KRI Malahayati 362 Tangkap Kapal Pengebom Ikan

KM. Nadia Jaya 01 melakukan pengeboman ikan di perairan Maluku Barat Daya sejak setahun terakhir.


Langgur, suaradamai.com – Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Malahayati 362 berhasil menangkap kapal pengebom ikan, KM. Nadia Jaya 01, di Pulau Serua, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada Selasa, (27/4/2021).

Penangkapan ini dilakukan pada saat kapal perang itu melaksanakan operasi Laga Jaya-21 di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada III.

Komandan Guspurla Koarmada III Laksma TNI Rudhi Aviantara menjelaskan, penangkapan ini dilakukan atas perintah Panglima Koarmada III.

“Panglima berdasarkan informasi dari Lantamal IX Ambon. Lantamal mendapat informasi dari masyarakat Pulau Serua, bahwa terjadi aktivitas pengeboman ikan yang merusak hampir seluruh terumbu karang di kawasan tersebut,” tutur Rudhi dalam konferensi pers di Dermaga Martadinata Lanal Tual, Kamis (29/4/2021).

Menurut Rudhi, akibat aktivitas pengeboman yang dilakukan hampir setahun terakhir itu, telah memusnahkan ikan dan biota laut lainnya. Dampak lain adalah berpotensi menghilangkan mata pencaharian nelayan setempat.

Sempat bersembunyi

Rudhi menambahkan, ketika tiba di Pulau Serua pada 27 April sekitar pukul 10.00 WIT, mereka berpapasan dengan KM. Nadia Jaya 01.

Dalam jarak sekitar 5 km, kapal motor berukuran 25 GT itu langsung balik arah ke timur pulau untuk bersembunyi.

Pasukan KRI kemudian mendekati sebuah kampung di sekitar dan mengumpulkan informasi tambahan.

“Kami tindaklanjuti informasi dari masyarakat. Ternyata kami temukan ada kapal, KM. Nadia Jaya 01, yang akan melaksanakan pengeboman ikan,” tutur Rudhi.

Temuan

Dari hasil pemeriksaan, tim menemukan bahan peledak berbahan urea yang dimasukan dalam 48 botol kaca, 17 jerigen, dan 10 botol plastik, serta ratusan detonator rakitan dari kembang api sebagai pemicu bahan peledak.

“Kemudian, bukti-bukti lainnya adalah, terdapat 1 ton ikan ekor kuning,” kata Rudhi.

Selain itu, seluruh dokumen kapal asal Sulawesi Selatan itu sudah kadaluarsa.

“Jadi ini kesalahannya sangat berlapis,” sambung dia.

Ancaman pidana

Atas perbuatan pengeboman ikan, lanjut Rudhi, 15 ABK kapal itu melanggar pasal 84  ayat 1 juncto pasal 8 ayat 1 UU nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 6 tahun.

Kemudian juga melanggar pasa 85 ayat 1 juncto pasal 9 ayat 1 UU nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 5 tahun.

Proses hukum selanjutnya diserahkan ke Lanal Tual untuk melaksanakan penyelidikan.

Untuk sementara, nahkoda dan 14 ABK ditahan di rumah tahanan Lanal Tual.

Nahkoda dan 14 ABK kapal pengebom ikan, KM. Nadia Jaya 01, ditangkap KRI Malahayati 362 di Pulau Serua, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada Selasa, (27/4/2021). Foto: Dokumentasi KRI Malahayati 362
Nahkoda dan 14 ABK kapal pengebom ikan, KM. Nadia Jaya 01, ditangkap KRI Malahayati 362 di Pulau Serua, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada Selasa, (27/4/2021). Foto: Dokumentasi KRI Malahayati 362

Patroli rutin

Rudhi mengatakan, kegiatan patroli ini dilakukan sepanjang tahun di wilayah Koarmada III, meliputi empat provinsi yakni Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sebab itu, dia juga minta bantuan masyarakat untuk melaporkan aktivitas penangkapan ikan ilegal dan tidak ramah lingkungan.

“Jangan takut untuk melaporkan kepada aparat TNI AL atau aparat lainnya bila menemukan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal,” ujar Jenderal AL bintang satu itu.

Dia juga mengimbau nelayan untuk berhenti menggunakan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, karena hanya akan merusak lingkungan dan menghilangkan mata pencaharian nelayan.

Editor: Labes Remetwa


Proses hukum selanjutnya diserahkan ke Lanal Tual untuk melaksanakan penyelidikan.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU