Hasil Analisis: Bisnis Bioplastik Rumput Laut Menguntungkan

Tim matching fund Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) menghadirkan pilihan baru bagi pengembangan produk rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).


Langgur, suaradamai.com – Tim matching fund Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) menghadirkan pilihan baru bagi pengembangan produk rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Sesuai informasi yang diterima Suaradamai.com, pengembangan produk rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara, selama ini masih sebatas produk bahan mentah dan kuliner berbahan dasar rumput laut (seperti sirup, puding, crispy, kue, stick).

Kini, Polikant menghadirkan pilihan baru di Kampung Budidaya Rumput Laut Maluku Tenggara, yaitu bioplastik ramah lingkungan.

Produk ini, sesuai hasil pengujian yang dilakukan oleh Dr. Cenny Putnarubun, S.Pd, M.Si, lebih unggul dari plastik di pasaran. Bioplastik rumput laut bisa terurai dalam waktu singkat, cara pembuatannya mudah dan murah, aman untuk membungkus makanan, bahkan bisa langsung dikonsumsi.

Polikant kemudian memperkenalkan produk ini kepada masyarakat melalui program matching fund 2022 yang digagas oleh Dirjen Vokasi Kemendikbud Ristek RI.

Tim matching fund yang diketuai Dr. Cenny melakukan penyuluhan dan pelatihan kepada mahasiswa dan masyarakat di tiga ohoi/desa di Maluku Tenggara, yaitu Ohoidertawun, Ohoililir, dan Ngilngof.

Di setiap ohoi, tim memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang cara budidaya rumput yang baik dan benar untuk menghasilkan rumput laut berkualitas (mulai dari persiapan bahan budidaya hingga penanganan pasca panen rumput laut), melatih peserta membuat bioplastik (berupa kantong dan gelas kemasan), melakukan uji validitas bioplastik, hingga menghitung bisnis bioplastik tersebut.

Bersama dengan peserta kegiatan, tim melakukan uji validitas produk bioplastik gelas kemasan. Anggota tim, Dr. Celcius Waran, M.Si, menjelaskan, uji validitas ini untuk mengukur valid tidaknya produk tersebut untuk dikembangkan dan diproduksi guna kepentingan umum.

Berdasarkan hasil uji validitas, ternyata ada beberapa indikator yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, antara lain tekstur, warna, dan biodegredable.

Untuk diketahui, uji validitas yang dilakukan yaitu pada prototype yang diproduksi secara sangat sederhana dengan menggunakan alat apa adanya.

Meski demikian, Dr. Simon Picaulima, S.Pi, M.Si yang juga anggota tim matching fund, menegaskan bahwa dengan produk yang ada saja, setelah dilakukan analisis biaya, bisnis bioplastik rumput laut masih menguntungkan. Analisis biaya ini juga dilakukan oleh tim bersama mahasiswa dan masyarakat.

“Mengetahui kegiatan produksi kresek dan gelas kemasan, mengetahui investasi modal kerja, harga jual. Setelah mendapat informasi itu, katong melakukan analisis ekonomi, analisis biaya: menghitung total cost, penerimaan, pendapatan usaha, menghitung efisiensi, efektivitas, dan produktivitas,” kata Dr. Simon menjelaskan kegiatan yang dilakukan bersama peserta.

Kesimpulannya, ia menambahkan, secara ekonomi bisnis bioplastik rumput laut ramah lingkungan ini menguntungkan.

Editor: Labes Remetwa


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU