Sebuah rosario hilang dan tiga kali ditemukan kembali di tempat yang sama. Di sanalah Goa Maria Imakulata Kolser kemudian dibangun. Patung pertamanya didatangkan dari Belanda, tetapi sejarah kemudian menyisakan kisah memilukan: akibat goncangan bom Jepang, patung itu rusak dan hanya bagian leher hingga kepala yang tersisa. Bagaimana semuanya bermula?
SUARADAMAI.COM – Sebuah rosario hilang dalam perjalanan menuju kebun. Pemiliknya mencari dan menemukannya kembali di suatu tempat di Kolser. Mungkin itu hanya kejadian biasa.
Namun rosario itu kembali hilang. Anehnya, ditemukan lagi di tempat yang sama.
Ketika kejadian serupa terulang hingga tiga kali, masyarakat mulai bertanya: apakah ini sekadar kebetulan?
Peristiwa sederhana yang hidup dalam tutur umat Kolser itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan lahirnya sebuah tempat ziarah yang telah bertahan selama satu abad: Goa Maria Imakulata Kolser di Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.
Kisah berdirinya Goa Maria ini dihimpun dari berbagai sumber dan tutur umat Kolser, mulai dari prasasti yang masih berada di lokasi goa, catatan sejarah dan dokumen MSC, hingga Almanak Bunda Maria Hati Kudus tahun 1929.
Jejak-jejak tersebut membawa kita kembali ke penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika iman Katolik dan devosi kepada Bunda Maria sedang bertumbuh di Kepulauan Kei.
Dua Desa, Satu Pilihan
Pada masa itu, Pastor Henricus Nollen, MSC, salah seorang misionaris yang berkarya di Kepulauan Kei, melihat kuatnya devosi umat kepada Bunda Maria. Muncullah gagasan untuk menghadirkan sebuah tempat khusus bagi umat untuk berdoa dan berziarah.
Tetapi ada satu persoalan penting: di mana goa itu harus dibangun?
Dua tempat menjadi pilihan, yakni Kolser dan Sathean.
Untuk menentukan lokasi, Pastor Nollen bersama umat tidak serta-merta mengambil keputusan. Umat diajak menjalani novena selama sembilan hari, memohon agar Tuhan menunjukkan tempat yang tepat.
Justru dalam masa doa itulah sebuah peristiwa yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dalam tutur masyarakat Kolser terjadi.
Rosario Nen Dit Warat
Seorang perempuan Kolser bernama Nen Dit Warat memiliki kebiasaan membawa rosario ketika pergi ke kebun.
Pada suatu hari, rosario yang dibawanya hilang.
Setelah dicari, rosario itu akhirnya ditemukan di suatu tempat. Namun kemudian kejadian serupa terulang: rosario kembali hilang dan kembali ditemukan di lokasi yang sama.
Menurut kisah yang diwariskan umat Kolser, peristiwa tersebut terjadi hingga tiga kali.
Bagi masyarakat saat itu, kejadian yang berulang di tengah berlangsungnya novena tersebut sulit dipandang sebagai peristiwa biasa.
Kejadian itu kemudian disampaikan kepada Kepala Desa Kolser saat itu, Bakrar Maturbongs. Informasi tersebut selanjutnya diteruskan kepada Pastor Nollen.
Peristiwa itu kemudian dimaknai sebagai jawaban atas doa yang sedang dipanjatkan umat: sebuah petunjuk mengenai tempat yang akan dipilih untuk pembangunan Goa Maria.
Keputusan pun diambil.
Goa Maria dibangun di Kolser, tepat di lokasi yang dalam tutur umat disebut sebagai tempat rosario Nen Dit Warat berulang kali ditemukan.
Puluhan tahun kemudian, tempat itu terus didatangi umat. Sebuah peristiwa sederhana dalam perjalanan seorang perempuan menuju kebun telah menjadi bagian dari ingatan iman sebuah kampung.
8 Desember 1926
Kisah lisan masyarakat Kolser kemudian bertemu dengan jejak sejarah yang masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Prasasti yang terdapat di Goa Maria Imakulata Kolser mencatat sebuah tanggal penting: 8 Desember 1926.
