Polikant bersama masyarakat di pesisir Ohoi/Desa Taar dan Teluk Un, Kecamatan Dullah Selatan, Kota Tual, mengubah berbagai jenis sampah menjadi barang berguna, seperti meja dan kursi.
Langgur, suaradamai.com – Program Studi (Prodi) Teknologi Kelautan (TKL) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) melalui program pengabdian kepada masyarakat, berupaya mengatasi jumlah timbulan sampah yang semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat.
Kali ini Polikant bersama masyarakat di pesisir Ohoi/Desa Taar dan Teluk Un, Kecamatan Dullah Selatan, Kota Tual, mengubah berbagai jenis sampah menjadi barang berguna, seperti meja dan kursi.
Pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan wujud nyata implementasi salah satu mata kuliah di Prodi TKL tentang dampak sampah bagi manajemen lingkungan pesisir.
Tim Pengabdian Prodi TKL Polikant yang terdiri atas enam dosen (Dortje Thedora Silubun, Rosita Silaban, Jusron A. Rahajaan, Johny Dobo, Anton Daud Kilmanun, dan Maria M. Ngamelubun) dan dua mahasiswa, melakukan sosialisasi dan pelatihan daur ulang sampah dalam kegiatan ibu-ibu wadah pelayanan perempuan di Jemaat Tual, September 2022 lalu.
“Setelah kegiatan peribadatan, kami melakukan sosialisasi tentang dampak sampah bagi masyarakat, kemudian bagaimana pemanfaatan sampah supaya tidak merusak lingkungan,” jelas Ketua Tim Pengabdian Prodi TKL Polikant Dortje Thedora Silubun, kepada Suaradamai.com, Jumat (21/7/2023).
Sebagai implementasi dari sosialisasi yang diberikan, Tim Pengabdian juga mengajarkan cara pembuatan ecobrick. Ecobrick ini yang digunakan sebagai bahan utama dalam merakit berbagai jenis barang berguna. Salah duanya seperti meja dan kursi.
Secara sederhana, ecobrick merupakan botol plastik yang dipadatkan dengan plastik bekas. “Sampah rumah tangga, misalnya bekas camilan, kemasan kopi dan sampah kering (plastik) lainnya, dimasukkan ke dalam botol plastik, dipadatkan,” kata Silubun menjelaskan singkat cara pembuatan ecobrick.
Adapun pembuatan ecobrick, bisa dibuat untuk botol plastik berbagai ukuran. Ecobrick tersebut selanjutnya disatukan dengan perekat dengan memperhatikan bentuk barang yang mau dihasilkan.
“Itu kami rekatkan dengan lakban supaya (ecobrick) tidak bergeser. Selanjutnya di atasnya kami tempatkan triplek dan kemudian dilapisi dengan kain,” terang Silubun menjelaskan cara pembuatan meja.
Masyarakat sangat antusias. Bahkan meminta Tim Pengabdian untuk juga memberikan pencerahan tentang pengelolaan sampah organik.
Silubun berharap, melalui program pengabdian ini, bersama-sama masyarakat bisa mengurangi jumlah sampah di lingkungan.
Editor: Labes Remetwa
Baca juga:





