Heroisme Pemuda Ngilngof dan Dua Pastor vs Tentara Dai Nippon Dalam Kenangan Perang

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kisah ini serangkai dengan peristiwa penembakan Mgr. Yohanes Aerts dan kawan-kawan di Langgur, 31 Juli 1942. Setiap tahun, umat Katolik di Ngilngof memperingati peristiwa dramatik dan heroik itu.


Langgur, suaradamai.com – Hari Kamis, 30 Juli 1942, dikenang umat Katolik di Kepulauan Kei, Maluku sebagai hari paling tragis. Saat itu, Uskup Mgr. Johannes Aerts MSC, 12 pastor dan bruder MSC, serta 10 biarawati, dibunuh secara kejam oleh tentara Dai Nippon di Pantai Langgur.

Kabar duka itu terdengar sampai di Ngilngof, yang berjarak sekitar 10 km dari tempat kejadian. Yosep Ohoitimur dan Damasus Tethool adalah dua pemuda yang membawa berita tersebut kepada Orangkai Ngilngof Joachim Tethool. Suasana kampung langsung berubah mencekam.

Meskipun sedih, para pemuda tidak larut dan hilang akal. Para Mebut Wadel Ngilngof langsung berdiskusi tentang dua pastor luput dari tragedi berdarah di Pantai Langgur. Mereka adalah Pastor Charles C. Bedaux MSC dan Pastor Antonius van Lith MSC.

Orangkai Ngilngof Joachim Tethool kemudian mengumpulkan seluruh pemuda. Setelah berembuk, para pemuda sepakat melindungi kedua misionaris. Mereka lalu mengunjungi Pastor Bedaux di Namar.

Dalam pertemuan dengan Pastor Bedaux, para pemuda berdiskusi tentang peristiwa di Langgur. Mereka kemudian kembali ke Ngilngof.

Tak lama, para pemuda mengutus Sebastianus Fofid dan Daminaus Ohoitimur kembali lagi ke Namar, menjemput Pastor Bedaux untuk dilindungi di Ngilngof.

Penjemputan Pastor Bedaux dirahasiakan dari penduduk ohoi. Pemuda lainnya menyusul ke arah Namar dan bertemu rombongan Pastor Bedaux di tengah jalan, tepatnya di Pantai Yeanroa.

Mereka sepakat sembunyikan Pastor Bedaux di satu tempat di belakang kampung. Namanya Elwew. Di sana, mereka mendirikan pondok di bawah rimbun tumbuhan semak Warnamar (Lantara camara). Amatus Fofid dan Egidius Tethool ditugaskan melayani pastor.

Para pemuda pun mengutus Damasus Tethool ke Ohoidertutu menemui Pastor Paroki Rumat Antonius van Lith MSC. Misinya membawa kabar tragedi Langgur, dan mengajak Pastor van Lith mengungsi ke Tanimbar Kei.

Tujuan ke Tanimbar Kei adalah menunggu kedatangan Pastor Bedaux. Jika sudah bersama-sama, akan dicari jalan berlayar ke Australia. Saat itu, sudah ada kontak dengan tokoh Tanimbar Kei Yosep Sitsit Manteanubun.

Sementara itu, Pastor Bedaux dipindahkan dari Elwew ke Seran Doknain,  dan pindah lagi ke Pantai Yeanroa. Dari sana, para pemuda mengatur perjalanan ke Tanimbar Kei.

Pemuda Edmundus Ohoitimur dan Yosep Maturbongs kemudian meminjam habo kalulis dari Ohoililir. Kalulis bergerak dari Yeanroa menyusuri pantai sampai ke Somlain.

Sebelum fajar menyingsing, rombongan meninggalkan Somlain menuju Tanimbar Kei. Di atas kalulis itu, Pastor Bedaux berlayar bersama Damasus Tethool, Amatus Fofid, Yosep Ohoitimur, Egidius Tethool, Everardus Resubun, Kaspar Resubun, dan Anakletus Sirwutubun.

