Menuju Petani Mandiri, Yafawun Tidak Tunggu Pengadaan Bibit Distan

Petani Yafawun optimis mampu penuhi pasar bawang merah di Maluku Tenggara dan Kota Tual.

Laanggur, suaradamai.com – Tidak heran bila Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-Ketapang) Kabupaten Maluku Tenggara memberi perhatian lebih kepada petani Yafawun, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kabupaten Maluku Tenggara.

Petani Yafawun berhasil mencuri perhatian Distan berkat usaha dan optimisme mereka dalam memproduksi bawang merah.

Petani Yafawun mulai memproduksi bawang merah sejak 2016, dan meningkat pesat pada 2018 bersama dengan dua ohoi/desa lainnya di sentra produksi bawang merah Maluku Tenggara. Dua ohoi itu diantaranya Watngon dan Kamear. Ketiga ohoi ini masuk dalam satu kesatuan masyarakat adat Abean atau biasa disebut Abean Raya.

Produksi pada 2018 membludak, bahkan pasar Maluku Tenggara dan Kota Tual tidak mampu menyerap. Alhasil harga bawang diturunkan Rp10.000 – Rp.15.000/kg. Bahkan ada petani yang mencari jalan untuk jual ke luar daerah. Tidak sedikit juga bawang yang rusak begitu saja.

“Dengan hasil yang begitu banyak, para petani sempat kebingungan mau jual kemana. Mengingat pada waktu bersamaan, produk luar (impor) telah menguasai pasar lokal Maluku Tenggara,” tutur Ketua Kelompok Tani Ohoi (Desa) Yafawun, Nor Tharob baru-baru ini.

Saat itu, Petani dan Distan Malra meminta DPRD untuk menghentikan impor bawang merah tetapi upaya tersebut tidak berhasil. Akhirnya, harga bawang lokal diturunkan, dijual keluar, dan ada yang rusak.

Pasar (Mungkin) Terpenuhi, Produksi Turun Drastis

Pengalaman tahun 2018 belum meyurutkan semangat ketiga ohoi. Petani melanjutkan produksi pada tahun 2019. Sayangnya pengadaan bibit oleh Dinas Pertanian sudah terlambat – harusnya mulai tanam Mei tetapi molor sampai Agustus, bahkan September – akhirnya produksi menurun drastis.

Distan Malra menyebutkan produksi tahun tersebut tidak sampai 1 ton, atau hanya 299 kg. Sedangkan tahun 2018 mencapai 240 ton dengan luas lahan sekitar 50 ha.

“Bibit waktu itu datang terlambat. Akibatnya ada yang tanam di bulan Agustus dan ada juga yang di bulan September. Ya, seperti yang katong tahu kalau di bulan-bulan itu kan su musim panas, jadi hasil juga begitu kurang memuaskan seperti di tahun 2019,” kata Nor Tharob.

Walaupun demikian, Menurut Tharob pasokan bawang merah dari Ohoi Yafawun pada tahun 2019 masih dapat memenuhi permintaan pasar di Maluku Tenggara maupun Kota Tual. Tharob sendiri belum dapat memastikan dengan jelas jumlah produksi saat itu dan berapa daya serap pasar.

Sementara itu, produksi bawang merah di Kamear dan Watngon juga mengalami penurunan pada tahun 2019. Petani Watngon bahkan berencana untuk beralih ke produksi sayur-sayuran.

Bibit Aman, Lahan Bertambah

Menurut Tharob, petani Ohoi Yafawun saat ini tidak lagi bergantung pada penyaluran bibit dari Dinas Pertanian. Petani sudah mampu menyediakan bibit sendiri. Selain itu, ada juga bibit yang disimpan di rumah pengering bawang (instore dryer) yang siap ditanam.

“Teman-teman petani yang ada di ohoi ini sudah sediakan bibit sendiri. Jadi nanti saat waktunya untuk tanam, kita tanam tanpa harus tunggu lagi pengadaan bibit dari luar,” cetusnya.

Lahan yang digarap petani Yafawun juga meningkat. Bahkan melebihi gabungan lahan Abean Raya pada tahun 2018. Tahun 2020 ini tersedia, kurang lebih 60 hektar lahan di Yafavun.

Dengan ketersediaan bibit yang memadai dan luas lahan yang ada, Tharob optimis menghasilkan bawang merah 700 sampai 800 ton tahun ini.

Jumlah ini bahkan sudah melebihi daya konsumsi masyarakat di Malra yang hanya 270 – 300 ton per tahun – menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Tharob menjamin produksi bawang merah Yafawun saja sudah dapat menjawab permintaan pasar lokal. “Kalau cuman untuk mengisi kebutuhan di Pasar Langgur dan Tual, saya pikir dengan stok yang ada saat ini sudah lebih dari itu,” kata Tharob optimis.

Tharob menambahkan, di Maluku Tenggara ada tiga musim tanam atau tiga kali produksi bawang merah dalam setahun, dengan lama produksi masing-masing 2 bulan.

“Musim tanam pertama biasanya di bulan Januari-Februari dan panen berkisar Maret-April. Musim tanam kedua di Mei-Juni dan panen di Agustus-September. Sedangkan untuk musim tanam ketiga, terjadi biasanya di kala hujan pertama bulan Oktober dan akan dipanen pada bulan Desember,” jelas Tharob.

Meski punya tiga musim tanam, Tharob mengatakan, sampai hari ini petani hanya mampu memproduksi bawang merah dalam jumlah banyak pada Bulan Mei. Sedangkan Februari dan Oktober sedikit karena dipengaruhi musim penghujan dan kemarau.

“Saat panen, biasanya tidak langsung dijual. Karena harus tunggu kadar air dari bawang itu berkurang dulu baru bisa lepas ke Pasar. Satu bulan bawang itu disimpan, lalu di bulan keempat baru katong jual,” tambah Tharob. (gerryngamel/labesremetwa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU