Melihat Desain Panggung MTQ Tual: Kolaborasi Hagia Sophia dan Adat Kei

Mulanya, Hagia Sophia dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit. Pada masa penaklukan Ottoman di Istanbul pada 1453, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid.


Tual, suaradamai.com – Pemerintah Kota Tual menggelar Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-7 tahun 2021 di Kecamatan Pulau-pulau Kur.

Pelaksanaan MTQ di Bumi Makara ini merupakan yang pertama kali agenda dua tahunan itu dilaksanakan di wilayah pulau-pulau, atau di luar pusat pemerintahan Kota Tual.

Selain memiliki peserta terbanyak dalam sejarah pelaksanaan MTQ di Kota Tual maupun Maluku Tenggara, desain panggung MTQ kali ini menarik perhatian banyak orang.

Hidayat Fakaubun, cucu sulung Alm. Hi. Abdul Mu’ti Fakaubun (desainer panggung utama MTQ pertama tingkat Provinsi di Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 1987), menghadirkan desain monumental pada MTQ pertama di Kur.

Hidayat mengkolaborasikan adat Kei dan Hagia Sophia, salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Hagia Sophia mulanya dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit atas perintah Kaisar Bizantiun Justinian I pada abad ke-6. Pada masa penaklukan Ottoman di Istanbul pada 1453, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid.

Pada 1935, Hagia Sophia diubah menjadi sebuah museum. Kini, bangunan bersejarah itu kembali mengumandangkan adzan pada 24 Juli 2021 lalu.

Bangunan yang terletak di Istanbul, Turki itu, kini bisa dilihat di panggung MTQ Kota Tual. Hidayat merancang bagian bumbungan panggung sama dengan Hagia Sophia.

“Latar belakang panggung yang didesain adalah masih berhubungan erat dengan tema pelaksanaan yakni ‘kembalinya Hagia Sophia dari hegemoni kaum liberalis'” jelas Hidayat dalam prolog tema panggung utama.

Masih di bumbungan panggung, terdapat replika Al-Qur’an yang ditempatkan di atas “lutak-lutak”, makanan khas masyarakat Kur.

Lutak-lutak merupakan makanan pelengkap berbahan campuran antara enbal dan kenari atau kacang.

Desain khas Kei juga terlihat pada dasar panggung. Panggung utama MTQ itu tampak mengarungi lautan dengan perahu “belan” raksasa.

Dalam tradisi Kei, perahu belan berfungsi sebagai alat transportasi, bahkan sebagai armada perang di zaman dulu.

Editor: Labes Remetwa


Hidayat Fakaubun, cucu sulung Alm. Hi. Abdul Mu’ti Fakaubun,  menghadirkan desain monumental pada MTQ pertama di Kur.


Baca juga:

Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Molo Sabuang untuk Karawai-Dosinamalu disaksikan Bupati Kaidel dan Masyarakat Aru

Bupati Kaidel mengembalikan keputusan adat ini kepada Dewan Adat...

Legislator Roland Kasihiw: PDIP Berdiri Teguh Bersama Rakyat, Tolak Pilkada Lewat DPRD

"PDI perjuangan menolak Pilkada dipilih oleh DPRD, karena kedaulatan...

WFA Segera Diterapkan Pemkab Aru, Tingkatkan Efisiensi-Kurangi Biaya Operasional

Sistem WFA memungkinkan pegawai untuk bekerja 3 hari di...

Bupati Kaidel: Musyawarah Adat Solusi Konflik Perbatasan Desa

Dobo, suaradamai.com - Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, memimpin...