Hari Sabtu, 15 Agustus 1942 pagi, matahari sudah terbit. Kalulis sudah jauh dari Somlain. Di tengah lautan luas, di bawah langit biru cerah, berkumandanglah doa dari mulut misionaris dan para pemuda. Doa “Salam Maria” dan lagu “Sebegitu Bulan Terang”, mengiringi perjalanan itu.

Sampailah rombongan ke Tanimbar Kei. Dua pastor pun berjumpa. Mereka tinggal di Tanimbar Kei sambil menunggu kepastian mengungsi ke Australia. Akan tetapi, keadaan tidak memungkinkan. Penjagaan angkatan laut Jepang semakin ketat.

Sekitar tiga minggu di Tanimbar Kei, kedua pastor memutuskan kembali lagi ke Ngilngof. Rombongan mendarat di Pulau Ohoiew depan Ngilngof, Senin, 7 September 1942. Tetapi karena tempat persembunyian itu sudah tidak aman, para pemuda memutuskan tinggalkan Ohoiew.

Segala upaya dilakukan untuk bersembunyi. Rombongan kedua pastor berpindah ke Taur. Suasana makin tegang sebab saat itu, mata-mata tentara Jepang tidak tinggal diam. Mereka terus cari tahu, dan berhasil mendapat informasi tentang pergerakan pemuda Ngilngof.

Tentara Dai Nippon Jepang kemudian meningkatkan upaya pencarian. Mulai hari Sabtu, 12 September 1942, penjagaan diperketat. Orangkai Joachim Tethool dan Soa Leo Fofid ditangkap dan diinterogasi, kemudian dibawa ke Tual. Penduduk Ngilngof juga diinterogasi.

Pada hari Minggu, 13 September 1942, tentara Dai Nippon mengurung kampung Ngilngof dari empat penjuru. Sementara itu, rombongan pastor berpindah dari Taur ke Miun Aran.

Esoknya, 30 orang Tentara Dai Nippon datang ke Ngilngof mengendarai sepeda, bersenjata lengkap, dan membawa minyak tanah. Mereka berniat bikin aksi bumi hangus di Ngilngof, andai kedua pastor tidak menyerahkan diri.

Matahari musim kemarau sedang garang membakar kulit. Penduduk desa dijemur sejak pagi di depan kediaman pastor. Sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak. Ada juga orang tua lanjut usia, termasuk Kun Kho dan Tjiau Kho yang tinggal di Ngilngof. Dua warga keturunan Tionghoa itu juga dianiaya tentara Dai Nippon.

Pada saat yang sama, semua laki-laki disuruh menghadap Komandan Tentara Dai Nippon di Namar. Situasi ini sangat mendebarkan. Mereka diteror dan diinterogasi satu demi satu. Dalam situasi antara hidup dan mati, mereka tetap teguh pegang rahasia.

Tentara Dai Nippon menggunakan samurai menampar Soa Leo Fofid sebagai pemimpin rombongan. Sebagian laki-laki diperintahkan mencari pastor di sekitar Danau Ablel. Sedangkan lainnya ditawan sebagai sandera.

“Jika kedua pastor tidak serahkan diri, maka kaum laki-laki yang ada akan dibantai beserta seluruh penduduk desa dan isinya,” begitulah ancaman tentara Jepang.

Mendapat teror demi teror, lagi-lagi para pemuda tetap bersikukuh. Mereja siap mati demi menyelamatkan kedua pastor. Saat menghetahui situasi yang kian gawat, kedua pastor akhirnya memilih menyerah kepada Jepang.

“Lebih baik kami jadi korban, daripada mengorbankan jiwa ratusan umat,” begitu ucapan mereka.

Para pemuda dan dua pastor sempat saling bertahan. Para pemuda rela berkorban asal dua pastor selamat, sebaliknya kedua pastor tidak rela umat jadi korban smentara pastornya selamat.

Para pemuda akhirnya mengalah. Mereka ikut kemauan dua pastor. Mereka mengantar kedua pastor ke dalam kampung Ngilngof.

Sebelum sampai di Ngilngof, rombongan berhenti di satu tempat. Mereka menerima sakramen tobat dari kedua pastor. Demikian pula kedua pastor saling menerimakan sakramen tobat.

