Polikant Pacu Produktivitas Teripang Lewat Budidaya: Metode Penkultur

“Melalui budidaya, kita mampu menjaga komoditas unggulan daerah tetap lestari, salah satunya adalah teripang,” kata Zhaky.


Langgur, suaradamai.com – Produksi teripang di Kepulauan Kei setiap tahun makin menurun. Hal ini menjadi alasan bagi Politeknik Perikanan Negeri Tual untuk berupaya mencari jalan keluar mengatasi masalah tersebut. Salah satu cara adalah budidaya teripang dengan metode penkultur.

Penkultur adalah sistem budidaya dengan dinding terbuat dari jaring yang ditunjang oleh patok kayu/beton, sementara dasar kandang berupa dasar perairan. Sistem ini biasanya ditempatkan di perairan dangkal yang terlindung. Patok kayu/tembok ditancapkan dengan sedikit lebih tinggi dari pasang tertinggi.

 “Produksi teripang ini makin hari makin menurun. (Karena) kecenderungan nelayan itu menangkap dari alam dan tidak terkontrol, baik anakan teripang hingga induk yang sudah matang gonad dan siap memijah juga ditangkap semua,” kata Syahibul Kahfi Hamid, dosen Polikant, kepada suaradamai.com di ruang kerjanya, Kamis (5/11/2020).

Menurut Zhaky, sapaan Hamid, produksi teripang melalui metode budidaya lebih terjamin. Zhaky memiliki dua alasan sederhana. Pertama, dengan budidaya kita dapat menjaga lingkungan bawah laut. Kebiasaan nelayan membolak-balik karang untuk mengambil teripang berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan karang. Ini kemudian berdampak juga pada ekosistem di sekitarnya.

Kedua, produksi lebih cepat. Kata Zhaky, jika di alam teripang butuh waktu hingga satu tahun baru dipanen, maka di budidaya, dengan metode penkultur serta rekayasa manajemen pakan, hanya butuh waktu sekitar enam bulan.

Memanfaatkan bantuan dana dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemenristek/BRIN, melalui program pengembangan produk unggulan daerah (PPPUD) yang dimulai pada tahun 2018, Zhaky dan tim menggandeng mitra yang berdomisili di Langgur. Mereka Bersama-sama membangun dua unit penkultur dan mulai membudidaya teripang.

Perkembanganbiakan teripang di perairan Langgur rupanya sangat baik, teripang berkembang cepat dan banyak. Sehingga dua tahun terakhir ini tim dan mitra menambah jumlah penkultur, satu penkultur di tahun kedua. Dan tahun 2020 ini, tambah dua penkultur lagi. Jadi total ada lima penkultur yang masing-masing berukuran panjang 6 m dan lebar 6 m.

Pudir III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Perikanan Negeri Tual, Syahibul Kahfi Hamid, berpose di depan penkultur di perairan Langur. Foto: Dokumen Pribadi Syahibul Kahfi Hamid
Pudir III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Perikanan Negeri Tual, Syahibul Kahfi Hamid, berpose di depan penkultur di perairan Langur. Foto: Dokumen Pribadi Syahibul Kahfi Hamid

Zhaky, yang juga adalah Pudir III Bidang Kemahasiswaan Polikant, berharap langkah yang dilakukan oleh mereka dapat ditiru oleh nelayan dan pembudidaya di ohoi/desa-desa yang berada disepanjang garis pantai kepulauan kei. Dengan begitu, produksi teripang di Kepulauan Kei lebih meningkat dan lestari, serta ekosistem laut juga tetap terjaga.

Bantuan sarana pengasapan

Polikant terus mendukung usaha mitra. Tak hanya sebatas sarana budidaya, tim memberikan bantuan sarana pengasapan untuk pengeringan teripang. Alat ini juga merupakan hasil penelitian dari Polikant. Jika teripang diolah secara alami – dijemur di bawah sinar matahari atau diasap dengan alat tradisonal – membutuhkan waktu tiga sampai tujuh hari hingga kering, maka dengan menggunakan sarana pengasapan ini, hanya butuh waktu satu hari.

 “Alat ini gunanya mempercepat proses pengeringan teripang. Bahkan kadar air teripang kering sudah di bawah 15 persen. Jadi daya awetnya cukup lama, bahkan sampai satu tahun,” kata Zhaky.

Editor: Labes Remetwa


Keberhasilan Polikant dengan mitra membudidayakan teripang di Langggur diharapkan dapat menjadi contoh bagi ohoi/desa-desa lain.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU

error: Konten dilindungi !!
× Ada yang bisa dibantu?