Pada tanggal tersebut, Goa Maria diberkati oleh Pastor Henricus Nollen, MSC.
Tanggal 8 Desember memiliki makna istimewa dalam tradisi Gereja Katolik karena bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda atau Imakulata.
Catatan lain muncul dalam Almanak Bunda Maria Hati Kudus, tahun ke-39, edisi 1 Januari 1929. Dalam tulisan berjudul “Pemuji Maria di Kei” karya Jos. V. D. Kolk, MSC, disebutkan bahwa Mgr. Yohanes Aerts juga memberkati patung dan goa tersebut secara khidmat di tengah kehadiran banyak umat.
Catatan hampir seabad silam itu juga mengungkap fakta menarik lainnya: patung pertama yang menghiasi Goa Maria Kolser ternyata datang dari tempat yang sangat jauh.

Hadiah dari Belanda untuk Umat Kei
Patung pertama yang menghiasi Goa Maria Kolser bukan dibuat di Kepulauan Kei.
Sebuah keluarga baik hati dari Belanda memungkinkan terwujudnya niat umat Kei dengan menyumbangkan sebuah patung besar Bunda Maria dari Lourdes beserta patung kecil Santa Bernadette.
Kisah itu terekam dalam tulisan Jos. V. D. Kolk, MSC, yang dimuat dalam Almanak Bunda Maria Hati Kudus tahun 1929.

Almanak tersebut menggambarkan bagaimana batu karang Kei menjadi bahan yang sangat cocok untuk membangun sebuah goa dan berpadu serasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Catatan itu bahkan merekam kebiasaan masyarakat pada masa tersebut.
Goa berada di sepanjang jalan umum yang ramai melintasi Kei Kecil. Orang-orang yang melewatinya disebut tidak lupa memberikan penghormatan singkat kepada Maria. Umat Kolser pun mengenang dalam doa para dermawan dari Belanda yang telah menghadiahkan patung tersebut dan, melalui pemberian itu, turut menguatkan devosi mereka kepada Bunda Maria.
Patung itu kemudian menjadi bagian dari Goa Maria Kolser.
Namun sejarah ternyata tidak membiarkannya tetap utuh.
Patung Itu Rusak, Hanya Leher hingga Kepala yang Tersisa

Perjalanan patung pertama Bunda Maria di Goa Maria Kolser kemudian memasuki salah satu bagian paling dramatis dalam sejarah yang diwariskan umat.
Patung yang datang jauh-jauh dari Belanda itu mengalami kerusakan akibat goncangan bom Jepang.
Tubuh patung tidak lagi utuh.
Dari patung pertama yang pernah berdiri di Goa Maria Kolser itu, yang tersisa hanyalah bagian leher hingga kepala.
Karena itu, patung Bunda Maria yang kini dapat dilihat umat dan peziarah di Goa Maria Imakulata Kolser bukan lagi patung pertama yang didatangkan dari Belanda, melainkan replika.
Kisah ini memberikan makna historis tersendiri pada bagian patung asli yang masih tersisa. Ia bukan sekadar pecahan sebuah benda lama, tetapi jejak perjalanan Goa Maria Kolser melewati perubahan zaman dan pergolakan sejarah.
Patung yang dahulu dikirim sebuah keluarga dari Belanda memang tidak lagi berdiri utuh seperti ketika pertama kali tiba di Kei.
Namun devosi yang menyertainya tidak ikut hilang.
Umat kemudian menghadirkan replika, dan penghormatan kepada Bunda Maria di tempat itu terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya, sejarah Goa Maria Kolser sesungguhnya bahkan tidak dimulai ketika patung itu datang, ataupun ketika goa diberkati pada 1926.
Untuk menemukan akar yang lebih dalam, perjalanan harus ditarik mundur sekitar 35 tahun sebelumnya.
1891: Benih Katolik Mulai Tumbuh
Dokumen MSC mencatat bahwa orang Kolser pertama yang dibaptis menjadi Katolik adalah Ignatius Bak Maturbongs, pada 23 Agustus 1891.
Ketika itu ia tinggal di Langgur bersama kedua orang tuanya, Martinus Lakes Maturbongs dan Martina Kahaiwul Savsav.
Ignatius dibaptis bersama beberapa orang Kei Langgur lainnya, yakni Josep Morsin Maturbongs, Helena dan Kahaiwul Savsavubun.
Setahun kemudian, tepatnya 16 Juni 1892 di Langgur, kedua orang tua Ignatius turut menerima pembaptisan. Bersama mereka dibaptis pula Damianus Lad Maturbongs.
Damianus kemudian memiliki perjalanan tersendiri dalam sejarah pewartaan iman Katolik. Ia menjadi katekis unggul yang diutus membuka sekolah dan mengajarkan iman di Hollat, Kei Besar.
Bersama Venantius Sir Maturbongs, ia juga turut membuka misi Katolik pertama di Tanimbar bersama Pastor Klerk dan Pastor Capper.
Benih kecil yang tumbuh itu semakin berkembang.
Pada 3 Juni 1894, berlangsung pesta besar untuk pembaptisan enam anak muda Kolser sekaligus di Langgur. Mereka adalah Rustikus Baad Reyaan, Leonardus Kerbau Maturbongs, Canisius Sardik Maturbongs, Melkior Santiong Maturbongs, Cassianus Sam Maturbongs, dan Venantius Sier Maturbongs.
Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ketika Goa Maria didirikan pada 1926, iman Katolik di kalangan masyarakat Kolser sesungguhnya telah berakar selama lebih dari tiga dekade.
Dari benih iman itulah devosi kepada Bunda Maria kemudian bertumbuh subur.
Dari Sebuah Rosario Menjadi Warisan Iman
Jika seluruh potongan sejarah itu disatukan, Goa Maria Imakulata Kolser bukan hanya sebuah bangunan keagamaan.
Di dalam sejarahnya tersimpan perjalanan panjang sebuah komunitas.
Ada generasi pertama orang Kolser yang menerima baptisan pada penghujung abad ke-19. Ada para katekis yang meninggalkan kampung untuk membantu penyebaran iman ke wilayah lain. Ada umat yang menjalani novena. Ada seorang perempuan bernama Nen Dit Warat dengan rosarionya. Ada kepala desa yang membawa kisah tersebut kepada seorang misionaris. Ada Pastor Nollen yang kemudian memilih Kolser.
Ada pula sebuah keluarga di Belanda yang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa hadiah mereka akan menempuh perjalanan begitu jauh dan menjadi bagian dari sejarah umat Katolik di sebuah kampung di Kepulauan Kei.
Patung yang mereka berikan akhirnya rusak akibat goncangan bom Jepang. Tubuhnya tak lagi utuh. Hanya bagian leher hingga kepala yang tersisa.
Tetapi sejarah Goa Maria Kolser tidak berhenti bersama rusaknya patung itu.
Patung dapat digantikan dengan replika.
Warisan iman tidak.
Generasi telah berganti. Para tokoh dalam kisah awalnya telah lama tiada. Patung yang kini berada di dalam goa bukan lagi patung pertama. Namun tempat yang mereka wariskan masih menjadi ruang doa dan ziarah.
Karena itu, sejarah Goa Maria Imakulata Kolser bukan semata-mata kisah tentang di mana sebuah goa dibangun.
Ia adalah kisah tentang bagaimana iman diwariskan—dari orang tua kepada anak, dari katekis kepada umat, dari misionaris kepada masyarakat, dan dari satu generasi Kolser kepada generasi berikutnya.
Dan di tengah perjalanan panjang itu, masyarakat masih mengingat sebuah kisah sederhana:
sebuah rosario pernah hilang, ditemukan, lalu kembali ke tempat yang sama hingga tiga kali.
Di tempat itulah Goa Maria Imakulata Kolser kemudian berdiri.
Editor: Robert Remetwa
Sumber: Naskah ini dihimpun dari berbagai sumber sejarah dan tutur umat Kolser, antara lain prasasti Goa Maria Imakulata Kolser; Almanak Bunda Maria Hati Kudus, tahun ke-39, 1929, termasuk tulisan “Pemuji Maria di Kei” karya Jos. V. D. Kolk, MSC; dokumen MSC mengenai pembaptisan awal umat Katolik Kolser tahun 1891–1894; serta kisah yang diwariskan dalam tutur umat Kolser.