Begitu sampai di Ngilngof, Pastor Bedaux dan van Lith disambut tentara Jepang yang bengis. Mereka disiksa, dihantam, dipukul tanpa ampun. Setelah itu digiring ke Tual melalui jalan darat Namar.

Dengan linangan air mata, umat Katolik di Ngingof menyaksikan kedua pastor disiksa, dan dibawa pergi. Meskipun demikian, mereka terus berdoa demi keselamatan kedua pastor.

Pastor Bedaux dan Pastor van Lith ditahan di Tual, dipindahkan ke penjara Tantui, Ambon, dan akhirnya dipindahkan ke Makassar. Di sana mereka bertahan sampai datanglah hari pembebasan. Keduanya selamat, meskipun mendapat siksa yang hebat.

Acara peringatan 14 September

Kini, 81 tahun telah berlalu. Setiap tahun Umat Ngilngof menggelar acara peringatan, mengenang aksi heroik itu. Tepat pada 14 September 2023, acara digelar lebih meriah dari sebelumnya.

Acara peringatan itu diawali misa yang dipimpin oleh Pastor Skia Mangosombe Pr bersama tujuh pastor lain. Selanjutnya acara seremoni menampilkan drama pemuda Ngilngof, penyerahan piagam kepada ahli waris pemuda yang berjuang saat itu. Ada tarian, dan acara lainnya dari masing-masing lingkungan di Stasi Ngilngof.

Pj. Kepala Ohoi Ngilngof Andreas Resubun menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan untuk memperingati perjuangan pemuda dalam misi penyelamatan dua misionaris.

“Ini salah satu upaya pelestarian nilai-nilai perjuangan pemuda kita di masa lalu. Kiranya masyarakat di Ngilngof dapat melanjutkan dan mengikuti bagaimana perjuangan dan rasa rela berkorban para pemuda Ngilngof kala itu,” terang Resubun.

Sementara itu, di akhir misa peringatan di Gereja St. Maria Ngilngof, Pastor Skia mendeklarasikan acara peringatan tersebut sebagai kegiatan parokial. Bukan lagi hanya untuk umat Stasi Ngilngof.

“Kita naikkan status menjadi perayaan parokial, dengan tetap umat Stasi Ngilngof inilah yang memeloporinya dengan segala kekhasannya. Seterusnya kita melangkah lagi untuk menjadi perayaan tingkat wilayah,” pungkas Pastor Skia.

Resubun menambahkan, Pemerintah Ohoi Ngilngof memberikan dukungan penuh. Misalnya, mengadakan berbagai jenis kegiatan yang berkaitan dengan aki penyelamatan, seperti ziarah ke Vat Turut Dos dan Goa Elwew.

Vat Turut Dos adalah tempat para pemuda dankedua pastor menerima sakramen tobat. Sedangkan Goa Elwew adalah tempat ziarah yang dibangun tahun 1985 oleh para pemuda Ngilngof, di lokasi pesembunyian kedua pastor.

Dampak peristiwa heroik

Heroisme para pemuda Ngilngof dan kedua pastor sudah berlalu. Sudah 81 tahun kenangan itu. Kampung Ngilngof terus tumbuh dan berkembang. Kemajuan yang dicapai secara spiritual maupun bidang lainnya cukup baik. Bagi masyarakat Ngilngof, hal itu tidak dapat dilepaspisahkan dari peristiwa 1942.

Peristiwa itu tidak hanya melahirkan orang-orang Ngilngof “yang terberkati”,  tetapi juga memberkati. Berkat-berkat terus mengalir dari dan ke Ngilngof. Dari sana lahir uskup pertama dari Kei yang menjadi Uskup Auxilliaris di Keuskupan Amboina yakni Mgr. Yosep Tethool MSC.

Selain itu, ada juga pastor-pastor yang lahir dari rahim Ngilngof, yang berkarya bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Pada politik, birokrasi, TNI/Polri, terdapat daftar panjang puter-puteri Ngilngof yang menonjol.

“Tidak dapat disebutkan satu per satu, yang berkarya di seantero republik ini dan juga di luar negeri,” ungkap Resubun.

Editor: Labes Remetwa

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU