembali pada saat orang membawa yelim, maka yelim diterima juga sebagai alat dimana orang bertemu duduk bersama untuk saling mengenal dan menuturkan searah baik garis dari keturunan leluhur (ub nus), garis keturunan patrinial (turunan bapa) maupun dari garis keturunan matrinial (turunan ibu). Dengan ini maka maka kekerabatan yang sudah mulai hilang atau pudar dibangun kembali.

Ada pepatah Adat Kei yang bunyinya “nit en uk ne mav en ahang” artinya bahwa dengan adanya yelim maka hubungan itu dihangatkan atau dihidupkan kembali semangat supaya erat terjalin.

“Yelim” sebagai kearifan lokal mengajarkan masyarakat adat Kei untuk peduli dan prihatin dengan orang lain yang mengalami kesulitan. Yelim dapat menyatukan dua bel pihak yang disebut sebagi pemberi dan penerima terjadi secara timbal balik. Sehingga yelim sangatlah penting untuk dipahami oleh masyarakat adat Kei, bahwa nilai yang diangkat dalam yelim itu saling berbagi.

Dalam kehidupan masayarakat Kei sekarang ini, anak-anak muda kurang berminat dalam urusan adat, maka diharapkan orang tua memberikan pemahaman tentang arti sebenarnya yelim. Untuk itu, orang tua perlu melibatkan anak-anak muda untuk mengambil bagian dalam memberi sumbangan kepada pihak yang membutuhkan yang diikutsertakan dalam yelim.

Dalam konteks yelim, menurut masyarakat adat Kei sangatlah menggambarkan kehidupan umat Kristiani yang diajarkan untuk saling memberi. Itulah yang sangat Kristiani sebab memberi adalah ajaran utama.

Pada saat Perayaan Ekaristi terjadi peristiwa pemecahan roti, dimana umat menerima komunio (berbagi). Yesus berkata “lakukanlah ini untuk mengenankan Daku” sebab dirinya umat manusia sebagai kenangan akan perstiwa yang telah terjadi.

Jadi peristiwa berbagi dalam arti orang kei “Yelim itu sangatlah sejalan dengan ajaran umat kristiani”. Dengan mengikuti perayaan Ekaristi nilai hidup yang perlu diyakini; memberi dan berbagi. Jika orang belajar berbagi, belajar untuk memberi maka mereka hidup dalam kelimpahan. Orang yang mengalami peristiwa gembira pada saat dikunjungi oleh sanak saudara dengan membawa yelim, maka orang tersebut merasa pengalaman hidupnya sangat diteguhkan.

Selain peristiwa yang terjadi saat perayaan ekaristi, umat Kristiani mengenal akan mujizat yang dibuat oleh Yesus dengan memberi makan lima ribu orang. Saat itulah terjadi berkat yang melimpah dengan berkelimpahan makanan, apa sebenarnya yang dicari oleh manusia itulah “berkat”. Artinya bahwa orang yang terbuka dan menerima orang lain akan mendapatkan berkat yang melimpah atas hidupnya.

“Yelim” sebagai kearifan masyarakat adat Kei memberi nlai kehidupan dewasa ini. Bahwa nilai persaudaraan, saling memberi dan berbagi yang perlu dipertahankan. Berkaitan dengan ini, bahwa umat Kristiani diajarkan untuk saling berbagi dengan kelebihan yang dimiliki. Dengan saling berbagi masyarakat adat Kei dalam hal ini umat Kristiani selalu mendapatkan “berkat” atas apa yang telah diperbuat bagi orang lain.

*** Refleksi Kutipan Kitab Suci “apa yang kau tabur, akan kau tuai dengan sorak sorai”.

Bagikan:

Populer

Artikel terkait

Mengapa Program 10 Juta Pohon Kelapa Layak Diperhitungkan untuk Masa Depan Aru?

‎Lewat program 10 juta pohon kelapa, Kepulauan Aru sedang...

Perdana, Distrik Merdey Tertibkan Pedagang yang Gunakan Rumah Dinas sebagai Tempat Usaha

Kesepakatan sewa lahan dan bangunan dicapai dalam rapat lintas...

PWI Teluk Bintuni Ikuti Lomba Gaple HUT ke-23, Siapkan Porwanas 2027

Hampir 600 peserta bertanding di Halaman Coffolice, Bupati buka...

25 Suku Meriahkan Parade Budaya HUT ke-23 Teluk Bintuni

Ratusan Peserta Tampilkan Kekayaan Adat di Rute Klasis hingga...