Ketua PDC: Secara Kasat Mata, Lebih dari Setengah Karang di Kei Sudah Rusak

Rahajaan optimis ekosistem laut Kei, terutama perairan karang, bisa pulih dalam waktu yang tidak lama. Namun, untuk mewujudkan pemulihan yang utuh, butuh kerja sama semua pihak.


Langgur, suaradamai.com – Ketua Polikant Diving Club (PDC) Jusron A. Rahajaan menyebut lebih dari setengah kondisi karang di Kepulauan Kei sudah rusak.

Menurut Rahajaan, ada sejumlah faktor yang mengakibatkan kerusakan pada karang. Namun, salah satu yang paling dominan terjadi di Kepulauan Kei adalah destructive fishing atau penangkapan ikan yang bersifat merusak.

Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) itu menambahkan, hingga kini, praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak – yang juga dikenal dengan illegal fishing (penangkapan ikan secara ilegal) – masih dilakukan oleh oknum-oknum nelayan tertentu.

“Mereka menggunakan bom ikan, potasium, dan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan,” ungkap Rahajaan kepada Suara Damai di Kantor Pusat Polikant, Rabu (24/5/2023).

Rahayaan menambahkan, hingga kini belum ada data yang valid soal sebaran kerusakan terumbu karang di Kepualauan Kei. Hal itu karena belum ada survei yang rinci dan menyeluruh yang bisa menginformasikan kondisi karang.

“Tetapi, secara kasat mata, kita bisa bilang bahwa lebih dari setengah perairan karang Kei itu memang rusak,” kata Rahajaan.

Klaim itu bukan isapan jempol belaka. Instruktur selam berlisensi B2 itu dan klub selamnya (dengan 200 anggota) sudah punya pengalaman mengeksplorasi banyak titik-titik penyelaman di Kepulauan Kei. Sedikit dari kegiatan penyelaman itu dipublikasikan di kanal YouTube PDC Polikant.

Mereka menemukan, misalnya pada suatu lokasi, memiliki karang yang cantik dan indah pada sisi tertentu sedangkan sisi lainnya hanya berupa patahan karang. Kondisi itu ditemukan di banyak lokasi.

“Kalau kita menyelam di pulau yang agak jauh dari pusat kota, airnya seperti aquarium, banyak karang dan biota. Tetapi, kalau menyelam di dekat kota, pasti kekeruhan tinggi, ada karang rusak,” tambah Rahajaan.

Harapan untuk pemulihan

Rahajaan optimis ekosistem laut Kei, terutama perairan karang, bisa pulih dalam waktu yang tidak lama. Namun, untuk mewujudkan pemulihan yang utuh, butuh kerja sama semua pihak.

Ia menjelaskan, Kepulauan Kei memiliki sirkulasi hidrooseanografi yang cukup baik, berhubungan langsung dengan Laut Banda, Laut Arafura, dan Laut Seram.

Sehingga pergerakan air di Kei memungkingkan adanya dukungan dari laut-laut tersebut yang memberikan nutrien bagi perairan Kepulauan Kei.

“Ini memudahkan pemulihan pantai yang rusak,” kata Rahajaan.

PDC, lanjut Rahajaan, punya pengalaman melakukan transplantasi karang dari stek hingga tumbuh karang baru dalam waktu cepat.

“Di (Pulau) Adrananan, mahasiswa bikin biorock (karang buatan), itu dalam empat bulan, pertumbuhannya (karang) muncul beberapa sentimeter,” kata Rahajaan mencontohkan.

Ia yakin, apabila semua pihak fokus menyelamatkan laut Kei, maka hanya butuh waktu 10 tahun kondisi ekologi bisa pulih.

Sebagai informasi, Polikant melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat telah berupaya melakukan pemulihan karang di sejumlah titik di Kepulauan Kei. Selain itu, juga memberikan pemahaman hukum bagi nelayan terkait dampak hukum dari aktivitas penangkapan ikan secara ilegal.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

WFA Segera Diterapkan Pemkab Aru, Tingkatkan Efisiensi-Kurangi Biaya Operasional

Sistem WFA memungkinkan pegawai untuk bekerja 3 hari di...

Bupati Kaidel: Musyawarah Adat Solusi Konflik Perbatasan Desa

Dobo, suaradamai.com - Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, memimpin...

Polikant Raih Predikat Baik Sekali Simkatmawa 2025, Wadir III: ke Depan Harus Unggul

Ia berharap, karena Polikant hari ini telah mencapai predikat...

Inovasi Yogurt Anggur Laut dan VCO Hasil PBL Bioteknologi Perikanan Polikant di Ngilngof

“Terutama untuk Desa Ngilngof sebagai tempat wisata. Ketika wisatawan...