Pelaku yang sama diduga telah melakukan kejahatan serupa sebanyak dua kali terhadap dua anak perempuan yang berbeda. Pertama pada 2018. Kedua, tahun ini.
Bintuni, suaradamai.com – Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat, Theres F. Ateta, menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap anak di Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni, yang kembali terjadi dan kali ini berujung pada kematian korban.
Theres mengungkapkan, peristiwa tersebut bukan kali pertama terjadi. Ia menyebut, kasus serupa pernah terjadi pada 2018 dengan pelaku yang sama, namun saat itu korban berhasil selamat.
“Ini kan kasus kedua yang dia (pelaku) sudah pernah lakukan. Yang pertama, untung bahwa korbannya tidak meninggal, anak kecil juga, umur enam tahun. Yang baru ini, dia umur lima tahun lebih,” ungkap Theres, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, setelah kejadian pertama, sempat ada kesepakatan agar pelaku tidak lagi tinggal di wilayah Sumuri.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan pelaku masih berada di lingkungan yang sama hingga akhirnya terjadi kembali peristiwa tragis.
“Kalau mau dilihat, ini ada pembiaran dari keluarga. Mereka biarkan dia berkeliaran begitu. Akhirnya terulang lagi kembali,” kata Theres.
Theres juga menanggapi isu yang berkembang di masyarakat terkait dugaan gangguan kejiwaan pelaku. Ia menilai hal tersebut tidak bisa serta-merta dijadikan kesimpulan tanpa pembuktian yang jelas.
“Jadi saya pikir dia (pelaku) tidak gila, karena dia merencanakan sesuatu. Orang gila mana mungkin merencanakan sesuatu sampai tipu masuk ke dalam rumah, disekap di dalam,” jelas Theres.
Wakil Ketua Pokja Perempuan MRP Papua Barat itu menegaskan bahwa kasus ini merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan harus ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.
“Penanganannya harus sesuai aturan yang berlaku, dilakukan secara transparan, dan tidak boleh berlarut-larut,” ujarnya.
Theres menambahkan, kasus ini telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya para orang tua di Distrik Sumuri.
Ia juga mengungkapkan adanya aspirasi dari masyarakat agar pemerintah dan pihak terkait meningkatkan perlindungan terhadap anak, termasuk pengamanan di lingkungan sekolah.
“Kita tidak tahu bahaya itu mengintai kita kapan saja. Setelah berbincang dengan keluarga, mereka minta adanya Satpam di sekolah. Supaya kalau anak-anak pulang sekolah, bisa dijaga sampai orangtuanya datang [menjemput],” kata Theres.
Selain itu, Theres mengimbau masyarakat untuk lebih aktif dalam menjaga lingkungan dan tidak bersikap pasif terhadap potensi kekerasan.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni
